Gagal ginjal kronis bukan hanya masalah kesehatan. Cuci darah rutin dapat menggerus pendapatan keluarga dan meningkatkan beban ekonomi pasien.

bongkah.id – Gagal ginjal kronis bukan sekadar cerita tentang organ tubuh yang kehilangan kemampuan menyaring darah.

Di balik rutinitas pasien menjalani cuci darah dua hingga tiga kali dalam sepekan, ada cerita tentang pekerjaan yang hilang, pendapatan keluarga yang menyusut, perjalanan panjang menuju rumah sakit, hingga kecemasan menghadapi masa depan.

ads

Di Indonesia, jumlah pasien yang membutuhkan terapi pengganti ginjal terus menunjukkan peningkatan. Lebih dari 200.000 orang disebut telah menjalani cuci darah, sementara sekitar 60.000 pasien baru membutuhkan terapi tersebut setiap tahun.

Angka itu menggambarkan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar masalah medis.

Gagal ginjal dapat menciptakan sebuah lingkaran yang sulit diputus. Penyakit menurunkan kemampuan bekerja, pendapatan keluarga ikut turun, sementara kebutuhan pengobatan tetap berjalan.

Ketika kemampuan ekonomi melemah, pasien dan keluarga semakin rentan jatuh miskin. Inilah yang bisa disebut sebagai lingkaran racun gagal ginjal.

Di antara faktor yang berkontribusi terhadap kerusakan ginjal, diabetes menjadi salah satu pemicu utama. Data yang dihimpun menunjukkan diabetes berkontribusi sekitar 29 persen, disusul infeksi 20 persen dan hipertensi 19 persen.

Masalahnya, penyakit-penyakit tersebut sering berkembang perlahan. Seseorang dapat merasa sehat selama bertahun-tahun sebelum kerusakan ginjal mencapai tahap berat.

Karena itu, menjaga kesehatan ginjal tidak cukup dilakukan ketika seseorang sudah membutuhkan cuci darah.

Pola makan menjadi salah satu titik penting. Konsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan perlu dikendalikan.

Makanan kemasan juga perlu diperhatikan karena kandungan natrium dan gula kadang jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Kebiasaan mengonsumsi obat atau suplemen secara sembarangan juga patut dihindari. Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang tanpa pengawasan medis dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal. Persoalan semakin kompleks ketika pasien sudah memasuki fase gagal ginjal kronis.

Hemodialisis umumnya harus dilakukan secara rutin. Tanpa jaminan kesehatan, biaya satu kali cuci darah dapat berkisar Rp800.000 hingga Rp2,5 juta.

Jika dilakukan dua kali seminggu, biaya tahunan dapat mencapai puluhan hingga lebih dari Rp200 juta, belum termasuk pemeriksaan laboratorium, obat-obatan, pembuatan akses pembuluh darah, transportasi dan kebutuhan pendukung lainnya.

Di sinilah BPJS Kesehatan menjadi sangat penting.

Melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pasien dengan kepesertaan aktif dapat memperoleh penjaminan layanan gagal ginjal sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku.

Hemodialisis, CAPD hingga transplantasi ginjal termasuk layanan yang dapat dijamin dalam skema JKN sesuai regulasi.

Namun, biaya kesehatan bukan hanya perkara tagihan rumah sakit. Ada ongkos transportasi. Ada keluarga yang harus mengantar pasien berulang kali. Ada pekerjaan yang terpaksa ditinggalkan. Juga ada penghasilan yang hilang.

Bagi keluarga miskin, biaya-biaya tersebut dapat menjadi beban yang tidak kalah berat dibanding biaya medis. Karena itu, menjaga ginjal sejak dini sesungguhnya adalah investasi sosial sekaligus ekonomi.

Mengendalikan gula darah dan tekanan darah, menjaga pola makan, cukup minum sesuai kebutuhan dan kondisi tubuh, rutin memeriksakan kesehatan serta tidak sembarangan mengonsumsi obat adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Ginjal bekerja diam-diam. Ketika gejalanya mulai terasa, kerusakan bisa saja sudah jauh berkembang.

Dan ketika cuci darah menjadi rutinitas, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menyembuhkan penyakit.

Pertanyaannya berubah menjadi lebih mendasar, bagaimana seorang pasien tetap bisa hidup layak ketika penyakit telah mengambil sebagian besar kemampuan ekonominya?

Di titik itulah kesehatan bertemu dengan keadilan sosial.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini