STATEMENT Politik Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dalam peresmian Kantor DPP PDIP secara daring, Rabu 28/10/2020), menuai polemik. Menggelinding bak bola api liar yang menghanguskan beragam program politik menjelang Pilkada Serentak 2020.

bongkah.id – Bola api politik dilemparkan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Statement politik yang tidak biasa dia lakukan, khususnya menjelang gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Anak kedua Bung Karno itu, biasanya sangat hati-hati dalam berstatemen. Pilihan katanya pun sangat santun, khususnya buat kaum yang ada di luar PDI Perjuangan. Kaum yang dibutuhkan suara dukungannya untuk mendukung pencalonan para jagoan PDI Perjuangan dalam Pilkada.

Namun, tidak demikian yang dilakukan adik Guntur Soekarnoputra itu. Saat meresmikan kantor DPP PDIP secara virtual, Rabu (28/10/2020), tetiba dia mengeluarkan statemen politik yang sangat mengejutkan. Bahkan mampu membuat merah telinga generasi milenial. Generasi yang suara dukungannya sangat dibutuhkan untuk mendukung para calon kepala daerah yang diusung dalam Pilkada Serentak 2020.

Statemen politik yang dilontarkan Megawati, adalah mempertanyakan sumbangsih generasi milenial kepada negara selain menggelar demonstrasi. Tidak hanya itu, dia juga meminta Presiden Joko Widodo untuk tak memanjakan generasi milenial sambil.

Statement itu diterjemahkan para politikus partai dan pengamat, sebagai bentuk teguran politik dari Ketua Umum Partai Politik pada Petugas Partai, agar menghentikan memanjakan generasi milenial. Sebuah teguran politik dari Ketua Umum Partai Politik terhadap Petugas Partai, yang telah melakukan sebuah kesalahan politik cukup mendasar.

Pendapat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mempertanyakan sumbangsih generasi milenial kepada negara selain menggelar demonstrasi, menurut Politikus DPP Partai Demokrat Syahrial Nasution, memiliki dua asumsi kategori.

Pada kategori politik dapat diasumsikan sebagai bahasa simbolik politik. Megawati tengah mempertanyakan sumbangsih generasi milenial di dunia politik nasional. Jika belum memberikan sumbangsih, maka generasi milenial itu tak patut terjun ke dunia politik.

Sementara permintaan agar Presiden Jokowi tidak memanjakan generasi milenial, Syahrial berasumsi, Megawati secara simbolik tengah mengungkap isi hati kecinya yang tidak setujuan atas keputusan politik Jokowi dalam Pilkada 2020. Mengijinkan anak sulungnya Gibran Rakabuming ikut Pilkada Kota Solo dan menantunya Bobby Nasution ikut Pilkada Kota Medan.

Sementara Gibran dan Bobby yang terkategori kaum milenial, sampai saat ini belum memberi sumbangsihnya pada dunia politik nasional, khususnya PDIP yang digunakan sebagai kendaranan maju dalam Pilkada 2020.

“Ngomong sama presiden jangan manjain anak muda. Tapi PDIP memaksakan Bobby Nasution dan Gibran jadi calon walikota. Apa hebatnya mereka sebelum Pak Jokowi jadi presiden, selain sebagai anak dan menantu?” tutur Syahrial lewat akun Twitter pribadinya, @syahrial_nst, Kamis (29/10/2020).

Sebagaimana diketahui, Bobby Nasution adalah menantu Jokowi yang diusung PDIP menjadi calon wali kota Medan. Dia berpasangan dengan Aulia Rachman yang merupakan kader Gerindra. Sementara Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang diusung PDIP sebagai calon wali kota Solo. Gibran berpasangan dengan Teguh Prakosa yang juga kader PDIP.

Pada kesempatan berbeda, aAnggota Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan juga mengkritik pernyataan Megawati. Menurut doktor sepakbola itu, demo yang dilakukan mahasiswa selama ini adalah peringatan bagi pemimpin negara.

“Demo yg mereka lakukan adlh sirine buat pemimpinnya, itu sejak dulu sudah ada bu,” cuitan Hinca lewat akun twitternya @hincapandjaitan.

Selain itu, Hinca juga mengunggah sejumlah foto berita tentang prestasi anak muda indonesia. Misalnya, “Mahasiswa UGM Sabet Gelar Juara Di Kompetisi Roket”; “Rancang Aplikasi Go-Elderly, 6 Mahasiswa UI Juarai Kompetisi Internasional”; “Pelajar SMA Bawa Indonesia Juara 2 Dunia Ajang IEO 2020”; dan “Robot Sterilisasi Covid-19 Mahasiswa Brawijaya Juara 1 Tingkat Asia”.

Deretan berita tentang prestasi generasi milenial Indonesia itu, untuk menunjukkan pada Megawati jika generasi milenial pun tak hanya sibuk menggelar demonstrasi.

“Untuk prestasi lainnya, mengapa ibu harus bertanya? Bukankah sejak dulu ragam prestasi dunia ditorehkan milenial kita? Apa ibu belum tahu? Berikut Saya sertakan prestasi terbaru anak bangsa kita,” cuit Hinca selanjutnya.

Sementara Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Ossy Dermawan menilai, statemen Megawati yang mempertanyakan sumbangsih generasi milenial kepada negara itu sangatlah tidak bijak. Pun pamali disampaikan oleh seorang Ketua Umum partai politik, yang bertolak belakang dengan fakta selama ini. Generasi milenial Indonesia banyak menorehkan prestasi di tingkat internasional. Sebuah prestasi yang berdampak politik terhadap citra pemerintah atau negara.

“Jika Bu Megawati mempertanyakan sumbangsih generasi milenial terhadap negara, yang bertolak belakang dengan fakta catatan prestasi para generasi milenial di tingkat dunia. Karena itu, saya pingin tahu jawabannya jika ada kaum milenial juga mempertanyakan sumbangsih pemerintah bagi kaum milenial dalam menggapai cita-cita mereka di masa depan,” kata Ossy lewat pesan singkat, Kamis (28/10).

Menurut dia, alangkah baiknya jika semua pihak sama-sama berperan aktif dalam memberikan sumbangsih. Semua kalangan juga perlu saling menghargai. Saling menghormati. Sehingga didapatkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik lagi ke depannya.

Dikatakan, banyak generasi muda meraih prestasi dengan caranya sendiri selain hanya menggelar demonstrasi. Terlebih, demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berujung ricuh, dengan terjadinya perusakan fasilitas umum yang diduga kuat tidak dilakukan oleh mahasiswa. Tetapi oleh pihak yang memang berniat merusak fasilitas.

Hal itu terungkap dalam hasil investigasi Narasi TV di channel YouTube-nya, https://www.youtube.com/watch?v=Pfjjn0dk_iA&t=44s. Dalam tayangan itu terekam sekelompok pemuda dengan berkostum jaket hodoo hitam, yang terorganisir melakukan pembakaran terhadap Halte TransJakarta terbakar hebat.

Namun, dalam rilis Mabes Polri, ternyata para tersangka yang dipamerkan tidak sama dengan yang tayang di Narasi TV. Artinya para pelaku pembakar itu sampai detik ini masih bebas berkeliaran, yang bukan kemuskilan akan melakukan pembakaran dan provokasi dengan memanfaatkan suasana unjuk rasa yang dilakukan buru dan mahasiswa. (rim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here