Anak muda enggan jadi petani menjadi tantangan ketahanan pangan Mojokerto. Pemkab menggelontorkan bantuan Rp3,2 miliar dan mendorong modernisasi pertanian.

bongkah.id – Profesi petani masih dianggap kurang menarik oleh sebagian anak muda. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor pertanian sekaligus ketahanan pangan di Kabupaten Mojokerto.

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra mengakui masih banyak generasi muda yang enggan terjun ke dunia pertanian. Padahal, keberadaan petani menjadi salah satu penopang utama kebutuhan pangan masyarakat.

ads

“Anak-anak sekarang ini tampak enggan menjadi petani. Padahal petani itu keren. Kita ini tidak bisa makan kalau tidak ada petani,” kata Gus Bupati saat menghadiri kegiatan Pertanian Komunal Bersama Milenial dan Penyaluran Bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto di Pujasera Desa Pugeran, Kecamatan Gondang, Selasa (19/08-2026) pagi.

Menurutnya, salah satu penyebab pertanian kurang diminati generasi muda adalah pekerjaan tersebut masih identik dengan aktivitas fisik yang berat dan penggunaan peralatan sederhana.

Karena itu, modernisasi pertanian dinilai menjadi salah satu jalan untuk mengubah pandangan tersebut. Teknologi dan mesin pertanian diharapkan mampu membuat pekerjaan petani lebih efisien sekaligus memberikan peluang ekonomi yang lebih baik.

“Dengan modernisasi alat-alat pertanian ini akan lebih keren untuk menjadi petani. Dengan alat ini juga biaya produksi minim dan hasil produksinya lebih banyak,” ujarnya.

Untuk mendorong pertanian semakin produktif dan menarik bagi generasi muda, Pemerintah Kabupaten Mojokerto menyalurkan bantuan dengan total nilai lebih dari Rp3,2 miliar.

Bantuan tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Mojokerto serta bantuan Pemerintah Pusat melalui skema non-APBD.

Bantuan diberikan kepada kelompok tani dalam bentuk sarana produksi, pelatihan, peternakan hingga peralatan mekanisasi pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Ludfi Ariyono menjelaskan, dari anggaran APBD terdapat bantuan pelatihan petani milenial untuk sembilan kelompok tani dengan nilai Rp50 juta.

Selain itu, sembilan kelompok tani memperoleh bantuan ternak ayam, pakan dan kandang senilai Rp950 juta. Satu kelompok tani juga menerima bantuan itik dan pakan senilai Rp40 juta.

Sementara dari bantuan non-APBD, sektor pertanian Mojokerto mendapatkan dua unit combine harvester dengan nilai total Rp1,18 miliar.

Kemudian satu unit traktor roda empat senilai Rp520 juta serta rehabilitasi lima jaringan irigasi tersier dengan nilai Rp500 juta.

Pemkab Mojokerto juga berharap bantuan yang diberikan kepada kelompok tani mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi keluarga penerima.

“Kita berharap bantuan yang diberikan kepada 18 kelompok tani digunakan dengan baik, kemudian didampingi oleh penyuluh pertanian. Itu akan meningkatkan atau memberikan tambahan nilai ekonomi buat keluarganya,” tandas Bupati Al Barra.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini