bongkah.id — Di kompleks makam Masyayikh Pondok Pesantren Tebuireng, suasana tidak pernah benar-benar sepi. Di antara lantunan doa dan langkah para peziarah, nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus hidup dalam ingatan banyak orang.
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang (27-31/8/2026), perhatian terhadap makam Gus Dur kembali menguat. Ribuan bahkan diperkirakan lebih banyak lagi warga Nahdliyin akan datang ke Tebuireng untuk berziarah.
Namun, yang membuat Gus Dur tetap dikenang bukan semata karena ia pernah menjadi Presiden keempat Republik Indonesia. Ada sesuatu yang lebih dalam. Gus Dur meninggalkan warisan berupa cara berpikir yang melampaui zamannya.
Ia berbicara tentang demokrasi, kebebasan, kemanusiaan, toleransi, dan penghormatan terhadap kelompok yang berbeda ketika isu-isu tersebut belum selalu mudah diperbincangkan.
Ia lahir di Jombang pada 7 September 1940 dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil. Ia merupakan putra KH Wahid Hasyim dan cucu KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Darah pesantren mengalir kuat dalam dirinya. Tetapi Gus Dur tidak pernah membiarkan dirinya hanya hidup dalam ruang pesantren.
Ia membaca dunia dengan cakrawala yang luas. Ia belajar, menulis, berdiskusi, berkeliling pesantren, dan membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.
Pengalaman tersebut membentuk sosok yang kemudian dikenal sebagai intelektual muslim, ulama, aktivis, penulis, pemimpin NU, dan akhirnya kepala negara.
Jalan hidupnya tidak selalu mulus.
Sebagai tokoh NU, Gus Dur pernah menghadapi tekanan politik dan perbedaan pandangan. Sebagai presiden, ia juga mengambil sejumlah kebijakan yang memicu kontroversi. Tetapi justru di tengah berbagai kontroversi itulah karakter Gus Dur terlihat. Ia tidak selalu memilih jalan yang paling populer.
Salah satu warisan penting pemerintahannya adalah semakin terbukanya ruang kebebasan pers setelah pembubaran Departemen Penerangan.
Ia juga dikenal melalui kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi warga Tionghoa Indonesia untuk mengekspresikan identitas dan kebudayaannya.
Karena sikap tersebut, Gus Dur kemudian dikenang sebagai salah satu simbol pluralisme Indonesia.
Bagi banyak orang, kebesaran Gus Dur bukan terletak pada lamanya ia berkuasa. Masa kepresidenannya hanya berlangsung sekitar dua tahun. Kebesarannya justru tumbuh dari gagasan yang tetap dibicarakan setelah ia tidak lagi berada di Istana.
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Ia kemudian dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, berdampingan dengan pusara keluarga dan para Masyayikh yang menjadi bagian penting dari sejarah pesantren serta NU.
Sejak saat itu, makamnya menjadi tempat perjumpaan banyak manusia. Ada santri yang datang dengan kesederhanaan. Ada pejabat yang datang dengan rombongan.
Ada masyarakat biasa yang menempuh perjalanan ratusan kilometer. Ada pula anak-anak muda yang mungkin tidak pernah menyaksikan Gus Dur memimpin negeri, tetapi mengenalnya melalui cerita orang tua, buku, tulisan, dan berbagai rekaman sejarah.
Mereka datang membawa tujuan yang berbeda. Namun, ketika berada di depan pusara Gus Dur, semuanya memiliki satu kesamaan: mengenang.
Muktamar NU ke-35 membuat suasana itu semakin kuat. Para muktamirin yang datang ke Jombang tidak hanya membawa agenda organisasi. Sebagian menyempatkan diri menapaki jejak sejarah NU di Tebuireng.
Di sana mereka menemukan Gus Dur dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi presiden dengan segala protokol kenegaraan. Bukan pula ketua umum organisasi dengan agenda politik yang rumit. Ia hanya seorang manusia yang telah kembali kepada Sang Pencipta.
Justru dalam kesederhanaan makam itulah kebesaran seorang Gus Dur terasa. Kekuasaan ternyata berhenti di batas usia. Jabatan berakhir. Seragam dan protokol ditinggalkan.
Yang bertahan adalah gagasan. Yang terus dikenang adalah sikap. Dan yang diwariskan adalah keberanian untuk memperlakukan manusia sebagai manusia.
Gus Dur pernah berada di pusat kekuasaan, tetapi jejaknya justru banyak ditemukan di luar tembok Istana: di pesantren, di ruang-ruang diskusi, di halaman rumah masyarakat kecil, dan dalam ingatan kelompok-kelompok yang pernah merasa dibela.
Itulah sebabnya makam Gus Dur tidak pernah sekadar menjadi tempat wisata religi. Ia menjadi ruang refleksi.
Para peziarah datang untuk mendoakan Gus Dur. Tetapi tanpa disadari, mereka juga seperti sedang diajak bertanya kepada diri sendiri: apa yang akan kita tinggalkan setelah kehidupan ini selesai?
Muktamar NU membicarakan masa depan organisasi. Para muktamirin akan memilih kepemimpinan, merumuskan program, dan menentukan arah perjalanan NU.
Sementara itu, makam Gus Dur mengingatkan bahwa organisasi dan kekuasaan pada akhirnya adalah alat. Ukuran kebesaran seorang manusia bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang pernah didudukinya, melainkan seberapa jauh gagasannya memberi manfaat bagi sesama.
Di Tebuireng, pertanyaan itu terasa sederhana. Gus Dur telah lama meninggalkan panggung kehidupan. Tetapi setiap hari orang masih datang untuk mengenangnya.
Dan, selama orang masih membaca pemikirannya, menceritakan keberaniannya, memperdebatkan gagasannya, serta meneladani sikap kemanusiaannya, nama Gus Dur akan terus menemukan kehidupan baru.
Barangkali di situlah kebesaran Gus Dur yang sebenarnya. Ia telah tiada, tetapi gagasannya belum selesai.




























