PENGAMAT politik memprediksi, sikap integritas dan etika politik cawali Kota Surabaya Eri Cahyadi mulai diragukan masyarakat Surabaya. penilaian itu datang, karena tidak disiplin dan punya rasa menghormati terhadap undangan KPU Surabaya untuk menghadiri deklarasi kampanye damai. Eri tidak hadir tanpa alasan. Ironisnya dalam waktu sama, menghadiri acara berdoa bersama sembilan ulama.

bongkah.id – Integritas dan etika berpolitik cawali Eri Cahyadi mendapat sorotan masyarakat. Pun dipertanyakan kualitasnya. Ini karena kesengajaan kader PDI Perjuangan itu tak menghadiri deklarasi damai Pilkada Surabaya 2020 di Hotel Singghasana, Sabtu (26/9/2020) malam. Kubu Eri hanya diwakili cawawali Armuji. Tidak demikian dengan paslon Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno. Paslon nomor urut 2 ini datang bersama.

“Menghadiri deklarasi dama Pilkada 2020 yang digelar Bawaslu itu, harusnya menjadi ketentuan yang disepakati semua paslon. Komitmen itu harus bersama. Tidak mungkin sendirian,” kata pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo di Surabaya, Minggu (27/9/2020).

Menurut dia, kegiatan deklarasi damai yang digelar Bawaslu itu tahapan penting. Tahapan semua paslon melakukan komitmen. Menjalani tahapan Pilkada Surabaya 2020 dengan bersih sesuai aturan yang berlaku. Salah satunya kampanye yang dimulai pada 26 September sampai 5 Desember 2020.

Dikatakan, jika ingin melaksanakan demokrasi dengan baik, semua paslon harus ada kesepakatan bersama. Tidak bisa hanya satu (paslon) yang datang dan yang lainnnya tidak datang atau diwakili. Dari fakta politik yang ditunjukan Eri Cahyadi dengan tidak menghadiri deklarasi damai tersebut, saat ini masyarakat Surabaya sudah tahu kualitasnya dalam berpolitik. Saat ini masyarakat sudah memiliki penilaian tersendiri. Tidak disiplinnya memenuhi aturan akan menjadi catatan masyarakat.

DALAM acara Deklarasi Kampanye Damai di Hotel Singgashana, Sabtu 26/9/2020), paslon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno ini menampilkan jula-juli Suroboyo yang sangat gayeng, bernas, dan menggelitik.

“Pasti saat ini masyarakat sudah punya penilaian terhadap Eri Cahyadi. Dia layak dipilih atau tidak. Masyarakat sudah dapat menentukan. Masyarakat Suroboyo ini populer koboi dan slengekan, tapi mereka tidak suka pada pemimpin yang melanggar aturan. Apalagi yang baru calon pemimpin,” ujarnya.

Sementara anggota Bawaslu Surabaya Hadi Sumargo mengatakan, undangan deklarasi damai Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya 2020 itu ditujukan kepada paslon nomor urut 1 Eri- Armuji. Demikian pula paslon nomor urut 2 Machfud-Mujiaman. Kedua paslon diundang bersama tim penghubung paslon dan partai pengusung.

“Bawaslu tidak tahu alasan paslon Eri-Armuji tidak hadir dalam deklarasi damai Pilkada Surabaya 2020. Tidak ada laporan. Hanya paslon nomor urut 2 MA-Mujiaman yang hadir lengkap sesuai dengan undangan yang dikirimkan,” katanya.

Menurutnya, undangan ini menjadi sangat penting untuk dihadiri kedua paslon mengingat dalam acara ini ada penandatanganan pakta integritas. Karena ketidakhadiran itu, kandidat yang tanda tangan pakta integritas hanya paslon Machfud-Mujiaman, sementara Eri-Armuji diwakilkan.

“Harapan Bawaslu semua hadir sesuai dengan apa yang kita sampaikan, karena tanda tangan pakta integritas itu penting,” ujarnya.

