
bongkah.id – Industri perfilman nasional kembali menghadirkan karya yang mengangkat kekayaan budaya daerah.
Kali ini, Skak Studios bersama Sinemart mempersembahkan Foufo, film komedi fiksi ilmiah (sci-fi) yang menjadikan bahasa Madura sebagai bahasa utama, dipadukan dengan bahasa Indonesia dan dialek khas Surabaya.
Film garapan sutradara Bayu Skak ini diharapkan menjadi kebanggaan masyarakat Madura, Surabaya dan Jawa Timur karena melibatkan banyak talenta lokal, baik di depan maupun di balik layar.
Sebelum tayang secara nasional, Surabaya dipilih sebagai kota pertama penyelenggara special screening – penayangan perdana.
Pemilihan Kota Pahlawan dinilai bukan tanpa alasan, mengingat sebagian besar proses pencarian pemain hingga pengembangan produksi melibatkan masyarakat Jawa Timur.
“Surabaya adalah bagian penting dari perjalanan Foufo. Antusiasme masyarakat luar biasa. Saat kami membuka open casting, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 2.500 orang. Itu menjadi rekor bagi kami,” kata Bayu Skak saat konferensi pers di Kencana Baja Hall, Jalan Bubutan 127, Surabaya, Sabtu (27/6/2026).
Besarnya minat masyarakat tersebut dimanfaatkan tim produksi untuk mencari wajah-wajah baru.
Hasilnya, sekitar 80 persen pemain dalam film Foufo merupakan pendatang baru yang lolos melalui proses audisi terbuka.
Langkah itu sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat umum yang selama ini belum pernah terlibat dalam industri perfilman untuk menunjukkan kemampuan akting mereka.
Salah satu pemeran yang mencuri perhatian adalah Siti Kam (63), yang dipercaya memerankan tokoh Ibu Saiqona. Dalam film tersebut, ia berperan sebagai seorang ibu sederhana yang memiliki impian besar untuk menunaikan ibadah haji.
“Ini pengalaman pertama saya bermain film. Rasanya bangga sekali bisa ikut berkarya bersama teman-teman dari Madura, Surabaya dan Jawa Timur,” ujar Siti Kam.
Komitmen memberdayakan potensi lokal tidak hanya terlihat pada pemilihan pemain. Untuk kebutuhan efek visual, khususnya desain karakter alien bernama Foufo, tim produksi menggandeng studio animasi lokal Surabaya, Hompimpa.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa industri kreatif di daerah memiliki kemampuan menghasilkan karya berkualitas dan mampu bersaing dengan rumah produksi maupun studio animasi berskala nasional.
Di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), kreativitas para animator lokal tetap menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan karakter yang memiliki sentuhan artistik dan emosional.
Film Foufo mengangkat kisah Muslim, yang diperankan Tretan Muslim, seorang pemuda Madura yang bekerja sebagai pengepul barang rongsokan. Seluruh perjuangannya diarahkan untuk membantu melunasi biaya haji sang ibu.
Kehidupan Muslim kemudian berubah ketika bertemu seekor alien bernama Foufo yang memiliki teknologi canggih. Kehadiran makhluk luar angkasa itu semula menjadi solusi berbagai persoalan yang dihadapi keluarga Muslim.
Namun cerita berkembang menjadi lebih emosional ketika sumber energi Foufo mulai habis tepat menjelang pelunasan biaya haji.
Dalam situasi tersebut, Muslim harus mengambil keputusan yang tidak mudah, antara memenuhi impian ibunya berangkat ke Tanah Suci atau menyelamatkan sahabat aliennya agar dapat kembali ke kapal induk.
Bagi Tretan Muslim, film ini menjadi tantangan baru dalam perjalanan kariernya karena untuk pertama kalinya ia dipercaya sebagai pemeran utama layar lebar.
Selain dituntut membangun emosi karakter, ia juga harus berakting menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni bahasa Madura, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa dialek Surabaya.
“Foufo membuktikan bahwa talenta dari Surabaya, Madura dan Jawa Timur mampu memberikan penampilan terbaik. Saya berharap masyarakat bangga karena film ini lahir dari kreativitas anak-anak daerah,” ujarnya.
Melalui Foufo, Skak Studios kembali menunjukkan konsistensinya mengangkat cerita-cerita lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat tanpa kehilangan daya tarik untuk dinikmati penonton nasional.
Penggunaan bahasa daerah, karakter lokal serta keterlibatan sumber daya kreatif dari Jawa Timur menjadi kekuatan yang membuat film ini tampil lebih autentik.
Film komedi melodrama berbalut fiksi ilmiah tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026, sekaligus menjadi salah satu karya yang memperkaya keberagaman bahasa dan budaya Indonesia di layar lebar.




























