bongkah.id – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, bangsa ini telah menikmati berbagai kemajuan. Teknologi berkembang pesat, pembangunan infrastruktur terus berjalan, dan masyarakat semakin terhubung dengan dunia global.
Di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah Indonesia juga semakin merdeka dalam cara berpikir, pendidikan, dan kebudayaan?
Pertanyaan itu disampaikan Dr. Jarmani, dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) sekaligus Dewan Kebudayaan Surabaya.
Dia menilai tantangan Indonesia saat ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan bentuk penjajahan baru yang perlahan menggerus jati diri bangsa.
“Dahulu para pendiri bangsa berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan teritorial. Hari ini kita menghadapi tantangan yang berbeda, yaitu penjajahan cara berpikir, penjajahan budaya, dan penjajahan kesadaran,” ujar Jarmani.
Menurutnya, Indonesia memang telah merdeka sebagai negara, tetapi belum tentu sepenuhnya merdeka sebagai bangsa yang memiliki kepribadian dan karakter sendiri.
Salah satu gejalanya terlihat dari semakin terbatasnya ruang budaya Nusantara dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda kini lebih mudah mengenal budaya luar melalui teknologi dan media digital.
Di sisi lain, lagu daerah, permainan tradisional, sastra lisan, filosofi hidup masyarakat Nusantara, serta berbagai kesenian tradisi mulai kehilangan ruang dalam kehidupan modern.
Jarmani menilai persoalan tersebut tidak terlepas dari orientasi pendidikan yang selama ini lebih banyak menekankan kemampuan akademik dan kompetisi global dibandingkan penguatan identitas kebangsaan serta kebudayaan lokal.
“Anak-anak kita diajarkan menjadi warga dunia, tetapi sering kali lupa diajarkan menjadi manusia Indonesia. Mereka mengenal tokoh-tokoh internasional, tetapi tidak mengenal kebijaksanaan leluhur Nusantara,” katanya.
Menurut dia, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian karena pendidikan bukan hanya bertugas menyiapkan anak memasuki dunia kerja, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Modernisasi Tidak Harus Menghapus Tradisi
Jarmani menegaskan modernitas tidak seharusnya dimaknai sebagai meninggalkan tradisi. Sebaliknya, warisan leluhur perlu dikembangkan agar tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Nusantara memiliki kekayaan pengetahuan yang dapat menjadi modal peradaban, mulai dari gotong royong, musyawarah, harmoni dengan alam, tradisi spiritual hingga berbagai kesenian yang diwariskan turun-temurun.
“Bangsa yang kehilangan ingatan terhadap warisan leluhurnya akan mudah kehilangan arah. Ketika budaya hanya dianggap pelengkap, bukan sumber nilai, maka yang terjadi adalah krisis identitas,” tegasnya.
Karena itu, teknologi dan budaya semestinya tidak dipertentangkan. Teknologi justru dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Nusantara kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Memaknai Kemerdekaan
Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jarmani mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan secara lebih luas. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga kepribadian dan menentukan arah kehidupan berdasarkan nilai budayanya sendiri.
Dia mendorong penguatan gerakan kebudayaan melalui keluarga, pendidikan, komunitas, dan ruang publik. Seni budaya, katanya, tidak seharusnya hanya hadir ketika festival atau seremoni, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai suatu saat anak-anak Indonesia mengenal semua budaya dunia, tetapi asing terhadap budayanya sendiri,” ujarnya.
Pada akhirnya, menjaga jati diri bangsa bukan hanya tugas seniman, budayawan, atau akademisi. Ini merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Sebab, bangsa dapat mengejar kemajuan teknologi dan ekonomi. Namun tanpa ingatan terhadap akar sejarah dan kebudayaannya, kemajuan tersebut berisiko kehilangan arah.
“Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajah. Kemerdekaan adalah kemampuan menjaga kepribadian bangsa. Merdeka tanpa jati diri adalah kemerdekaan yang rapuh,” Jarmani menutup penuturannya.



