Kehadiran paslon dalam deklarasi damai itu, ditegaskan, sangat penting penting. Sebagai wujud komitmen bersama masing-masing paslon untuk memegang teguh peraturan, sesuai ketentuan undang-undang di antaranya menjaga protokol kesehatan selama pilkada, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Perilaku Eri Cahyadi yang tidak menghargai undangan Bawaslu itu, tercermin dengan sikap leluasanya saat menghadiri pertemuan dengan sembilan ulama. Yang dikemas tim pemenangannya dalam acara pemberian doa, Sabtu (26/9/2020) malam. Sembilan ulama NU yang hadir adalah KH Mas Mansur, KH Abdullah Habsyi, KH Kemas Abdurrahman, KH Abdullah Qosim, KH Widi Syafii, KH Muslih, KH Abdul Thowab, KH Abdullah, dan KH Muhaimin Ali.

“Saya berdoa, jika nanti Mas Eri Cahyadi jadi wali kota, apa yang dikerjakannya selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT. Semua penataan, baik penataan pendidikan, perkotaan atau penataan-penataannya lainnya agar tak salah arah, karena mendapat bimbingan Allah SWT,” kata KH Kemas Abdurrahman.

JULA JULI SUROBOYO

Sedangkan sosiolog politik Universitas Negeri Surabaya Agus Mahfud Fauzi menilai, penampilan seni kidungan Jula Juli pasangan Cawali Machfud Arifin (MA) dan Cawawali Mujiaman Sukirno dalam deklarasi kampanye damai, sangat mempresentasikan karakter arek Suroboyo asli.

“Salah satu cara ampuh meraih simpati publik dengan menunjukkan adanya kesamaan ego dan budaya. Kalau sudah begitu, perasaan dekat jadi muncul,” kata Agus Mahfud.

Seperti diketahui, KPU Surabaya menggelar Parade Kesenian dan Deklarasi Kampanye Damai jelang Pilkada Surabaya 2020 di Singgasana Surabaya, Sabtu (26/9) malam.

Acara tersebut dihadiri paslon dengan nomor urut 2 yakni Machfud Arifin dan Mujiaman. Paslon nomor urut 1 dihadiri Cawawali Armuji, sementara Cawali Eri Cahyadi tidak hadir. Kesenian kidungan Jula-Juli dibawakan langsung Cawawali Mujiaman, sedangkan Cawawali Armuji melakukan orasi dan menyanyikan lagu-lagu kampanye dengan diiringi kelompok pengamen jalanan.

Pemilihan Jula Juli, menurut Agus Mahfud, mendapatkan perhatian tersendiri. “Jula juli itu ya warga Surabaya. Terbuka, original dan tidak dibuat-buat. Jula juli itu juga wujud dari ceplas ceplosnya warga Surabaya,” katanya.

Sementara Direktur Sejahtera Initiatives Eko Ernada berpendapat, ketidakhadiran Eri Cahyadi bisa menimbulkan spekulasi terkait kondisi kesehatannya. “Ini kan lagi masa pandemi ya. Jadi sangat mungkin kita jadi bersepekulasi, apakah ini terkait COVID-19 atau tidak. Namun, terlepas dari itu ketidakhadiran itu menunjukan tidak menghargai proses demokrasi yang sedang berjalan,” ujarnya.

Ketidakhadiran Eri Cahyadi dalam acara yang digelar KPU itu, menurut dia, menjadi indikator kualitas kader PDIP itu dalam menghargai tahapan demokrasi. Dengan tidak menghadiri agenda KPU tersebut, masyarakat Surabaya kini sudah mengetahui kualitas etika berpolitik Eri Cahyadi. Etika berpolitik “Semau Gue” yang berpotensi menggoyang sistem pemerintahan Kota Surabaya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya Nur Syamsi memastikan, pihaknya telah mengundang dua pasangan calon untuk hadir acara Parade Kesenian dan Deklarasi Kampanye Damai. Namun Cawali Eri Cahyadi tidak hadir. Tanpa alasan.

Sebagaimana diketahui, Pilwali Kota Surabaya 2020 diikuti 2 paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya. Paslon nomor urut 1 Eri Cahyadi dan Armuji yang diusung PDI Perjuangan dan didukung PSI. Mendapat tambahan dukungan enam partai politik non parlemen. Yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Hanura, Partai Berkarya, PKPI, dan Partai Garuda.

Sementara Paslon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno. Mereka diusung koalisi delapan partai. Yakni PKB, PPP, PAN, Golkar, Gerindra, PKS, Demokrat, dan Partai NasDem. (rim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here