
bongkah.id – Saat malam mulai turun di Surabaya, aroma masakan dari warung-warung kaki lima di Jalan Kedungdoro dan Jalan Genteng masih menjadi magnet bagi para pemburu kuliner. Di tengah gempuran restoran modern dan kafe kekinian, dua kawasan ini tetap bertahan sebagai destinasi kuliner malam legendaris yang tak lekang oleh waktu.
Tak sedikit wisatawan menyebut Surabaya sebagai “Republik Badhogan”. Julukan itu lahir dari ragam kuliner yang hidup di Kota Pahlawan, mulai rawon, rujak cingur, soto ayam, sate, nasi goreng, hingga aneka hidangan khas Jawa Timur yang mudah ditemukan hingga larut malam.
Di antara banyak pusat kuliner yang tumbuh, Kedungdoro dan Genteng memiliki tempat tersendiri dalam sejarah kuliner Surabaya. Kedua kawasan tersebut telah puluhan tahun menjadi ruang berkumpul warga, pekerja malam, hingga wisatawan yang ingin menikmati sajian khas dengan harga terjangkau.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memastikan kawasan kuliner malam di Kedungdoro dan Genteng tetap beroperasi. Menurutnya, keberadaan kawasan tersebut memiliki landasan hukum yang telah ditetapkan sejak beberapa dekade lalu dan menjadi bagian dari identitas kuliner kota.
“Di Jalan Kedungdoro dan Genteng itu ada SK sejak zaman Wali Kota Poernomo Kasidi dan kemudian diperkuat pada masa Pak Narto sebagai kawasan kuliner malam Kota Surabaya,” ujarnya.
Keberadaan kuliner malam di dua kawasan tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari warisan budaya perkotaan yang tumbuh bersama perkembangan Surabaya. Dari generasi ke generasi, kawasan ini menjadi tujuan warga yang mencari hidangan hangat selepas bekerja maupun tempat berkumpul bersama keluarga dan sahabat.
Meski tetap dipertahankan, Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan penataan agar aktivitas kuliner berjalan tertib. Pedagang diminta menjaga kebersihan lingkungan, tidak menggunakan trotoar sebagai area berjualan, serta memastikan aktivitas usaha tidak mengganggu lalu lintas.
Bagi pecinta kuliner, Kedungdoro dan Genteng menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Pengunjung dapat menikmati suasana khas Surabaya pada malam hari sambil mencicipi berbagai menu tradisional yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Di tengah perubahan wajah kota dan perkembangan industri kuliner modern, Kedungdoro dan Genteng menjadi bukti bahwa cita rasa legendaris masih memiliki tempat di hati masyarakat. Kawasan ini bukan hanya destinasi makan malam, tetapi juga bagian dari memori kolektif warga Surabaya yang terus hidup hingga hari ini.





























