Dengan selesainya jalan tol Probowangi, mobilitas kendaraan ke wilayah Timur Jawa akan semakin meningkat. Volume kendaraan menuju Bali, NTB dan NTT tentu ikut bertambah. Masalahnya, kemacetan di penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk seakan menjadi persoalan klasik yang belum menemukan solusi memadai.
bongkah.id – Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi atau Probowangi akhirnya menembus Paiton.
Segmen Gending-Kraksaan-Paiton sepanjang 23,515 kilometer resmi beroperasi tanpa tarif mulai Rabu (30/9/2026) pukul 10.00 WIB.
Di balik pembukaan itu terdapat perjalanan pembangunan yang tidak pendek.
Groundbreaking Tol Probowangi dilakukan pada 6 Februari 2023. Saat itu pemerintah menetapkan investasi sekitar Rp10,7 triliun untuk Tahap I ruas Gending-Besuki sepanjang 49,68 kilometer.
Tahap tersebut dibagi menjadi Gending-Kraksaan, Kraksaan-Paiton dan Paiton-Besuki.
Menteri PUPR ketika itu, Basuki Hadimuljono, menargetkan pembangunan tahap pertama selesai paling lambat Oktober 2024.
Namun perjalanan proyek berlangsung lebih panjang hingga segmen Gending-Paiton baru resmi beroperasi pada 30 September 2026.
Direktur Utama PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB) Adi Prasetyanto menjelaskan, Tol Probowangi secara keseluruhan memiliki panjang sekitar 175 kilometer dan dibagi menjadi tujuh seksi.
Ruas yang kini terbuka menjadi bagian dari jalan yang kelak menghubungkan jaringan Tol Trans Jawa hingga Banyuwangi.
Gratis 14 Hari
Selama 14 hari pertama, pengguna jalan belum dikenakan tarif. Setelah masa sosialisasi, tarif Golongan I Gending-Paiton ditetapkan Rp36.000.
Bagi masyarakat, angka investasi triliunan rupiah itu akhirnya hadir dalam bentuk sederhana, perjalanan yang lebih cepat.
Dari Probolinggo menuju Besuki yang sebelumnya sekitar dua jam diproyeksikan menjadi sekitar 1 jam 15 menit.
Tetapi pembangunan jalan belum berarti perjalanan ke Bali selesai. Sebab setelah jalan berakhir di Banyuwangi, masih ada Selat Bali yang harus diseberangi.
Di situlah cerita berikutnya dimulai.






























