CINEPRIME #3 menghadirkan tujuh film pendek karya siswa SMKN 12 Surabaya di bioskop Cinépolis
Ajang CINEPRIME #3 menayangkan tujuh film pendek karya siswa Jurusan Produksi Film SMKN 12 Surabaya di bioskop Cinépolis Surabaya sebagai bagian dari Rolas Art Festival 2026.

bongkah.id – Sinema pelajar kembali menemukan ruang apresiasinya melalui CINEPRIME #3 bertema “Stoa di Kota” yang digelar SINEMAROLAS pada 19–20 Mei 2026 di gedung bioskop Cinépolis Surabaya.

Ajang gala premier tahunan karya siswa Jurusan Produksi Film SMKN 12 Surabaya itu menjadi penutup rangkaian Rolas Art Festival 2026 dengan menayangkan tujuh film pendek dari beragam genre.

ads

Tidak sekadar pemutaran film pelajar, CINEPRIME #3 menghadirkan sinema sebagai ruang dialog, refleksi, dan kontemplasi generasi muda terhadap kehidupan kota yang penuh perubahan sosial, konflik, harapan, hingga kegelisahan eksistensial.

Tema “Stoa di Kota” diambil dari gagasan stoa dalam tradisi filsafat Yunani, yakni ruang untuk berdialog dan merenung.

Melalui tema itu, para siswa diajak membaca kota bukan hanya sebagai latar cerita, melainkan sebagai ruang hidup yang membentuk emosi dan cara manusia memahami dirinya sendiri.

Tujuh film yang diputar dalam ajang tersebut yakni “Sampai Tujuan” karya Pesawat Kertas, “Hadiah Malam Lebaran” produksi Lakara Production, “Luka Dalam Coretan” dari One Production, “Kronosia Sebelum Dering” garapan Hitam Putih Sinema.

Ada “Saksi Tengah Malam” produksi Bumi Cendana, “Keluarga Bencana” karya Daun Semanggi Production, serta “The House After You” dari Jingga Film.

Dari tujuh film yang ditampilkan, dua di antaranya menyita perhatian karena mengangkat ketegangan psikologis dan problem keluarga urban dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Saksi Tengah Malam” garapan sutradara Abdiel Fallo menghadirkan cerita mencekam tentang Bu Asih, pemilik laundry kecil yang tanpa sengaja menyaksikan sebuah pembunuhan dari jendela rumahnya.

Sejak malam itu, hidupnya berubah menjadi ancaman. Terjebak di rumahnya sendiri, ia dipaksa memilih antara bersembunyi atau melawan. Film produksi Bumi Cendana tersebut diproduseri Hanifah Nia dengan naskah karya Elis Nuraini.

Nuansa thriller dibangun melalui ruang sempit rumah sederhana yang berubah menjadi arena ketakutan dan perjuangan bertahan hidup.

Sementara itu, “Keluarga Bencana” karya Daun Semanggi Production menawarkan potret keluarga kecil urban yang hangat sekaligus getir.

Film arahan Paulus Arnold itu berkisah tentang Coki dan Anggun yang tinggal bersama Kelik dan Ayu di rumah mungil yang juga difungsikan sebagai toko fotokopi.

Keterbatasan ruang membuat pasangan tersebut berharap bisa menikmati waktu bersama ketika Kelik pergi study tour. Namun harapan sederhana itu justru terganggu oleh peristiwa tak terduga yang menguji kekuatan kebersamaan keluarga mereka.

Film yang diproduseri Kania Nilam dan ditulis Orizativa Maheswara tersebut menyoroti realitas keluarga perkotaan kelas menengah bawah yang akrab dengan himpitan ekonomi, sempitnya ruang hidup, dan kerinduan akan kebersamaan.

Penyelenggaraan CINEPRIME #3 juga menjadi penanda perjalanan akademik para siswa setelah melewati proses panjang mulai pengembangan ide, penulisan skenario, produksi, hingga pascaproduksi. Seluruh karya akhirnya dipertemukan dengan publik dalam format layar lebar bioskop.

Melalui ajang ini, SINEMAROLAS menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan film yang relevan dengan perkembangan industri kreatif sekaligus membuka ruang temu antara dunia pendidikan, komunitas seni, media, keluarga, dan masyarakat.

CINEPRIME #3 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan karya film pelajar, tetapi juga penanda lahirnya generasi baru sineas Indonesia yang berani menghadirkan gagasan, sensitivitas sosial, dan perspektif segar bagi masa depan perfilman nasional. (kim)

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini