
bongkah.id – Di tengah kemajuan teknologi dan hiburan modern, wayang kulit masih bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang hidup di kawasan Nusantara.
Di sudut area pusat perjudian Genting Highland digelar pameran wayang dan tenun khas Malaysia. Inilah reportase di selah waktu mempersiapkan materi pameran Malaysia Highest Flower Exhibition berlangsung di Resort World Awana, Genting Highland, Malaysia, 3 – 7 Juni 2026.
Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki tradisi wayang kulit yang berasal dari akar budaya yang serupa. Namun, perjalanan sejarah yang berbeda membuat keduanya berkembang dengan karakter khas masing-masing.
Sekilas, wayang kulit Malaysia tampak berbeda dari wayang kulit Jawa yang lebih dikenal masyarakat Indonesia.
Tokoh-tokohnya memiliki warna yang lebih cerah dan mencolok. Merah, hijau, kuning, dan hitam dipadukan secara berani sehingga menghadirkan kesan hidup dan ekspresif.
Bentuk wajahnya pun lebih tegas, dengan mata besar dan hidung menonjol, membuat karakter mudah dikenali penonton.
Perbedaan itu terlihat jelas pada koleksi wayang yang banyak ditemukan di Malaysia, khususnya dalam tradisi Wayang Kelantan.
Jika wayang Jawa menampilkan garis-garis halus dan simbolisme yang mendalam, wayang Malaysia cenderung lebih komunikatif dan langsung menyampaikan karakter tokohnya.
Meski tetap mengambil kisah-kisah besar seperti Ramayana, pertunjukan wayang kulit Malaysia telah beradaptasi dengan budaya Melayu.
Dialog, humor, dan nilai-nilai yang disampaikan disesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat. Bahkan tokoh-tokoh jenaka yang muncul dalam pertunjukan berbeda dengan punakawan Jawa seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Dalam pementasannya, dalang wayang Malaysia juga dikenal lebih dinamis. Bahasa daerah Melayu digunakan secara aktif, diselingi humor dan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat pertunjukan terasa akrab dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Pada akhirnya, wayang kulit Malaysia dan Indonesia adalah dua cabang dari pohon budaya yang sama. Indonesia dikenal melalui kehalusan bentuk dan kedalaman filosofinya, sementara Malaysia menonjolkan warna yang berani, karakter yang ekspresif, dan sentuhan budaya Melayu yang kuat.
Perbedaan itu bukanlah jarak pemisah, melainkan bukti kekayaan kreativitas budaya serumpun yang terus berkembang mengikuti zamannya. (RokimDakas)



























