Bupati Subandi terlihat bahagia bertemu dengan motor dua tak di even Jayandaru Vol 1 All 2 Stroke, Minggu (31/5/2026)

bongkah.id – Deru mesin dua tak memecah suasana Minggu pagi di kawasan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Sidoarjo. Di antara kepulan asap tipis dan barisan motor lawas yang mengilap, ratusan pehobi dari berbagai daerah berkumpul.

Mereka membawa satu kesamaan kecintaan pada kendaraan yang pernah menjadi ikon jalanan Indonesia. Gelaran Sidoarjo Jayandaru Vol 1 All 2 Stroke pada Minggu (31/5/2026) ini bukan sekadar ajang pamer motor.

ads

Bagi banyak peserta, acara ini adalah ruang untuk menghidupkan kembali kenangan dan berbagi cerita. Sekaligus menjadi wadah merawat warisan budaya otomotif yang masih bertahan hingga kini.

Di tengah keramaian itu, Bupati Sidoarjo Subandi tampak larut dalam suasana. Sesekali ia memperhatikan detail motor yang dipajang, lalu berbincang akrab dengan anggota komunitas yang datang dari berbagai kota.

Suara khas motor dua tak rupanya membawa ingatannya kembali ke masa remaja. Ia mengenang periode ketika kendaraan-kendaraan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak muda pada zamannya.

“Saya itu mulai kecil, mulai SMP sudah suka dunia otomotif. Waktu SMA sering ikut kegiatan bersama teman-teman yang memiliki hobi yang sama,” ujarnya di lokasi acara.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga awal 2000-an, motor dua tak memiliki tempat yang sulit tergantikan. Nama-nama seperti Suzuki RGR-150, Yamaha RX-King, hingga Yamaha F1ZR bukan sekadar produk kendaraan, melainkan bagian dari identitas sebuah generasi.

Subandi mengaku pernah memiliki Suzuki RGR-150 yang menjadi salah satu motor favoritnya saat muda. Melihat kembali motor-motor serupa di acara ini menghadirkan pengalaman yang terasa personal sekaligus emosional baginya.

Namun seiring berjalannya waktu, wajah komunitas otomotif pun ikut berubah. Jika dulu motor sering identik dengan adrenalin anak muda, kini banyak komunitas justru mengembangkan aktivitas yang lebih terarah. Mulai dari touring wisata, bakti sosial, kegiatan edukasi, hingga pelestarian kendaraan klasik.

Perubahan itulah yang menurut Subandi perlu terus dijaga. Kecintaan terhadap motor dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan kegiatan positif di tengah masyarakat.

“Nah, ini mengingatkan masa lalu. Tapi saya mengharapkan jangan kebut-kebutan. Sudah nggak zamannya lagi. Mari kita nikmati kendaraan dua tak ini untuk berekreasi dengan keluarga,” kata Subandi berpesan.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang kini berkembang di berbagai komunitas dua tak. Motor tidak lagi sekadar soal performa mesin, tetapi juga menjadi media silaturahmi yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Di usia 54 tahun, Subandi mengaku dirinya masih menyimpan kecintaan yang besar terhadap motor dua tak. Menurutnya, hobi ini membuktikan bahwa sebuah ketertarikan dapat bertahan lintas usia dan generasi.

“Penggemar dua tak itu tidak melihat usia. Saya usia 54 tahun masih pecinta dua tak seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Pada akhirnya, Sidoarjo Jayandaru Vol 1 All 2 Stroke memperlihatkan bahwa motor dua tak belum kehilangan pesonanya. Di balik suara mesin yang khas, tersimpan cerita tentang persahabatan, perjalanan hidup, dan kenangan yang terus dirawat para pemiliknya.

Sebab bagi para pecinta dua tak, yang dipertahankan bukan hanya kendaraan lawasnya. Melainkan juga kisah-kisah yang tumbuh bersama setiap putaran roda dan deru mesin yang hingga kini masih mampu membangkitkan rasa rindu pada sebuah masa. (wardianto)

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini