KH Hasyim Asy’ari

“Jangan sampai NU besar organisasinya, tetapi kecil manfaatnya bagi umat dan bangsa.”

bongkah.id – Jombang kembali menjadi saksi penting perjalanan Nahdlatul Ulama. Di tanah kelahiran para ulama dan pesantren itu, para nahdliyin berkumpul dalam Muktamar NU ke-35.

ads

Forum ini bukan sekadar perhelatan organisasi. Ia adalah momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang NU sekaligus bertanya: ke mana organisasi ini hendak melangkah setelah melewati usia satu abad?

Di tengah riuhnya muktamar, menarik membayangkan satu sosok tiba-tiba hadir di antara para kiai, ulama, dan muktamirin.

Dialah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Pendiri NU itu telah wafat pada 25 Juli 1947. Namun jika waktu dapat diputar dan beliau hadir di Muktamar NU ke-35 di Jombang, barangkali yang pertama dilakukannya bukan berdiri di panggung atau bertanya siapa calon Rais Aam dan Ketua Umum. Ia mungkin justru memilih duduk tenang di tengah para kiai.

Mendengarkan. Menyimak. Lalu bertanya sederhana, tetapi menukik: “Untuk apa NU didirikan?”

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah sederhana.

Hasyim Asy’ari mendirikan NU bersama para ulama pesantren, antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri, pada 31 Januari 1926.

NU lahir dari kebutuhan untuk menghimpun kekuatan ulama pesantren, menjaga tradisi keilmuan Islam, sekaligus menghadapi perubahan zaman.

Namun perjuangan Hasyim Asy’ari tidak berhenti di ruang pesantren. Ketika kemerdekaan Indonesia terancam, ia bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada Oktober 1945.

Pesannya jelas: mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan merupakan kewajiban.

Dari sana terlihat bahwa bagi Hasyim Asy’ari, agama dan kebangsaan bukan dua jalan yang saling bertentangan. Islam menjadi energi moral untuk menjaga kehidupan bersama.

Lantas, apa yang mungkin dilakukan Hasyim Asy’ari jika hadir di Muktamar ke-35?
Barangkali ia akan mengingatkan agar NU tidak terjebak pada perebutan jabatan dan kekuasaan.

Jabatan hanyalah alat. Organisasi hanyalah sarana. Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat dan bangsa.

Ia mungkin juga akan mengajak NU kembali memperkuat pesantren sebagai pusat kaderisasi. Sebab bagi Hasyim Asy’ari, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan membentuk akhlak dan keberanian mengabdi.

Zaman memang berubah. Tantangan yang dihadapi generasi sekarang tidak lagi sama dengan masa kolonial. Tetapi prinsip perjuangannya tetap relevan.

Jika dahulu jihad dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan, hari ini jihad kebangsaan dapat diwujudkan melalui perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, serta kemerosotan moral.

Hasyim Asy’ari mungkin juga akan mengingatkan bahwa NU tidak boleh hanya besar dalam jumlah warga, luas dalam struktur, dan kuat dalam pengaruh politik.

Kebesaran organisasi harus berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Mungkin setelah mendengar seluruh perdebatan muktamar, beliau akan berdiri perlahan. Tidak dengan pidato panjang. Tidak dengan kalimat yang berapi-api.

Cukup sebuah pesan:
Jangan ukur kebesaran NU dari banyaknya jabatan yang diperebutkan, tetapi dari seberapa banyak persoalan rakyat yang mampu diselesaikan.

Lalu beliau mungkin kembali ke pesantren. Meninggalkan satu pertanyaan kepada generasi NU hari ini:
Setelah NU berusia lebih dari satu abad, sudahkah kehadirannya benar-benar membuat umat lebih berilmu, bangsa lebih bermartabat dan rakyat lebih sejahtera?

Barangkali, itulah “pidato” Hasyim Asy’ari yang paling penting untuk Muktamar NU ke-35 di Jombang.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini