
bongkah.id — Aksi membagikan 1 juta butir telur gratis yang dilakukan ratusan peternak ayam petelur di Blitar Raya akhirnya mendapat perhatian pemerintah pusat.
Setelah para peternak turun ke jalan memprotes anjloknya harga telur yang berada di bawah biaya produksi, pemerintah menginstruksikan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap telur dari daerah sentra produksi, khususnya di Blitar.
Merespons situasi itu, pemerintah telah berkoordinasi dengan Kepala BGN agar jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah terdampak wajib menyerap telur peternak.
“Kemarin ada beberapa daerah terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan Kepala BGN yang baru, bahwa SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur,” kata Menteri Perdagangan, Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Aksi damai peternak telur digelar pada Senin (1/6/2026) oleh peternak skala kecil dan menengah dari Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri hingga Malang.
Sebanyak 1 juta butir telur atau sekitar 62,5 ton dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol protes atas harga jual telur yang terus merosot selama dua bulan terakhir.
Koordinator aksi, Suyanto, mengatakan harga telur di tingkat kandang saat ini hanya berkisar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang mencapai Rp23.000 per kilogram.
Dia menyebut harga telur sudah sekitar dua bulan ini jatuh di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah. Pada saat yang sama harga pakan naik.
Kondisi tersebut membuat peternak menanggung kerugian pada setiap kilogram telur yang dijual. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kerugian peternak mencapai sekitar Rp2.000 per kilogram.
Menurut Budi, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga pangan sekaligus melindungi peternak dari tekanan kelebihan pasokan. Selain melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah juga membuka kemungkinan menjadikan telur sebagai salah satu komoditas bantuan pangan ketika harga di tingkat peternak mengalami penurunan tajam.
“Ketika harga telur sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti minyak atau beras, tapi bisa juga telur,” katanya.
Ia menjelaskan produksi telur nasional saat ini masih mengalami surplus. Karena itu, pemerintah akan membenahi mekanisme penyerapan agar kelebihan produksi tidak terus menekan harga di pasar.
Selain telur, pemerintah juga akan mengoptimalkan penyerapan komoditas pangan lain seperti daging ayam apabila harga jatuh di bawah tingkat yang layak bagi peternak.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Blitar turut mendorong perluasan penyerapan telur melalui SPPG dan jaringan Koperasi Merah Putih. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menyalurkan produksi peternak sekaligus mengembalikan harga telur ke level yang lebih menguntungkan bagi peternak rakyat. (wardianto)

























