Dokter Melani Setiawan mengarsipkan perjalanan seni rupa Indonesia selama hampir 45 tahun melalui ribuan foto dan dokumen yang terangkum dalam Indonesian Art World (1977–2022).

bongkah.id – Ia bukan seniman, kurator, maupun kolektor. Namun selama hampir setengah abad, Dokter Melani W. Setiawan hadir di berbagai peristiwa seni rupa Indonesia dengan sebuah kamera di tangannya. Dari kamera analog itulah, ribuan wajah, karya, pertemuan, dan perjalanan seniman tersimpan hingga hari ini.

Jejak panjang tersebut terangkum dalam buku Indonesian Art World (1977–2022) yang dibahas dalam rangkaian ARTSUBS 2026 di kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu (20/9/2026).

ads

Buku setebal sekitar 1.400 halaman itu memuat sekitar 4.000 foto dokumentasi Melani yang merekam perjalanan dunia seni rupa Indonesia selama lebih dari empat dekade.

Dalam diskusi bersama art dealer sekaligus pendiri Srisasanti Syndicate Eddy Prakoso dan kurator ARTSUBS Asmudjo Jono Irianto, terungkap bagaimana dokumentasi tersebut bermula dari aktivitas personal yang dilakukan Melani sejak akhir 1970-an.

Saat telepon seluler dan kamera digital belum menjadi bagian kehidupan sehari-hari, Melani menggunakan kamera analog untuk merekam berbagai pameran dan peristiwa seni. Foto-foto kemudian dicetak dan disimpan.

Namun, ia tidak berhenti pada kegiatan memotret.

Ketika menemukan wajah seseorang yang tidak dikenalnya dalam foto, Melani berusaha mencari tahu identitasnya. Ia menghubungi orang-orang yang mengenal sosok tersebut, memastikan namanya, lalu mencantumkannya sebagai caption.

Ketelitian itu membuat arsip Melani memiliki nilai lebih dari sekadar dokumentasi pribadi. Foto-fotonya menjadi semacam peta visual yang memperlihatkan bagaimana seniman muncul, berkembang, berpindah dalam ekosistem seni, hingga sebagian di antaranya meninggalkan dunia seni rupa atau telah meninggal dunia.

“Kalau di dunia sastra ada H.B. Jassin, bisa jadi dalam seni rupa kontemporer ada Bu Melani,” ujar penulis dan kurator seni rupa Adi Wicaksono.

Melani mulai menjadi dokter pada 1977, ketika berusia 32 tahun. Aktivitas memotret dunia seni rupa pada awalnya ia lakukan sebagai kegiatan personal. Tetapi tanpa direncanakan, kebiasaan tersebut berkembang menjadi arsip panjang tentang kehidupan seni rupa Indonesia.

Yang tersimpan pun bukan hanya foto. Melani juga mengarsipkan surat-menyurat dengan para seniman. Sebagian masih berupa surat tulisan tangan, berisi berbagai hal mulai dari kegiatan kesenian, undangan, kabar, hingga persoalan pribadi.

Asmudjo Jono Irianto menyebut Melani sebagai omniperson, sosok yang seolah hadir di banyak peristiwa seni rupa Indonesia.

Posisi tersebut membuat arsip Melani memiliki dimensi lain. Ia tidak hanya merekam karya, tetapi juga hubungan antarmanusia yang membentuk ekosistem seni rupa.

Bagi Asmudjo, buku tersebut bahkan dapat menjadi embrio ensiklopedia seni rupa kontemporer Indonesia. Ribuan foto yang terkumpul menyimpan data visual yang masih dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan dan penelitian.

Penyusunan buku itu sendiri membutuhkan waktu panjang. Ribuan foto dan dokumen harus diseleksi, diidentifikasi, serta diberi keterangan. Buku yang semula direncanakan terbit pada 2012 tersebut baru dapat diwujudkan sekitar satu dekade kemudian.

Kini, arsip yang awalnya tersimpan dalam ruang personal Melani menjadi bagian dari percakapan publik tentang sejarah seni rupa Indonesia.

Di tengah ARTSUBS 2026 yang menghadirkan perkembangan seni rupa kontemporer hari ini, kisah Melani mengingatkan bahwa sejarah seni tidak hanya dibentuk oleh karya yang dipamerkan. Ada pula orang-orang yang dengan tekun menjaga ingatan tentang siapa yang hadir, siapa yang berkarya, siapa yang bertemu, dan bagaimana sebuah ekosistem tumbuh.

Melani memilih menjadi orang yang berada di balik kamera. Tetapi dari balik kamera itulah, hampir 45 tahun perjalanan seni rupa Indonesia tersimpan.

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini