
bongkah.id – Di sebuah kampung, nilai Pancasila tidak berhenti sebagai hafalan. Ia terlihat ketika warga menjaga lingkungan bersama, membantu tetangga, menggerakkan usaha kecil, hingga menyelesaikan persoalan kampung secara gotong royong.
Model kehidupan seperti itulah yang dibawa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ke tingkat nasional melalui inovasi Kampung Pancasila.
Hasilnya, Surabaya meraih Terbaik 1 Tingkat Nasional Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) 2026 dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI.
Penghargaan kategori Perencanaan dan Pencapaian Daerah Tingkat Kota Terbaik 1 tersebut diterima Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam Knowledge Sharing Pembangunan Daerah 2026 di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Yang membuat capaian ini menarik, penilaian nasional tidak hanya melihat dokumen perencanaan di atas meja. Tim penilai Bappenas turun langsung melihat praktik pembangunan di lingkungan warga.
Dua Kampung Diuji Langsung
Kepala Bappeda Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu menjelaskan, Surabaya harus melewati tiga tahapan sebelum dinyatakan sebagai kota terbaik.
Tahap pertama berupa seleksi administrasi. Setelah lolos, tim penilai melakukan verifikasi lapangan pada Juli 2026. Surabaya kemudian masuk tahap wawancara bersama tim independen Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian PAN-RB.
Dua wilayah menjadi lokus verifikasi, yakni Kelurahan Banjar Sugihan dan Kelurahan Embong Kaliasin.
Di Banjar Sugihan, penilaian mencakup pengelolaan lingkungan, pemberdayaan ekonomi warga, dan kekuatan gotong royong. Sedangkan Embong Kaliasin menjadi contoh kehidupan sosial yang harmonis, kepedulian antarwarga, serta penguatan ekonomi masyarakat.
“Pembangunan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai pemerintah, masyarakat hingga perguruan tinggi,” kata Maria.
Empat aspek menjadi bagian penting Kampung Pancasila, yakni lingkungan, ekonomi, kemasyarakatan, serta sosial budaya.
1.360 RW Berlomba
Setelah mendapat pengakuan nasional, tantangan berikutnya justru lebih besar. Pemkot Surabaya harus memastikan Kampung Pancasila tidak berhenti sebagai dua lokasi percontohan.
Karena itu, Pemkot menggelar Lomba Kampung Pancasila 2026 yang melibatkan 1.360 RW se-Surabaya.
Sebanyak 950 RW telah memasuki tahap verifikasi lanjutan untuk mencari 35 RW terbaik tingkat kota.
Ketua Satgas Kampung Pancasila Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan lomba tersebut bukan semata-mata mencari juara.
“Lomba Kampung Pancasila bukan sekadar kompetisi untuk mencari juara, tetapi sarana mendorong setiap RW mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan yang nyata, terukur, partisipatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan pola itu, penghargaan PPD 2026 menjadi lebih dari sekadar prestasi administratif. Ukurannya kini berada di tingkat paling dekat dengan warga, apakah gotong royong, kepedulian sosial, ekonomi kerakyatan, dan kepedulian lingkungan benar-benar menjadi kebiasaan di kampung-kampung Surabaya?.




























