Kecak Ramayana karya Fa'izin.

bongkah.id — Filadelvia Galeri kembali menyapa publik melalui pameran bertajuk “Voyage, The Journey of Master”. Bukan sekadar memajang lukisan, pameran ini mengajak pengunjung menelusuri perjalanan para perupa melalui karya, karakter, dan jejak panjang mereka di dunia seni rupa.

Pameran dibuka pada Rabu, 2 September 2026, dan berlangsung selama sebulan di Filadelvia Galeri, Ruko Taman Puspa Raya D8, Citraland, Surabaya.

ads

Sejumlah perupa populer diundang secara khusus, di antaranya Agus Koecink Sukamto, Jopram, Andi Prayitno, dan Candra Sanjaya. Karya mereka hadir berdampingan dengan koleksi Filadelvia Galeri, antara lain karya Mas Dibyo, Fa’izin, dan Huang Fong.

Pemilik Filadelvia Galeri sekaligus kolektor seni, Freddy Wijaya, mengatakan pameran ini merupakan bentuk penghargaan terhadap konsistensi dan dedikasi para pelukis yang telah menempuh perjalanan panjang di dunia seni rupa, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Karena itu, Voyage, The Journey of Master tidak semata dapat dibaca sebagai pameran lukisan. Ia menjadi ruang untuk melihat bagaimana seorang seniman tumbuh, mencari bentuk, menyerap perubahan zaman, lalu meninggalkan jejak melalui karya.

Topeng, Perempuan, dan Flamboyan

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan Mas Dibyo berjudul “Topeng dan Seikat Flamboyan”. Karya ini menampilkan sosok perempuan yang duduk dengan tubuh sedikit menyamping.

Di pangkuannya terdapat topeng tradisional dengan ekspresi kuat, sementara bunga flamboyan berwarna merah muda hadir di sekitar figur tersebut.

Topeng menjadi elemen penting dalam lukisan. Benda yang lazim dimaknai sebagai penutup atau penyamaran justru diletakkan terbuka di pangkuan sang perempuan.

Dari sini, topeng dapat dibaca bukan hanya sebagai simbol kepura-puraan, melainkan juga identitas, karakter, tradisi, dan ingatan budaya.

Sementara bunga flamboyan menghadirkan kelembutan yang berhadapan dengan ekspresi keras topeng. Kontras itu menciptakan percakapan visual antara manusia dan tradisi.

Tentu, pembacaan tersebut merupakan tafsir visual penonton, bukan klaim mengenai maksud personal sang pelukis. Justru ruang interpretasi semacam itulah yang membuat karya seni terus hidup.

Topeng dan Seikat Flamboyan karya Mas Dibyo.

Energi Kecak Fa’izin

Nuansa berbeda hadir dalam karya Fa’izin berjudul “Kecak Ramayana”. Kerumunan figur laki-laki berkain kotak-kotak hitam-putih memenuhi bidang kanvas. Mereka mengelilingi figur utama yang tampil dengan busana dan atribut pertunjukan tradisional.

Kekuatan karya ini terletak pada ritme kerumunan. Pola kain poleng, gerakan tangan, mulut yang terbuka, serta beragam ekspresi wajah menciptakan kesan seolah adegan pertunjukan sedang bergerak di hadapan mata.

Fa’izin tidak hanya menangkap Kecak sebagai tontonan, tetapi juga energi kolektif sebuah tradisi. Di dalamnya terdapat penari, cerita, ritme, ruang sosial, dan masyarakat yang membuat kesenian tetap hidup.

Kehadiran karya Mas Dibyo dan Fa’izin bersama karya para perupa undangan menjadikan Voyage, The Journey of Master memiliki lapisan cerita yang lebih luas.

Di tengah produksi visual yang serba cepat, pameran ini mengajak publik berhenti sejenak untuk melihat bukan hanya apakah sebuah karya indah, tetapi juga siapa senimannya, bagaimana perjalanan karyanya, tradisi apa yang dibawanya, dan bagaimana karya itu bertahan melewati zaman.

Bagi Freddy Wijaya, mengoleksi seni bukan sekadar menyimpan benda bernilai estetis. Di dalamnya terdapat perjalanan, pengalaman, dan rekam jejak seorang seniman.

Maka, perjalanan sebuah lukisan tidak berhenti ketika kuas meninggalkan kanvas. Perjalanan itu berlanjut ketika karya bertemu mata penonton dan melahirkan tafsir baru.

Selama sebulan, Filadelvia Galeri menjadi ruang pertemuan antara seniman dan kolektor, tradisi dan zaman, serta karya dan publik. Dari sanalah sebuah lukisan tak lagi sekadar tergantung di dinding. Ia mulai bercerita.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini