bongkah.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, bangsa-bangsa yang mampu mempertahankan identitas budayanya justru tampil sebagai negara yang memiliki karakter kuat.
China tetap setia menggunakan aksara Han, Jepang mempertahankan Kanji, Hiragana, dan Katakana, Korea menjaga Hangul sebagai kebanggaan nasional, Thailand melestarikan aksara Thai, sementara India terus mengembangkan berbagai aksara warisan leluhurnya.
Kemajuan ekonomi dan teknologi di negara-negara tersebut berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap akar budayanya.
Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan aksara tradisional yang tidak kalah bernilai. Salah satunya adalah Aksara Kawi yang pernah menjadi media pencatat perjalanan peradaban Nusantara.
Karena itu, pelestarian aksara kuno bukan sekadar menjaga peninggalan sejarah, melainkan membangun fondasi karakter bangsa melalui penguatan identitas budaya, literasi sejarah, dan penghargaan terhadap warisan leluhur.
Semangat itulah yang mendorong Anggota DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendampingi pegiat Yayasan Satria Lelaku Nusantara menemui Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Dalam audiensi tersebut dipaparkan inisiatif pendirian Portal Media Aksara Kawi sebagai sarana edukasi, dokumentasi, sekaligus penggerak regenerasi pembaca aksara kuno.
LaNyalla, yang juga Pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara, mengatakan dirinya sengaja mempertemukan para pegiat Aksara Kawi dari Jawa Timur dengan Menteri Kebudayaan agar gerakan pelestarian memperoleh dukungan yang lebih luas dari pemerintah.
“Aksara Kawi merupakan bagian penting dari warisan kebudayaan Indonesia. Aksara ini berkembang di Pulau Jawa dan digunakan sekitar abad ke-8 hingga ke-16 Masehi. Karena itu, pelestariannya perlu menjadi perhatian bersama,” ujar LaNyalla.
Menurutnya, Aksara Kawi merupakan kunci untuk membaca kembali jejak peradaban Nusantara yang tersimpan dalam berbagai prasasti.
“Dari pembacaan prasasti beraksara Kawi kita dapat mengetahui nilai-nilai budaya, tata kehidupan masyarakat, sistem pemerintahan, hingga berbagai pencapaian teknologi yang dimiliki para leluhur,” katanya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik inisiatif tersebut. Bahkan, ia menilai Aksara Kawi layak menjadi salah satu prioritas yang diajukan melalui skema Urgent Safeguarding UNESCO sebagai warisan budaya yang memerlukan perlindungan.
“Ini termasuk yang perlu kami prioritaskan untuk diajukan ke UNESCO,” ujar Fadli.
Dukungan juga datang dari Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, yang menyatakan kesiapan kementerian untuk berkolaborasi dengan para pegiat pelestarian Aksara Kawi.
“Kami siap berkolaborasi dengan teman-teman dari Jawa Timur,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Yayasan Satria Lelaku Nusantara akan menggelar Srawung Budaya Aksara Kawi di Gedung MCC Kota Malang pada 5 Juli 2026.
Dalam agenda tersebut juga akan dilakukan soft launching Portal Media Aksara Kawi yang dipimpin Rachmad Setiawan.
Portal media itu diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, filolog, budayawan, guru, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat luas untuk memperkuat literasi Aksara Kawi serta mendokumentasikan berbagai kajian mengenai warisan budaya Nusantara.
Yayasan Satria Lelaku Nusantara juga membuka kesempatan kepada seluruh pegiat Aksara Kawi untuk bergabung dalam gerakan pelestarian tersebut.































