
bongkah.id — Panggung seni di Dekesda Art Center, Sidoarjo, berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan, pengalaman, dan budaya ketika Darjonesia Dance Festival #1 Tahun 2026 digelar, Minggu dan Senin (6-7/9/2026) malam.
Festival tari kontemporer yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) itu mempertemukan sembilan koreografer dari berbagai daerah di Indonesia hingga Jepang.
Mereka membawa karya dengan latar, pendekatan artistik, serta kegelisahan yang berbeda, tetapi dipertemukan melalui satu bahasa universal, tari.
Malam itu bukan sekadar pertunjukan. Menurut Arif Rofiq, ketua penyelenggara, bagi dunia seni pertunjukan Sidoarjo, Darjonesia Dance Festival menjadi penanda hadirnya ruang baru untuk mempertemukan koreografer, seniman, komunitas, akademisi, dan penikmat seni.
Sembilan koreografer yang menampilkan karya berasal dari sejumlah daerah, yakni Kediri, Sidoarjo, Mataram, Jakarta, Surabaya, Indramayu, Yogyakarta, hingga Jepang.
Pada hari pertama, panggung festival menampilkan empat karya utama yang masing-masing menawarkan cara berbeda dalam membaca tubuh, kehidupan dan perubahan zaman.
“KALILIAN” garapan Yoga Kameswara dari Kediri, mengangkat refleksi tentang pilihan, keikhlasan dan perjalanan manusia berlatar kisah Panji Asmara Bangun.
Di atas panggung, tubuh tidak sekadar menjadi instrumen estetika. Ia menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan dan perenungan.
Dari Sidoarjo, koreografer Patry Eka Prasetya menghadirkan “NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal)”. Karya ini berbicara tentang memori krisis dan ketegangan yang tertinggal di dalam tubuh.
Sementara itu, koreografer asal Mataram, Lalu Suryadi Mulawarman, membawa karya “SERAT KAMBUT”. Karya ini menarik perhatian melalui gagasan pemanfaatan limbah serat rempah menjadi bahan dasar benang dan kain.
Adapun karya terakhir, “ROH DIANTARA RIUH” garapan koreografer Jakarta, Benny Krisnawardi, membawa penonton pada refleksi sosial yang lebih luas.
Karya tersebut merespons situasi sosial bangsa yang digambarkan penuh pertikaian, polarisasi dan pengikisan nurani.
Melalui bahasa tubuh, hentakan, serta olah vokal para penari, karya ini menghadirkan perenungan tentang manusia yang berada di tengah riuhnya zaman.
Menjadikan Sidoarjo Ruang Pertemuan Seni
Masih menurut Arif Rofiq, di balik empat karya tersebut, tersimpan gagasan besar Darjonesia Dance Festival: menjadikan Sidoarjo sebagai ruang perjumpaan lintas batas dan lintas budaya hasil dari jaringan kerja yang dirawat selama ini.
Festival ini mempertemukan gagasan koreografi dari Jakarta, Indramayu, Yogyakarta, Ponorogo, Kediri, Surabaya, Sidoarjo, Mataram, hingga Jepang.
Perjumpaan itu membuat panggung tidak berhenti sebagai tempat mempertontonkan karya. Panggung menjadi ruang dialog—tempat seniman membawa pengalaman dari daerah masing-masing, kemudian bertemu dengan perspektif yang berbeda.
Karena itu, festival juga dilengkapi dengan sesi bedah karya. Sesi tersebut menghadirkan moderator Herry Lentho Prasetyo mendampingi narasumber Prof. Robby Hidayat dari Universitas Negeri Malang. Forum tersebut membicarakan lebih jauh gagasan di balik karya yang telah dipentaskan.
Bagi penyelenggara, Darjonesia Dance Festival #1 bukan sekadar agenda pertunjukan. Festival tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya mempertemukan gagasan kreatif menuju kota kreatif, sekaligus memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Sidoarjo.
Darjonesia Dance Festival #1 kembali digelar pada 7 September 2026, menampilkan karya koreografer Iing Sayuti dari Indramayu, Irfan Gepeng (Surabaya), Galih Puspita Karti (Yogyakarta), Calvin Desta Nanda S (Ponorogo) serta Noriko Muraghisi dari Jepang.


























