
bongkah.id — Seorang bocah berusia enam tahun berdiri di panggung Gedung Cak Durasim. Di hadapannya, perangkat gamelan yang ukurannya tampak lebih besar dari tubuhnya sendiri.
Adik Sulton mencoba memukul bilah gamelan. Tidak selalu tepat mengikuti irama. Namun, ia terus mencoba. Bersama ZR Dance, bocah itu kemudian tampil dalam rangkaian pembukaan Festival Ludruk Kepahlawanan Cak Durasim 2026, Sabtu (5/9/2026).
Tak lama berselang, siswa SD dan SMP tampil dalam tari Remo kolosal gaya Bolet. Panggung yang biasanya identik dengan seniman senior itu berubah menjadi ruang bermain anak-anak.
Gerakannya belum tentu sempurna tetapi kehadiran mereka menghadirkan pesan yang jauh lebih penting, bahwa regenerasi ludruk sedang dimulai dari usia dini.
Festival Cak Durasim 2026 memang tidak hanya berbicara tentang bagaimana mempertahankan kesenian tradisional. Festival ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi diperkenalkan kepada generasi yang tumbuh di tengah budaya digital.
Bagi penggagas festival, Heri Lento Prasetyo, anak-anak perlu mengenal ludruk melalui pengalaman langsung.
Bermain gamelan, menari remo dan berada di atas panggung menjadi cara agar kesenian tradisional tidak hanya mereka kenal sebagai cerita masa lalu.
Semangat tersebut kemudian berlanjut melalui Ludruk Karya Persada Mojokerto.
Kelompok ini menghadirkan lakon “Joko Sambang – Pendekar Gunung Gangsir” arahan Kukun Tri Yoga, yang sanggarnya bermarkas di kawasan Gedeg.
Cerita membawa penonton pada kehidupan rakyat di bawah tekanan penjajahan Belanda dengan kisah kerja paksa, ketidakadilan, pengkhianatan, dan perjuangan.
Namun ada pesan lain yang tidak kalah penting, yaitu memberi ruang kepada anak muda Gen Z untuk menjadi bagian dari ludruk.

Kukun mempertemukan pemain dari berbagai usia. Anak SD, SMP, SMA, mahasiswa hingga dosen berada dalam satu produksi. Anak-anak belajar tari di sanggar sementara pelajar yang lebih besar mengenal teater dan akting.
Dengan demikian, panggung bukan hanya menjadi tempat pertunjukan. Ia menjadi ruang pendidikan budaya.
Joko Sambang juga tidak sepenuhnya disajikan dengan pola ludruk lama. Kukun menggunakan naskah tertulis dan pendekatan yang lebih dekat dengan teater modern.
“Pola penggarapannya tidak seperti ludruk pada umumnya yang berdasar konsep alur cerita namun dengan naskah. Kemudian pemainnya dicetak dalam latihan intensif selama satu bulan,” tutur Kukun.
Meski dengan pola lain, akar tradisi tetap dipertahankan melalui bedayan, remo, kidungan, dan gending jula-juli.
Di sinilah kekuatan ludruk terlihat.Tradisi tidak harus membeku agar disebut tradisi. Ia bisa bergerak, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk berbicara kepada generasi berbeda.
Adik Sulton mungkin belum memahami seluruh makna perjuangan Joko Sambang. Para penari muda pun mungkin belum sepenuhnya memahami sejarah panjang ludruk.
Tetapi mereka sudah berada di panggung. Mereka sudah menyentuh gamelan. Mereka sudah menari remo. Mereka sudah merasakan bagaimana sebuah kesenian dimainkan.
Dari pengalaman sederhana itulah rasa memiliki dapat tumbuh.
Dan, ketika anak-anak mulai merasa bahwa ludruk adalah bagian dari dunia mereka, napas kesenian rakyat itu memiliki alasan untuk terus berlanjut.




























