Antrian masyarakat yang hendak bertransaksi di ATM.

bongkah.id – Di balik ramainya pusat perbelanjaan, padatnya kawasan bisnis, hingga geliat usaha mikro yang terus tumbuh, ada satu indikator yang menggambarkan kuatnya denyut ekonomi Kota Surabaya, yakni besarnya dana masyarakat yang tersimpan di perbankan.

Hingga Triwulan II 2026, Surabaya kembali menjadi daerah dengan jumlah rekening dan nominal simpanan terbesar di Jawa Timur.

ads

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan Kota Pahlawan memiliki 11,83 juta rekening dengan total dana simpanan mencapai Rp435,93 triliun, tertinggi dibandingkan seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini.

Besarnya nilai simpanan tersebut mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi, kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, sekaligus posisi Surabaya sebagai pusat perdagangan, jasa, dan investasi di Jawa Timur.

Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Bambang S. Hidayat, mengatakan Surabaya masih menjadi kontributor terbesar penghimpunan dana masyarakat di Jawa Timur.

“Untuk level kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya masih mendominasi kepemilikan rekening sebanyak 11,83 juta rekening dan nominal simpanan sebesar Rp435,93 triliun,” ujar Bambang dalam kegiatan Media Gathering Jawa Timur di Pasuruan, Selasa (4/8/2026).

Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Bambang S. Hidayat, dalam acara Media Gathering Jawa Timur di Pasuruan, Selasa (4/8/2026).

Jawa Timur Masuk Tiga Besar Nasional

Dominasi Surabaya turut mengangkat posisi Jawa Timur secara nasional. Hingga Juni 2026, provinsi ini memiliki 73,59 juta rekening, meningkat 1,17 persen secara tahunan atau bertambah sekitar 854 ribu rekening dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jumlah tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi tiga besar nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Dari sisi nominal simpanan, Jawa Timur bahkan berada di peringkat kedua nasional dengan total dana masyarakat mencapai Rp833,7 triliun. Nilainya meningkat 4,64 persen atau sekitar Rp37 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Bambang, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya simpanan pada produk tabungan dan giro.

“Nominal simpanan Jawa Timur mencapai Rp833,7 triliun atau bertambah 4,64 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama dikontribusikan oleh tingginya pertumbuhan produk tabungan sebesar 6,31 persen dan giro sebesar 12,18 persen,” jelasnya.

Peningkatan ini menjadi sinyal bahwa masyarakat semakin aktif memanfaatkan layanan perbankan sebagai tempat menyimpan dana sekaligus mengelola keuangan.

Daerah Lain Mulai Mengejar

Meski Surabaya masih mendominasi, sejumlah daerah mulai menunjukkan pertumbuhan yang cukup agresif.

Kota Batu menjadi daerah dengan kenaikan jumlah rekening tertinggi di Jawa Timur, yakni 20,4 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.

Sementara itu, Kota Kediri mencatat pertumbuhan nominal simpanan paling tinggi, mencapai 21,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebaliknya, terdapat pula daerah yang mengalami perlambatan. Kabupaten Sumenep menjadi wilayah dengan penurunan jumlah rekening terdalam sebesar 11 persen, sedangkan Kota Probolinggo mengalami kontraksi nilai simpanan hingga 17,5 persen.

Perbedaan pertumbuhan antarwilayah ini menjadi gambaran bahwa tingkat inklusi keuangan dan aktivitas ekonomi di setiap daerah masih beragam.

Menabung Bukan Sekadar Menyimpan Uang

Bagi masyarakat, rekening bank sering kali dipandang hanya sebagai tempat menyimpan uang. Padahal, dalam skala ekonomi, dana simpanan memiliki fungsi yang jauh lebih besar. Dana yang dihimpun perbankan menjadi sumber pembiayaan bagi dunia usaha melalui penyaluran kredit.

Ketika masyarakat semakin gemar menabung, kapasitas perbankan dalam mendukung investasi, usaha produktif, hingga penciptaan lapangan kerja juga ikut meningkat.

Karena itu, pertumbuhan simpanan tidak hanya menjadi indikator kesehatan sektor perbankan, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas sistem keuangan.

51 Juta Penduduk Belum Memiliki Rekening

Di balik tren positif tersebut, LPS mengingatkan masih besarnya tantangan dalam meningkatkan inklusi keuangan nasional. Data LPS menunjukkan sekitar 51 juta penduduk Indonesia masih belum memiliki rekening simpanan. Jumlah itu setara dengan 19,9 persen penduduk berusia 5 hingga 74 tahun.

Karena itu, LPS bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memperluas literasi keuangan agar semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan perbankan.

“Di Jawa Timur kami terus memantau kabupaten dan kota yang masih perlu dioptimalkan, baik inklusivitas maupun penetrasi nominal simpanan. LPS bersama KSSK terus memperluas basis masyarakat menabung melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan,” kata Bambang.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi yang menjangkau masyarakat secara luas.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Kantor Perwakilan LPS II Surabaya telah menyelenggarakan 30 kegiatan sosialisasi dan edukasi, 29 kegiatan hubungan media, 16 kegiatan sosial dan sponsorship, serta 45 kegiatan hubungan kelembagaan.

Program tersebut menjangkau wilayah kerja LPS II yang meliputi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, LPS berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya menabung di bank, mengenal fungsi penjaminan simpanan, serta memiliki akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan formal.

Bagi Surabaya, capaian sebagai pemilik simpanan terbesar di Jawa Timur bukan sekadar deretan angka statistik.

Di balik Rp435,93 triliun dana masyarakat yang tersimpan di perbankan, tersimpan pula gambaran tentang tingginya kepercayaan publik terhadap sistem keuangan, kuatnya aktivitas ekonomi perkotaan, dan optimisme bahwa budaya menabung tetap menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini