
bongkah.id – Menyelamatkan sungai tidak lagi dimaknai sekadar mengangkat sampah dari aliran air. Di Surabaya, upaya menjaga kebersihan sungai kini dikembangkan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi barang bernilai sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Konsep tersebut diperlihatkan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama berbagai pemangku kepentingan saat mendampingi delegasi Clean Rivers dan UNDP Indonesia mengunjungi sejumlah lokasi pengelolaan sampah sungai di Kota Surabaya.
Waste Prevention Manager Ecoton, Tonis Afrianto, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah sungai harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengangkatan sampah, pemilahan, pengolahan, hingga melibatkan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah sungai tidak berhenti setelah diangkat. Sampah harus dipilah, diolah, bahkan bisa memiliki nilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular,” ujar Toni.
Rangkaian kunjungan berlangsung di tiga titik, yakni Materials Recovery Facility (MRF) Ecoton di TPS3R Kedung Cowek, instalasi Trashboom Ecoton di Kali Tebu, serta peluncuran Kampung Sungai Lestari di kawasan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran.
Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, pengelola TPS3R, bank sampah, komunitas lingkungan, hingga warga setempat.
Di MRF Ecoton, para peserta melihat langsung bagaimana sampah yang diangkat dari sungai dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan plastik, logam, dan material lain yang masih layak dimanfaatkan dipersiapkan untuk didaur ulang.
Melalui sistem tersebut, volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat ditekan. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Delegasi juga diajak mengamati proses pencatatan sampah, pengomposan, hingga mengunjungi Sumur Teba dan Taman Organik yang menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan terpadu.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kali Tebu. Di lokasi ini berdiri Trashboom, alat sederhana yang berfungsi menahan sampah agar tidak terbawa arus menuju sungai yang lebih besar hingga akhirnya mencemari laut.
Namun, yang menarik perhatian bukan hanya alat penahan sampah tersebut. Ecoton bersama Mozaik Foundation juga membangun Kampung Sungai Lestari, sebuah program yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga kualitas sungai.
Warga dilibatkan dalam pemantauan kualitas air, pengelolaan sampah rumah tangga, hingga berbagai kegiatan edukasi lingkungan. Kelompok perempuan, pelajar, dan komunitas lokal turut berperan aktif sebagai pengawas kondisi sungai di wilayah mereka.
Peluncuran Kampung Sungai Lestari menjadi simbol penguatan kolaborasi antara pemerintah, organisasi lingkungan, komunitas, dan masyarakat dalam menciptakan kawasan sungai yang bersih dan berkelanjutan.
Di balik berbagai inovasi tersebut, terdapat kisah sederhana dari Mujiati Ningsih, warga yang telah lama menggerakkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Baginya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Perempuan berusia 54 tahun itu menilai program ini bukan hanya membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA Benowo, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui bank sampah.
“Sangat bagus karena selain mengurangi sampah ke TPA, hasil pengelolaan sampah juga bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Mujiati, kegiatan bersama dalam mengelola sampah juga menghadirkan kembali budaya gotong royong yang mulai memudar di kawasan perkotaan.
Warga menjadi lebih sering berkumpul, saling berbagi pengetahuan, dan bekerja sama menjaga lingkungan.
Ia mengaku selama ini sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai jual disetorkan ke bank sampah sebagai tambahan penghasilan bagi warga.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penyelamatan sungai tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Keberhasilannya sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
Ketika warga menjadi bagian dari solusi, sungai yang bersih bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.



























