
bongkah.id – Apa yang terjadi ketika seorang arsitek membawa pengetahuan tentang bangunan Nusantara ke ruang pamer seni rupa?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya melalui “Cakra Manggilingan”, karya instalasi arsitek Andy Rahman dalam pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya.
Bagi Andy, karya tersebut bukan sekadar permainan bentuk, bata, dan cahaya. Cakra Manggilingan menjadi ruang untuk mempertemukan arsitektur, filosofi Jawa, pengetahuan Nusantara, persoalan lingkungan, sekaligus refleksi tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.
Instalasi berbentuk lingkaran itu mengambil filosofi Cakra Manggilingan, sebuah pandangan tentang kehidupan yang terus berputar. Manusia tidak selamanya berada di atas dan tidak pula terus berada di bawah. Karena itu, kehidupan semestinya dijalani dengan kerendahan hati dan rasa syukur.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan Andy ke dalam bahasa visual. Sekitar 1.800 keping bata dibuat menggunakan mesin CNC berdasarkan rancangan yang telah disiapkan. Tata cahaya juga dirancang menjadi bagian dari karya untuk memperkuat pengalaman ruang.
Namun, yang menarik dari Cakra Manggilingan bukan hanya bentuk akhirnya. Karya itu merupakan bagian dari perjalanan panjang Andy dalam mempertanyakan kembali bagaimana arsitektur Indonesia seharusnya tumbuh dari pengetahuan yang dimiliki masyarakatnya sendiri.
Dalam Wicara Seniman – Andy Rahman di selasar Balai Budaya Surabaya, Sabtu (3/10/2026), Andy mengungkapkan perjalanan praktik arsitekturnya selama sekitar dua dekade.
Sejak mendirikan praktik arsitekturnya pada 2006, pendekatan Andy perlahan bergeser. Ia tidak lagi melihat arsitektur hanya sebagai persoalan desain bangunan, tetapi mulai menggali lebih dalam pengetahuan yang terkandung dalam tradisi arsitektur Nusantara.
Baginya, arsitektur Nusantara tidak cukup dipahami melalui bentuk rumah tradisional.
Di balik bentuk tersebut terdapat pengetahuan tentang iklim, geografi, arah matahari, ketersediaan material, hingga cara manusia merespons lingkungan tempat tinggalnya.
Pengalaman itu antara lain diperolehnya ketika mengembangkan Rumah Cukil. Dari sana, Andy menemukan bahwa elemen arsitektur tradisional tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga menyimpan simbol dan filosofi.
Ia mencontohkan Rumah Tongkonan dan Rumah Joglo. Setiap bagian dari bangunan tersebut memiliki fungsi sekaligus makna yang terhubung sebagai sebuah kesatuan.
“Arsitektur Nusantara yang terus berkembang adalah arsitektur yang secara aktif merespons kondisi nyata, seperti iklim, geografi, ketersediaan material, dan sinar matahari. Inilah yang dikembangkan, bukan sekadar bentuk fisiknya,” ujar alumnus arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2004 itu.
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah kecenderungan arsitektur modern yang kerap melihat tradisi sebatas sumber inspirasi visual. Andy justru mencoba menggali pengetahuan di balik bentuk dan membawanya ke dalam praktik arsitektur masa kini.
Masuknya Andy ke ARTSUBS 2026 juga membuka persoalan lain: di mana batas antara arsitektur dan seni rupa?
Andy mengakui, mengikuti pameran seni rupa merupakan pengalaman baru baginya. Sebagai arsitek, ia terbiasa bekerja dengan pertimbangan fungsi. Sementara ketika sebuah karya masuk ke ruang pamer, fungsi bangunan tidak lagi menjadi tujuan utama.
“Ketika masuk ke pameran seni, instalasi sudah tidak lagi berbicara soal fungsi, melainkan spesifik sebagai karya seni. Sebagai arsitek, seseorang tidak serta-merta menjadi seniman,” katanya.
