Makam Gus Dur tak pernah sepi dari peziarah. Pada hari biasa dikunjungi sekitar 2000 orang sedang pada gari libur bisa mencapai 5000 peziarah.

bongkah.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jombang tidak hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk membahas masa depan organisasi.

Perhelatan besar ini juga membawa denyut kehidupan baru ke sejumlah tempat yang memiliki ikatan kuat dengan sejarah NU.

ads

Salah satunya kompleks makam Masyayikh Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Di tempat inilah makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berada.

Menjelang dan selama pelaksanaan Muktamar NU ke-35, makam Gus Dur diperkirakan menjadi salah satu magnet yang menyita perhatian para muktamirin dan peziarah dari berbagai penjuru Nusantara.

Pesantren Tebuireng bahkan menyiapkan kebijakan khusus. Akses ziarah ke makam Gus Dur dan para Masyayikh Tebuireng dibuka selama 24 jam nonstop selama pelaksanaan muktamar.

Keputusan tersebut menjadi bentuk pelayanan bagi warga Nahdliyin yang datang ke Jombang. Mereka tidak harus berdesakan mengejar jadwal ziarah seperti pada hari-hari biasa.

“Selama muktamar nanti, insyaallah ziarah akan dibuka 24 jam. Tidak ada waktu yang dilarang untuk berziarah,” ujar Mudir V Bidang Pendidikan Formal Pesantren Tebuireng, KH Achmad Roziqi, saat dikonfirmasi di Jombang, Senin (24/8/2026).

Kebijakan itu sekaligus menunjukkan bagaimana makam Gus Dur bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang mantan presiden.

Bagi banyak orang, tempat tersebut telah menjadi ruang untuk mengenang pemikiran, perjuangan, dan keteladanan seorang tokoh bangsa.

Pada hari biasa, jumlah peziarah di kompleks makam Tebuireng sudah mencapai lebih dari 2000 orang. Ketika akhir pekan, hari libur, haul, atau momentum keagamaan tertentu, jumlahnya dapat meningkat jauh lebih besar, lebih dari 5000 peziarah.

Karena itu, kehadiran Muktamar NU ke-35 di Jombang diperkirakan memberikan dorongan besar terhadap arus peziarah.

Bagi sebagian warga Nahdliyin, perjalanan menuju Jombang terasa belum lengkap tanpa menyempatkan diri berziarah ke Tebuireng.

Mereka datang bukan hanya untuk membaca tahlil dan doa. Ada pula yang ingin mengenang sosok Gus Dur sebagai ulama, pemimpin NU, mantan Presiden keempat RI, sekaligus tokoh yang dikenal luas karena gagasan tentang kemanusiaan dan toleransi.

Kompleks makam Tebuireng juga memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Di kawasan ini terdapat makam sejumlah tokoh penting, termasuk KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, serta KH Wahid Hasyim.

Rangkaian makam tersebut menjadikan Tebuireng seperti sebuah ruang sejarah yang mempertemukan beberapa generasi besar dalam perjalanan Islam dan bangsa Indonesia.

Namun, besarnya arus peziarah selama muktamar juga membutuhkan pengaturan. Pesantren Tebuireng menyiapkan akses khusus agar kedatangan masyarakat tidak mengganggu kegiatan pendidikan dan aktivitas para santri.

Arus masuk peziarah direncanakan melalui pintu belakang kawasan Tebuireng. Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan di jalur utama sekaligus membuat pergerakan massa lebih tertib.

“Detailnya nanti akan kami tata lagi, termasuk akses masuknya. Kemungkinan masuk tetap melalui belakang,” kata Roziqi.

Keamanan juga disiapkan selama 24 jam. Personel security akan bekerja secara bergantian dalam beberapa shift untuk memastikan kegiatan ziarah berlangsung aman dan tertib.

“Kami akan mengerahkan security selama 24 jam secara bergantian untuk menjaga kelancaran para peziarah. Jangan sampai kehadiran warga Nahdliyin untuk berziarah mengganggu kegiatan santri saat belajar dan mengaji,” ujarnya.

Selama ini, jadwal ziarah normal di makam Gus Dur terbagi dalam sesi pagi dan malam. Namun, selama muktamar, pola tersebut ditiadakan dan diganti dengan akses sepanjang hari.

Bagi para muktamirin, kebijakan itu memberi ruang lebih luas untuk mengatur waktu. Setelah mengikuti agenda organisasi, mereka dapat menyempatkan diri datang ke Tebuireng tanpa harus khawatir melewati batas waktu kunjungan.

Di sisi lain, bagi Jombang, kedatangan para peziarah menjadi bagian dari wajah lain Muktamar NU ke-35. Perhelatan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu bukan hanya berlangsung di ruang sidang, tetapi juga menghidupkan kembali jalur-jalur sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang NU.

Di antara riuh kendaraan, padatnya jalan, dan kesibukan muktamirin, Tebuireng menawarkan suasana yang berbeda.

Orang-orang datang dengan langkah lebih perlahan. Sebagian menundukkan kepala, membaca doa, lalu berdiri sejenak di depan pusara Gus Dur.

Muktamar boleh membicarakan masa depan NU. Namun di Tebuireng, para peziarah seolah diajak berhenti sebentar untuk mengingat masa lalu.

Dari makam Gus Dur, mereka mengenang seorang tokoh yang pernah berada di puncak kekuasaan, tetapi tetap dikenang karena gagasan dan keberaniannya membela kemanusiaan.

Dan selama Muktamar NU ke-35 berlangsung, Jombang bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya para pengurus dan muktamirin. Kota santri ini juga kembali menjadi ruang ziarah, perjumpaan, dan refleksi bagi jutaan warga Nahdliyin.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini