ILUTRASI. Sebanyak ratusan jemaah saat ini telah tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta menggunakan pesawat Saudia SV-816 rute Jeddah (JED) – Jakarta (CGK). Kepulangan jemaah umrah ini merupakan kloter pertama yang berangkat pada tanggal 1 dan 3 November 2020. Namun, para jemaah tersebut akan menjalani isolasi di Asrama Haji. Kebijakan ini untuk mewaspadai masuknya kasus Covid-19 melalui imported case atau kasus dari luar negeri.

bongkah.id – Ada yang berbeda dalam proses pemulangan jemaah umrah Indonesia. Prosesnya sama dengan kedatangan pekerja migran dari luar negeri. Para jemaah akan menjalani tes pemeriksaan sebagai langkah screening Covid-19 dan menjalani karantina. Sebuah kebijakan yang merujuk pada aturan protokol kesehatan dan protokol Covid-19, sebagai termaktub dalam Keputusan Menteri Agama No. 719 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi Covid-19.

Kebijakan ini untuk mewaspadai masuknya kasus Covid-19 melalui imported case atau kasus dari luar negeri. Prinsip penanganannya mengadopsi proses perjalanan dari Indonesia ke luar negeri. Demikian pula sebaliknya. Proses sebagaimana kedatangan pekerja migran Indonesia (PMI).

“Apabila tes menunjukkan hasil tes yang positif (Covid-19), maka jamaah akan dirujuk ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Sedangkan jamaah umrah dengan hasil tesnya yang negatif, maka wajib menjalani isolasi di fasilitas kesehatan yang ditentukan pemerintah,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam pesan singkatnya, Kamis (12/11/2020).

Menurut dia, proses kepulangan jemaah umrah tersebut merupakan regulasi standart protokol kesehatan dan Covid-19. Kebijakan ini harus dilakukan untuk menghadang masuknya virus Covid-19 jenis baru atau jenis lama ke Indonesia. Regulasi ini wajib dipatuhi oleh semua yang terkait.

Dalam regulasi tersebut, diakui, sebenarnya tidak hanya mengatur soal kepulangan jemaah umrah saja. Namun mengatur semua yang terkait penyelenggaran perjalanan ibadah umrah. Misalnya, harus memperhatikan mekanisme karantina dan calon jemaah, memperhatikan kuota pemberangkatan dan pelaporan keberangkatan, sampai mekanisme kedatangan dan kepulangan calon jemaah.

Aturan tersebut sangat kompleks, menyangkut batasan usia, swab test, hingga disiplin protokol kesehatan sepanjang perjalanan dan ibadah. Protokol tersebut meliputi #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan.

Sementara itu, ratusan jemaah saat ini telah tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta menggunakan pesawat Saudia SV-816 rute Jeddah (JED) – Jakarta (CGK). Kepulangan jemaah umrah ini merupakan kloter pertama yang berangkat pada 1 dan 3 November 2020.

“Jadi jemaah umrah yang kembali dari Jeddah jumlahnya ada 256. Ini adalah jemaah dari kloter pertama tanggal 1 dan 3 November lalu,” kata Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta PT Angkasa Pura II Agus Haryadi di Terminal 3 Bandara Soetta, Tangerang, Kamis (12/11/2020).

Sebelumnya calon jemaah umrah kloter pertama diberangkatkan dengan 2 penerbangan. Hal ini karena ada sejumlah calon jemaah yang terkendala persyaratan.

“Seperti kita ketahui, tanggal 1 itu ada pemberangkatan perdana. Namun, tidak terangkut semua, karena syarat-syarat belum lengkap. Kemudian diberangkatkan kembali melalui penerbangan susulan di tanggal 3. Nah, selama kurang lebih 12 hari mereka di sana kemudian hari ini mereka kembali,” ujarnya.

Ironisnya, Kementeerian Agama (Kemenag) mencatat sebanyak 13 jemaah terkonfirmasi positif Covid-19. Menurut Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag, Arfi Hatim, sebanyak 8 jemaah terkonfirmasi positif merupakan jemaah kloter pertama. Sementara 5 jemaah lainnya dari rombongan kloter kedua.

“Adanya kabar jemaah Indonesia terkonfirmasi positif setelah dilakukan pcr swab di Mekah waktu menuju ke porses karantina, itu kabar benar. Mereka berasal dari kloter pertama yang terbang tanggal 1 November. Dari dua kali swab ditemukan 8 jemaah terkonfirmasi positif. Sementara yang 5 jemaan berasal dari kloter kedua yang terbang pada 3 November. Yang kloter tiga, Alhamdulilah tidak ada,” kata Arfi dalam acara talkshow bertajuk “Perkembangan Terkini: Umroh Aman saat Pandemi” yang diselenggarakan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, di Jakarta, Rabu (11/11/2020).

Menurut dia, saat ini jemaah umrah yang terkonfirmasi positif Covd-19 telah ditangani oleh pemerintah Arab Saudi. “Mereka sudah dilakukan proses isolasi sambil tunggu waktu akan dilakukan test swab ulang. Semoga hasilnya sudah negatif,” tambahnya.

Pihaknya pun menuturkan bila kejadian tersebut akan menjadi evaluasi baik bagi Kemenag atau pun pemerintahan Arab Saudi guna melakukan tindakan pencegahan pada pelaksanaan ibadah umrah, sehingga penyelenggaraan dapat berjalan aman dan nyaman.

“Ini titik kritis yang perlu di evaluasi, pertama kita harus pastikan jemaah yang bernangkat dalam kondisi sehat. Sebelumnya kita sudah buat mitigasi dengan mempertimbangkan segala kondisi terburuk. Tapi kemudian di lapangan ada jemaah yang terkonfirmasi posiitif. Karena, sebelum berangkat sudah karantina dan PCR swab test kemudian hasil negatif, yang jadi pertanyaan kenapa di karantina di Arab Saudi terkonfirmasi posiitf, ini ada beberapa kemungkinan yang akan kami evaluasi untuk pengendalian seluruh proses ibadah umrah,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Arab Saudi sendiri membuka kuota visa sebanyak 10 ribu jemaah umroh untuk seluruh dunia. Kuota yang dimiliki Indonesia mencapai 800-1.000 jemaah per hari dan mulai berangkat pada 1 November lalu.

Dari Indonesia sudah 3 kloter dengan total 359 jemaah umrah yang diberangkatkan. Kloter pertama berangkat pada 1 November 2020 sebanyak 224 jemaah, kloter kedua 89 jemaah yang diberangkatkan pada 3 November 2020, dan kloter ketiga diberangkatkan pada 8 November sebanyak 46 jemaah. (rim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here