Beragam jenis pupuk produksi Indonesia.

bongkah.id – Krisis global menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok pupuk dunia.

Namun ironi, ketika dunia berebut pupuk Indonesia, produsen dalam negeri justru kesulitan produksi karena mahalnya biaya produksi.

ads

Industri pupuk nasional tengah menghadapi tekanan berat di tengah lonjakan permintaan global.

Produsen dalam negeri justru kesulitan meningkatkan produksi akibat mahalnya bahan baku, terutama gas alam yang menjadi komponen utama dalam proses pembuatan pupuk.

Kondisi ini terjadi saat pasar internasional mengalami gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi dan pupuk dunia.

Dampaknya, sejumlah negara seperti India dan Australia kini berebut pasokan pupuk dari Indonesia.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang diandalkan untuk menutup kekurangan pasokan global.

“Pemerintah India sudah menghubungi kami. Filipina dan Australia mereka siap membeli dengan harga berapa pun,” ujarnya.

Lonjakan permintaan tersebut bahkan membuat rencana penutupan sejumlah pabrik pupuk domestik dibatalkan.

“Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan untuk kita suntik mati, sekarang tidak jadi. Karena ada permintaan yang tinggi,” tambahnya.

Terjepit di Tengah Peluang

Di satu sisi, krisis global membuka peluang ekspor yang besar. Pemerintah menargetkan ekspor pupuk hingga 1,5 juta ton dalam waktu dekat.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyebut kapasitas produksi nasional sebenarnya cukup memadai.

“Yang penting Indonesia aman dulu baru ekspor,” katanya.

Namun di sisi lain, industri pupuk menghadapi tekanan biaya yang tidak ringan. Kenaikan harga gas alam—sebagai bahan baku utama—membuat biaya produksi melonjak.

Situasi ini menciptakan tekanan ganda, yakni biaya produksi meningkat sedangkan harga jual sulit bersaing di pasar global.

Harga Urea Meroket

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kebutuhan pupuk domestik tetap menjadi prioritas utama.

“Aman, aman (harga pupuk tidak akan terkoreksi),” kata Amran.

Pemerintah juga telah menyiapkan sekitar 9,8 juta ton pupuk subsidi untuk menjaga produktivitas sekitar 14 juta petani di seluruh Indonesia.

Secara global, gangguan distribusi pupuk akibat krisis di Selat Hormuz telah mendorong harga urea melonjak hingga dua kali lipat.

Sejumlah negara besar seperti Brasil, India, hingga Amerika Serikat turut terdampak.

Namun, di tengah peluang tersebut, industri pupuk Indonesia masih dibayangi persoalan struktural. Antara lain ketergantungan pada bahan baku energi. Harga gas domestik yang belum kompetitif juga beban distribusi dan subsidi.

Tanpa pembenahan di sektor hulu, lonjakan permintaan global ini bisa jadi hanya angin surga. (kim)

25

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini