
bongkah.id — Di laman resminya, PT Annisa Ahmada Travelindo menawarkan empat janji kepada calon jemaah: amanah, proses mudah dan cepat, fasilitas terbaik, serta layanan legal dan terakreditasi.
Namun janji tersebut kini diuji oleh persoalan keberangkatan sekitar 360 jemaah umrah asal Mojokerto dan Jombang yang tidak berangkat sesuai jadwal pada 30 Agustus 2026.
Pihak PT Annisa Ahmada Travelindo (AAT) atau ITS Grup menyebut penundaan terjadi karena persoalan dengan agen tiket pesawat di Jakarta. Travel mengaku telah membayar tiket, tetapi tiket tersebut bermasalah sehingga keberangkatan ratusan jemaah harus ditunda.
Bagi jemaah, alasan tersebut tidak serta-merta menghapus kegelisahan. Sebab, sebagian di antara jbb telah melunasi biaya perjalanan sejak jauh hari, mengambil cuti kerja, bahkan menggelar syukuran sebelum berangkat.
Salah satunya Novi Atriani (25), jemaah asal Mojoanyar, Mojokerto. Novi memilih paket Milad seharga Rp33,8 juta untuk perjalanan umrah 12 hari. Paket tersebut mencakup empat hari di Madinah dan enam hari di Makkah.
Ia membayar uang muka Rp15 juta pada 17 Mei 2026. Pelunasan dilakukan pada 27 Juni 2026. Belum selesai sampai di situ. Novi kemudian diminta membayar tambahan Rp3 juta dengan alasan kenaikan avtur atau bahan bakar pesawat.
Biaya tambahan tersebut dibayarnya pada 7 Agustus 2026. Total uang yang telah disetorkan Novi kepada travel mencapai Rp36,8 juta.
Jadwal keberangkatan kemudian tiba. Novi dijanjikan berangkat pada 30 Agustus 2026. Ia bahkan telah mempersiapkan diri dan mengikuti instruksi untuk berkumpul di bandara.
Namun, beberapa jam sebelum keberangkatan, kabar penundaan datang.
“Dijanjikan berangkat 30 Agustus kemarin, jam 3 disuruh kumpul di bandara, saya sudah siap-siap, tiba-tiba jam setengah 11 malam dikabari kalau ada miss komunikasi dengan pihak tiket,” kata Novi kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Jadwal kemudian digeser menjadi 1 September. Gagal. Berikutnya dijanjikan 2 September. Kembali gagal. Terakhir, travel menjanjikan keberangkatan pada 5 September 2026.
Bagi Novi, rangkaian perubahan tersebut telah mengikis kepercayaannya. Ia bersama 14 jemaah lainnya kemudian mendatangi kantor cabang PT Annisa Ahmada di Jalan PB Soedirman, Kota Mojokerto, Kamis (3/9/2026).
Di sana, Novi mengambil keputusan untuk membatalkan perjalanan. Ia meminta refund dan menyatakan siap menerima potongan biaya visa maupun perlengkapan yang memang telah dikeluarkan travel.
“Saya pribadi mau refund karena saya terlanjur kecewa. Kalau awalnya sudah tidak jelas, saya takut ending-nya juga tidak jelas,” ujarnya.
Pihak travel menjanjikan proses refund maksimal tujuh hari. Novi memberi batas. Jika uangnya tidak dikembalikan sesuai kesepakatan, ia mempertimbangkan membawa persoalan tersebut ke kepolisian.
“Dijanjikan refund dalam 7 hari. Kalau sampai batas waktu tidak ada refund, terpaksa saya ambil jalur kepolisian,” tegasnya.
Tidak Semua Jemaah Memilih Refund
Di tengah kekecewaan tersebut, sebagian jemaah masih mempertahankan harapan untuk berangkat.
Novia Setiawati, jemaah asal Sooko, Mojokerto, misalnya, tetap ingin menjalankan ibadah umrah.
Ia telah membayar Rp37,15 juta. Rinciannya, paket Milad Rp33,8 juta, tambahan Rp3 juta, serta tur Kota Thaif Rp350 ribu.
Novia tidak serta-merta percaya pada jadwal baru 5 September. Ia meminta pihak travel membuat surat perjanjian. Jika kembali gagal diberangkatkan pada tanggal tersebut, ia akan memilih refund.
“Saya pakai surat perjanjian, kalau tanggal 5 meleset lagi, saya pilih mundur. Karena saya masih ingin berangkat ke sana,” katanya.
Ada pula Abdul Jalil (53), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis. Jalil hendak umrah bersama anaknya.
Untuk dua orang, ia membayar Rp67,6 juta kepada PT Annisa Ahmada. Yang membuat persoalan ini terasa lebih berat, uang tersebut dikumpulkannya melalui tabungan sejak 1995.
Jalil bahkan telah menggelar syukuran. Keluarga datang untuk mendoakannya sebelum berangkat ke Tanah Suci. Cuti dari tempat kerjanya pun telah disetujui sejak 29 Agustus.
Kini ia berada di antara dua pilihan: tetap berangkat atau meminta uangnya kembali.
“Kalau pasti tanggal xx. Kalau tanggal 5 tidak jadi berangkat, saya minta refund saja,” ujarnya.
Travel Agen Tiket
Manajer PT Annisa Ahmada Cabang Mojokerto, Zulfa Rizki Maulana, membenarkan sekitar 360 jemaah dari Mojokerto dan Jombang terdampak persoalan keberangkatan.
Namun, ia membantah jika persoalan tersebut terjadi karena pihak travel sengaja menelantarkan jemaah. Zulfa menyebut masalah justru terjadi pada agen tiket pesawat di Jakarta.
“Kendalanya ada di agen tiketnya. Kami ditipu agen tiketnya. Jadi, kami masih berusaha untuk memperbaiki kerugian kami. Kami sudah membayar tiketnya,” kata Zulfa.
Menurutnya, jemaah yang seharusnya berangkat pada 30 Agustus diarahkan menunggu jadwal pengganti pada 5 September.
Pihak travel juga menyatakan siap melayani jemaah yang memilih membatalkan perjalanan.
“Pokoknya kita kooperatif dengan jemaah,” ujarnya.
Untuk refund, travel menjanjikan proses maksimal tujuh hari. Namun pengembalian tidak otomatis sebesar seluruh uang yang telah dibayarkan karena terdapat komponen biaya visa dan perlengkapan umrah.
“Kami prioritaskan yang pemberangkatannya paling dekat dulu, kami maksimal satu minggu, dipotong visa dan perlengkapan umrah,” kata Zulfa.
Janji di Situs, Ujian di Lapangan
PT Annisa Ahmada mencantumkan kantor pusat di Jalan KH Wahid Hasyim 172, Jombang. Perusahaan juga memiliki kantor cabang di Jalan PB Sudirman Nomor 52, Kota Mojokerto; Jalan Suryanta Nomor 60, Samarinda; Jalan Petikan Ruko City 9 Blok A32, Driyorejo, Gresik; dan Jalan PB Sudirman Nomor 92, Kediri.
Di situsnya, perusahaan menyatakan berkomitmen memberikan layanan yang amanah, proses mudah dan cepat, fasilitas terbaik, serta menyebut dirinya sebagai biro perjalanan umrah dan haji plus yang resmi terdaftar dan terakreditasi sesuai aturan hukum.
Kini, komitmen tersebut menghadapi ujian nyata. Sebab, ukuran sebuah layanan perjalanan ibadah bukan hanya seberapa menarik paket yang ditawarkan atau seberapa meyakinkan janji yang tertulis di laman perusahaan.
Bagi jemaah yang telah menyerahkan puluhan juta rupiah, ukuran paling sederhana adalah kepastian. Kapan pesawat berangkat. Apakah visa sudah tersedia. Di mana mereka akan menginap. Siapa yang mendampingi.
Dan jika perjalanan batal, kapan uang mereka kembali. Sementara travel menyatakan persoalan berada pada agen tiket dan sedang berupaya memulihkan kerugian, para jemaah kini menunggu bukti penyelesaian.




























