Di Google Maps, Balai Budaya Surabaya berubah jadi "Gedung Gombloh".

bongkah.id – Publik dikejutkan sekaligus dibuat senang setelah nama Balai Budaya di kompleks Balai Pemuda Surabaya mendadak berubah menjadi “Gedung Gombloh” di Google Maps, Kamis (30/7/2026).

Perubahan yang belum disertai pengumuman resmi itu memicu rasa penasaran sekaligus harapan banyak warga agar nama musisi legendaris asal Surabaya tersebut benar-benar diabadikan sebagai bagian dari identitas kota.

ads

Kemunculan nama “Gedung Gombloh” di Google Maps sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Banyak warga awalnya mengira Pemerintah Kota Surabaya telah resmi mengganti nama Balai Budaya Surabaya sebagai bentuk penghormatan kepada Gombloh, musisi yang dikenal melalui lagu-lagu sarat kritik sosial, nasionalisme, dan kecintaan terhadap lingkungan.

Kehebohan itu bermula dari unggahan akun Facebook Roy Pamungkas yang memperlihatkan tangkapan layar Google Maps.

Dalam aplikasi tersebut, bangunan yang selama ini dikenal sebagai Balai Budaya Surabaya tercantum dengan nama “Gedung Gombloh, Surabaya, East Java.”

Unggahan itu dengan cepat menyebar dan menuai beragam komentar. Sebagian warganet mengaku bangga apabila penghormatan tersebut benar-benar diwujudkan.

Namun, sebagian lainnya mempertanyakan apakah perubahan itu merupakan keputusan resmi pemerintah atau sekadar pembaruan data pada layanan peta digital.

“Kok jadi Gedung Gombloh?” tulis salah seorang pengguna media sosial. Pengguna lain mengaku baru menyadari perubahan itu saat melintas di kawasan Balai Pemuda.

Meski menjadi perhatian publik, hingga Kamis sore belum ada penjelasan resmi mengenai perubahan nama tersebut.

Saat dikonfirmasi, pihak pengelola Balai Budaya Surabaya memilih tidak memberikan keterangan. “Izin, yang berwenang menjawab bukan kami,” ujar pihak pengelola.

Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya, Heti Palestina Yunani, juga mengaku belum mengetahui adanya perubahan nama yang muncul di Google Maps.

“Belum,” jawab Heti singkat saat dimintai konfirmasi.

Bukan Muncul Tiba-tiba

Di balik viralnya nama “Gedung Gombloh”, ternyata terdapat proses panjang yang telah dimulai sebelumnya.

Pada 15 Juli 2026, komunitas penggemar Gombloh, Memories of Gombloh (Mogers), melakukan audiensi dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Surabaya bersama Dewan Kebudayaan Surabaya.

Dalam pertemuan itu, Mogers menyampaikan tiga usulan sebagai bentuk penghormatan kepada Gombloh.

Pertama, menyematkan nama Gombloh pada salah satu gedung di kompleks Balai Pemuda. Kedua, memberikan nama Gombloh pada salah satu ruas jalan di Surabaya. Ketiga, menetapkan 12 Juli—hari kelahiran Gombloh—sebagai Hari Musik Surabaya atau Hari Gombloh.

Ketua Mogers, Esthi Susanti Hudiono, menilai karya-karya Gombloh layak mendapat penghargaan lebih besar dari Kota Surabaya.

Menurutnya, lagu-lagu Gombloh tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun semangat nasionalisme, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap lingkungan.

Usulan tersebut mendapat respons positif, namun tetap harus melalui kajian.

Sejarawan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya, Prof. Purnawan Basundoro, menilai Gombloh merupakan tokoh berskala nasional yang layak memperoleh penghargaan.

Meski demikian, penyematan nama pada gedung bersejarah seperti Balai Pemuda harus mempertimbangkan aspek sejarah dan aspirasi masyarakat.

Balai Pemuda, menurutnya, bukan hanya melahirkan Gombloh, tetapi juga menjadi bagian penting perjalanan sejarah berbagai tokoh seni dan perjuangan Kota Surabaya.

Karena itu, kajian akademik diperlukan agar penghormatan kepada Gombloh tidak menghilangkan nilai historis bangunan tersebut.

Senada dengan itu, Heti Palestina Yunani menyatakan Dewan Kebudayaan Surabaya pada prinsipnya mendukung upaya memberikan penghargaan kepada Gombloh, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Audiensi tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan bahwa usulan penamaan gedung maupun jalan atas nama Gombloh akan ditindaklanjuti melalui kajian bersama antara Mogers, Dewan Kebudayaan Surabaya, dan Pemerintah Kota Surabaya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya maupun Google mengenai penyebab berubahnya nama Balai Budaya Surabaya menjadi “Gedung Gombloh” di Google Maps.

Apakah kemunculan nama itu merupakan pembaruan data resmi, usulan pengguna yang belum diverifikasi, atau sekadar perubahan sementara pada sistem pemetaan digital, masih menjadi tanda tanya.

Namun satu hal yang sudah terlihat jelas, viralnya “Gedung Gombloh” menunjukkan bahwa nama sang legenda musik tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan warga Surabaya.

Bagi banyak orang, Gombloh bukan sekadar penyanyi, melainkan bagian dari identitas budaya Kota Pahlawan yang layak dikenang lintas generasi.

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini