
bongkah.id – Puluhan bhikkhu dari sejumlah negara singgah di Surabaya dalam rangkaian Indonesian Walk for Peace 2026, sebuah perjalanan spiritual lintas daerah menuju Candi Borobudur untuk memperingati Hari Raya Waisak 2570 BE.
Sebanyak 50 biksu asal Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia menempuh perjalanan kaki dari Bali melintasi Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta sebelum dijadwalkan tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026. Perjalanan dimulai dari Brahmavihara Arama, Buleleng, Bali, pada 9 Mei 2026.
Indonesian Walk for Peace 2026 merupakan adaptasi dari tradisi Thudong dalam Buddhisme Theravada, yakni praktik berjalan kaki jarak jauh oleh para bhikkhu sebagai bentuk latihan spiritual, kesederhanaan, dan ketekunan.
Selain sebagai laku spiritual, perjalanan tersebut juga membawa misi menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Setelah diterima di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, rombongan rohaniwan Buddha itu melakukan kunjungan ke sejumlah tempat di Surabaya. Salah satunya melakukan audiensi dengan Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Jumat (15/5/2026).
Ketua Panitia Indonesian Walk for Peace 2026, Dr Tosin, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang membawa pesan universal tentang kedamaian.
“Ada 50 biksu beserta pendamping yang berjalan membawa pesan damai. Kami ingin memperkuat persahabatan lintas iman dan budaya, termasuk melalui kunjungan ke tokoh-tokoh agama seperti Uskup Surabaya,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Keuskupan Surabaya Romo Agustinus Hutrin SVD menyebut Uskup Agustinus menyambut gembira kedatangan para pemuka agama Buddha dari beberapa negara tersebut.
Menurutnya, pertemuan itu mencerminkan semangat dialog dan kerja sama lintas agama yang terus dibangun di Indonesia.
“Apalagi Uskup Agustinus sebelum menjadi uskup dikenal sebagai imam yang sangat aktif dalam kegiatan lintas agama di Jawa Timur, Kalimantan, dan Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, keterbukaan dan semangat persaudaraan menjadi hal penting dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. (kim)

























