
bongkah.id — Muktamar NU ke-35 tidak hanya menjadi momentum berkumpulnya warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Kedatangan para tamu juga dimanfaatkan masyarakat Jombang untuk memperkenalkan potensi seni dan budaya lokal.
Salah satunya melalui Open Studio Pelukis Pasir Jombang yang digelar Mohamad Akhyak pada 23–31 Agustus 2026.
Di ruang sederhana itu, pengunjung tidak sekadar melihat lukisan. Mereka dapat menyaksikan bagaimana pasir, material yang selama ini dianggap sederhana, diolah menjadi karya visual dengan karakter kuat.
Daya tarik lukisan pasir justru terletak pada paradoks tersebut. Butiran pasir yang mudah berhamburan dapat disusun menjadi wajah, garis, bayangan, dan ekspresi yang tampak hidup.
Sejumlah karya yang dipajang menampilkan potret tokoh dengan permainan gelap-terang yang tegas. Dari kejauhan tampak seperti gambar grafis. Namun semakin dekat diamati, tekstur pasir menjadi unsur penting yang membedakannya dari lukisan konvensional.
Konsep open studio membuat pengalaman tersebut semakin menarik. Pengunjung dapat berdialog langsung dengan seniman, melihat bahan yang digunakan, sekaligus memahami proses kreatif di balik sebuah karya.
“Lukisan pasir memiliki karakter yang berbeda dengan lukisan pada umumnya. Pasir bukan hanya menjadi media, tetapi juga memberikan tekstur, warna, dan kesan alami pada setiap karya,” kata Akhyak.
Sejarah Lukisan Pasir di Indonesia
Lukisan pasir sebagai bentuk seni pertunjukan mulai dikenal dan berkembang di Indonesia sekitar 2008–2012.
Perkembangannya tidak terlepas dari munculnya seni sand animation, yakni teknik menggambar menggunakan pasir di atas permukaan transparan yang diterangi cahaya dari bawah.
Teknik tersebut mendapat perhatian luas setelah aksi seniman internasional, termasuk Ksenia Simonova pada 2009, dikenal melalui berbagai media dan tayangan televisi.
Di Indonesia, seni lukis pasir kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang kerap hadir dalam acara televisi, panggung hiburan, hingga berbagai kegiatan publik.
Popularitasnya mencapai puncak sekitar 2012–2013. Salah satu nama yang ikut memperkenalkan seni ini kepada masyarakat luas adalah Vina Candrawati, yang dikenal setelah menjadi runner-up Indonesia Mencari Bakat Season 3.
Seiring waktu, seni pasir berkembang dalam berbagai bentuk. Tidak hanya sand animation di atas meja cahaya, sejumlah seniman mengembangkan lukisan pasir kering, termasuk menggunakan pasir berwarna di dalam botol.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasir bukan lagi sekadar material alam. Di tangan seniman, karakter warna, tekstur, ukuran butiran, dan sifat alaminya dapat menjadi bagian dari bahasa visual.
Gagasan itulah yang terus dikembangkan Akhyak. Pelukis pasir asal Jombang tersebut konsisten menggunakan pasir pantai dari berbagai daerah di Indonesia sebagai medium berkarya.
Menurutnya, proses membuat lukisan pasir membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsistensi, dan kepekaan artistik. Setiap bagian harus ditata secara cermat agar menghasilkan komposisi yang diinginkan.
Teknik lukisan pasir yang dikembangkannya juga telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor 00757133.
Namun, bagi Akhyak, pengakuan tersebut bukan tujuan akhir. Ia justru ingin seni lukisan pasir terus berkembang dan dikenal generasi muda.
Sebagai guru Seni Budaya di MAN 3 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, ia juga menggunakan pengalaman berkesenian sebagai bagian dari pembelajaran.
Siswa didorong tidak hanya mengenal teori seni, tetapi mengalami sendiri proses kreatif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
Kehadiran Open Studio Pelukis Pasir dalam momentum Muktamar NU ke-35 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pameran.
Para tamu Muktamar memperoleh kesempatan mengenal sisi lain Jombang, kota pesantren yang juga memiliki ruang bagi seni, kreativitas, dan ekonomi kreatif.
Muktamar membawa tamu datang ke Jombang. Seni menjadi salah satu cara masyarakat menyambut mereka beserta keunikan lukisan pasir.



























