bongkah.id — Ada yang terasa janggal dari seporsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap SZ, 15, Selasa (1/9/2026) siang. Bukan nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali atau buah apel yang membuatnya berhenti makan. Justru sayur tumis buncis baby corn meninggalkan rasa asam yang membuatnya tak menghabiskan makanan.
Beberapa jam kemudian, tubuhnya mulai memberi tanda. Mual, lemas dan pusing datang setelah makanan MBG disantap sekitar pukul 13.00 WIB.
SZ merupakan salah satu dari 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.
“Makan MBG jam 13.00 WIB. Yang dimakan nasi putih, telur orak-arik, tempe kayak bali, enggak pedes,” kata SZ di RSUD RT Notopuro Sidoarjo.
Menurut SZ, keanehan justru terasa pada sayuran yang disajikan. “Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya,” ujarnya.
Menjelang sore, SZ mengaku mulai mengalami mual, lemas dan pusing. Hingga Selasa malam, 203 korban dirawat di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, sedangkan korban lainnya tersebar di enam fasilitas kesehatan lain.
19 Lembaga Pendidikan Terdampak
Kasus tersebut ternyata tidak hanya menyentuh lingkungan Ponpes Manbaul Hikam.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan terdapat 19 lembaga pendidikan yang terdampak kejadian tersebut.
Lembaga itu mencakup pesantren serta sekolah tingkat SMA, SMP, SD hingga TK di wilayah Kecamatan Tanggulangin.
Emil juga membantah informasi yang sempat beredar di media sosial mengenai adanya korban meninggal dunia. “Tadi ada kabar ada yang meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal,” tegas Emil.
Dari sisi penyedia makanan, Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang memasok makanan kepada para penerima manfaat telah dihentikan sementara operasionalnya.
SPPG tersebut, kata Teguh, setiap hari memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan, sekitar 1.000 porsi di antaranya dikirim ke Ponpes Manbaul Hikam.
“Saat ini, SPPG kita berhenti operasional,” kata Teguh.
Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian juga telah mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.
Langkah ini penting karena dugaan keracunan tidak cukup dibuktikan hanya berdasarkan keluhan korban atau perubahan rasa makanan.
Kontaminasi Silang
Dalam perspektif keamanan pangan, salah satu risiko dalam produksi makanan dalam jumlah besar adalah kontaminasi silang.
Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Merita Arini, MMR, menjelaskan kontaminan pada makanan dapat berasal dari mikroba maupun toksin alami, terutama apabila bahan pangan tidak segar atau mengalami penyimpanan yang tidak tepat.
Produk hewani yang disimpan terlalu lama, misalnya, dapat mengalami perubahan dan mengandung zat tertentu yang tidak dapat ditoleransi tubuh.
Kontaminasi silang sendiri terjadi ketika mikroorganisme dari bahan mentah berpindah ke makanan matang melalui tangan, talenan, pisau, wadah, air atau permukaan dapur yang tidak higienis.
Namun, dalam kasus Sidoarjo, kontaminasi silang belum dapat disebut sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Ini penting untuk menjaga akurasi.
Rasa asam pada sayuran dapat menjadi petunjuk adanya perubahan kualitas makanan, tetapi tidak otomatis membuktikan jenis bakteri, toksin atau sumber kontaminasi.
Kasus Manbaul Hikam menunjukkan bahwa program makanan massal memiliki tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar memastikan jumlah porsi terpenuhi.
Ketika satu dapur memasok sekitar 2.800 porsi sehari, kesalahan pada satu tahapan produksi dapat berdampak luas.
Karena itu, keamanan pangan harus berjalan bersamaan dengan pemenuhan gizi. Bahan mentah harus dipisahkan dari makanan matang, peralatan harus bersih, kualitas air harus terjamin, suhu penyimpanan harus dikendalikan, sementara makanan harus dikemas dan didistribusikan dalam kondisi aman.
Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dikoordinatori Ubaid Matraji bahkan mencatat jumlah korban kasus keracunan terkait MBG mencapai 40.759 orang di 36 provinsi, terdiri atas 28.103 korban sepanjang 2025 dan 12.656 korban pada Januari-Agustus 2026.
Pesan dari kasus Sidoarjo sulit diabaikan. Bagi anak-anak seperti SZ, MBG bukan sekadar kebijakan pemerintah yang terlihat dalam angka penerima manfaat dan jumlah porsi. Program itu hadir setiap hari dalam bentuk sepiring makanan yang mereka percaya aman untuk disantap.
Karena itu, keberhasilan MBG seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan dibagikan tetapi juga dari seberapa ketat makanan tersebut dijaga sebelum sampai ke tangan anak-anak di sekolah.