Menurut Andy, latar belakang arsitektur tetap melekat dalam proses kreatifnya. Kecintaannya terhadap seni justru menjadi ruang untuk mencurahkan sisi kreatif yang mungkin tidak selalu dapat diekspresikan melalui proyek bangunan.
Di sinilah Cakra Manggilingan menemukan posisinya. Bata yang lazim dikenal sebagai material konstruksi tidak lagi semata-mata berfungsi menopang bangunan. Di ruang pamer, material tersebut berubah menjadi medium untuk menyampaikan gagasan.
Eksplorasi Andy terhadap material juga membawa karya ini ke persoalan lingkungan.
Ia menilai penggunaan material bangunan harus didahului riset yang memadai. Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah penggunaan bata konvensional berbahan tanah liat yang jika dieksploitasi secara berlebihan dapat memberi tekanan terhadap sumber daya alam.
Dari persoalan tersebut, Andy mengembangkan eksperimen material dengan mengombinasikan terakota, PVC, dan plastik limbah.
Eksperimen tersebut memperlihatkan upayanya mencari kemungkinan bahan bangunan yang tidak sepenuhnya bergantung pada eksploitasi material alam.
Dengan demikian, Cakra Manggilingan tidak berhenti sebagai karya yang berbicara tentang estetika. Di dalamnya terdapat pertanyaan yang lebih luas: bagaimana arsitektur dapat terus berkembang tanpa memutus hubungan dengan lingkungan?
Andy juga menyoroti pendidikan arsitektur di Indonesia yang menurutnya masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan pengetahuan arsitektur lokal.
Setelah masa kolonial dan kemerdekaan, pendidikan arsitektur di Indonesia dinilai banyak berkiblat pada pendekatan Barat. Padahal, menurut Andy, rumah-rumah tradisional Nusantara menyimpan pengetahuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi perkembangan arsitektur masa kini.
Ia tidak melihat upaya kembali kepada pengetahuan Nusantara sebagai bentuk penolakan terhadap arsitektur Eropa.
Sebaliknya, Andy ingin membangun posisi yang lebih setara—bahwa Indonesia memiliki pengetahuan arsitektur yang layak dipelajari dan dikembangkan sendiri.
“Arsitektur Eropa dan Nusantara sama-sama baik dengan caranya masing-masing, tetapi kita tidak boleh merasa inferior dari arsitektur Barat atau Eropa,” ujarnya.
Moderator Wicara Seniman, Asmudjo J. Irianto, melihat pertemuan arsitektur dan seni rupa bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam sejarah seni, arsitektur bahkan telah lama berjalan berdampingan dengan seni lukis dan seni patung.
Dalam seni rupa kontemporer, batas antardisiplin semakin cair. Seniman dapat masuk ke wilayah desain dan arsitektur, sementara arsitek dapat membawa praktiknya ke dalam ruang seni.
Asmudjo menilai Andy Rahman merupakan salah satu arsitek asal Surabaya yang memiliki identitas kuat melalui praktik arsitekturnya. Kualitas artistik, menurut dia, dapat lahir dari pertemuan antara pengetahuan teknis, pendekatan personal, dan estetika.
Ketika arsitektur masuk ke ruang pamer, orientasinya pun berubah. Bangunan biasanya dituntut menjawab kebutuhan fungsi, sedangkan instalasi seni memiliki kebebasan lebih besar untuk berbicara mengenai gagasan.
Pertemuan itulah yang membuat Cakra Manggilingan menarik dalam konteks ARTSUBS 2026.
Karya Andy bukan sekadar membawa sebuah bangunan ke dalam ruang seni. Ia membawa cara berpikir arsitektur—tentang material, lingkungan, tradisi, ruang, dan manusia—lalu mengubahnya menjadi pengalaman artistik.
Pada akhirnya, Cakra Manggilingan menjadi semacam pengingat bahwa masa depan arsitektur mungkin tidak selalu harus dicari jauh ke luar. Sebagian jawabannya bisa jadi masih tersimpan dalam pengetahuan Nusantara yang selama ini berada begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.




























