Komunitas Tombo Ati Jombang menggelar lakon WUH pada Festival Cak Durasim 2026 di Gedung Cak Durasim, Sabtu (5/9/2026).

bongkah.id — Kolong jembatan bukan panggung yang lazim digunakan untuk membicarakan kemiskinan. Namun, di Gedung Cak Durasim, Surabaya, kehidupan mereka yang berada di ruang paling bawah itu justru dibawa ke tengah cahaya.

Komunitas Tombo Ati Jombang menghadirkan lakon “WUH” karya Babe Yuke dalam Festival Ludruk Kepahlawanan Cak Durasim 2026, Sabtu (5/9/2026).

ads

Cerita bergerak dari kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di kolong jembatan. Kelaparan, keterbatasan, konflik, dan kerasnya kehidupan menjadi bagian dari cerita.

Di tengah situasi tersebut muncul Tomblok. Tokoh ini terjebak dalam fantasi tentang kehidupan yang lebih baik. Ia membayangkan jalan pintas untuk mengakhiri kesengsaraan lewat judi online. Namun jalan pintas itu justru membawanya ke dalam situasi tragis.

WUH kemudian menjadi lebih dari sekadar pertunjukan ludruk. Ia seperti cermin yang diletakkan di hadapan penonton untuk melihat kembali persoalan sosial yang masih berlangsung.

Kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Di balik angka terdapat manusia yang berhadapan dengan kebutuhan makan, tempat tinggal, pekerjaan, dan masa depan.

Bank Dunia memperkirakan 64,2 persen penduduk Indonesia pada 2026 masih berada di bawah garis kemiskinan internasional US$8,30 per kapita per hari.

Sementara Badan Pusat Statistik mencatat tingkat kemiskinan Indonesia berdasarkan garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.

Kedua angka tersebut menggunakan standar pengukuran berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Namun, keduanya memperlihatkan bahwa persoalan kesejahteraan masih menjadi isu penting.

WUH menerjemahkan persoalan itu dalam bahasa kesenian. Kemiskinan tidak disajikan sebagai tabel atau grafik, melainkan melalui tokoh, konflik, humor, dan tragedi.

Penonton diajak masuk ke kehidupan orang-orang yang mungkin selama ini hanya mereka lewati tanpa pernah benar-benar dilihat. Di sinilah ludruk menunjukkan fungsi sosialnya.

Sejak lama ludruk tidak hanya menjadi hiburan. Ia juga menjadi ruang untuk menyampaikan kritik, kegelisahan, dan suara masyarakat kecil.

Komunitas Tombo Ati mencoba meneruskan fungsi tersebut dengan pendekatan yang lebih eksploratif. Drama realis dipertemukan dengan unsur ludruk. Bedayan, remo, nyanyian bersama, dan elemen tradisi tetap hadir, tetapi diberi sentuhan artistik yang lebih kontemporer.

Babe Yuke menyebutnya sebagai ludruk alternatif.

Alternatif bukan berarti memutus hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, pendekatan itu menunjukkan bahwa ludruk masih bisa mencari bentuk baru tanpa kehilangan identitas.

WUH juga menyentil persoalan lain yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni keinginan mendapatkan hasil secara cepat.

Tomblok ingin keluar dari kesengsaraan, tetapi pilihan jalan pintas justru menjadi sumber masalah baru. Pesan yang ditawarkan sederhana, bekerja, mencari penghasilan dengan cara yang jujur, dan tidak kehilangan harapan.

Festival Cak Durasim 2026 akhirnya memperlihatkan bahwa ludruk tidak harus memilih antara tradisi atau perubahan. Ia bisa menjaga akar sekaligus membaca zaman.

Jika Joko Sambang dari Mojokerto membawa kepahlawanan dan regenerasi, WUH dari Jombang membawa realitas sosial ke atas panggung.

Keduanya menunjukkan satu hal, selama masyarakat masih memiliki persoalan untuk dibicarakan, ludruk masih memiliki alasan untuk terus hidup.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini