
bongkah.id – Kota Surabaya kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu simpul penting perkembangan seni pertunjukan internasional. Melalui International Meeting of Performing Art and Visual Expression (IMPROVE) 2026.
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) akan mempertemukan akademisi, seniman, peneliti, dan praktisi seni dari berbagai negara dalam sebuah ruang dialog lintas budaya yang mengedepankan kreativitas, riset, dan kolaborasi.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juni–2 Juli 2026 di Graha Sawunggaling UNESA ini terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya.
Selama tiga hari, peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni dari Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Prancis, tetapi juga mengikuti lokakarya, diskusi akademik, hingga tur budaya ke kawasan bersejarah Trowulan, Mojokerto.
Suasana pembukaan pada Selasa (30/6/2026) dirancang menjadi perayaan keberagaman budaya. Penampilan kolaborasi Reog oleh UKM Reog Sawunggaling UNESA akan mengawali seremoni yang dihadiri jajaran pimpinan universitas, delegasi internasional, serta sejumlah pemangku kepentingan kebudayaan.
Malam pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan dari Sekar Alit bersama seniman Singapura Rosemainy Buang, disusul penampilan Sri Mulyani, Dyan Indah Purnama, hingga kolaborasi eksperimental Celia Huet dan Irna Nj.
Memasuki hari kedua, perhatian tidak hanya tertuju pada panggung pertunjukan, tetapi juga pada ruang akademik.
Diskusi bertajuk “Kebijakan dan Strategi Kenaikan Pangkat Dosen melalui Karya Monumental” menghadirkan Dr. Dr. Eko Supriyanto, M.FA. sebagai narasumber. Forum ini menjadi bukti bahwa seni tidak semata dipahami sebagai ekspresi estetika, melainkan juga sebagai karya ilmiah yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Pada sesi pertunjukan, publik akan disuguhi karya-karya dari I Nengah Mariasa (Bali), Dedy Setyawan bersama STKIP Citra Bakti Ngada NTT, Yana Endrayanto (Bandung), Autar Abdillah (Surabaya), Hari Ghulur (Madura), UPSI Malaysia, Martina Feiertag (Jerman), hingga Ari Rudenko (Amerika Serikat).
Lebih dari sekadar festival seni, IMPROVE 2026 menghadirkan harapan bahwa perbedaan bahasa, tradisi, dan latar budaya dapat dipertemukan melalui panggung yang sama.
Dari Surabaya, para seniman membuktikan bahwa seni tetap menjadi bahasa universal yang mampu membangun persahabatan, memperkuat jejaring internasional, sekaligus menginspirasi lahirnya kolaborasi kreatif bagi masa depan kebudayaan dunia.




























