
bongkah.id – Hakikat sebuah lukisan tak sekadar perpaduan warna yang membentuk gambar di atas kanvas. Di dalamnya tersimpan gagasan, emosi, dan jejak waktu yang merekam perjalanan sebuah karya.
Setiap goresan menyimpan cerita, sementara setiap lapisan warna menjadi saksi dari zamannya.
Namun, di balik keindahan itu, mengintai ancaman yang terus bekerja secara perlahan. Debu, kelembapan udara, perubahan suhu ruangan, hingga paparan sinar matahari dapat menggerus kualitas sebuah lukisan.
Warna memudar, kanvas mengendur, cat retak, bahkan jamur bisa tumbuh dan merusak karya yang telah bertahan puluhan tahun.
“Merawat lukisan sejatinya adalah merawat sejarah yang tersimpan di dalamnya,” ujar Nasrudin RR, pemilik Galeri Q-One di Perumahan Bumi Citra Fajar (BCF), Cluster Milano Blok D 2138-2139, Bulusidokare, Sidoarjo.

Pria berusia 56 tahun asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro, adalah sosok yang masa mudanya gemar melukis, belajar, dan pemain sepak bola Persebo U-18.
Di saat berkecukupan secara ekonomi, ia membangun galeri berlantai tiga yang bukan sekadar ruang pamer untuk karya seni. Di dalamnya tersimpan ratusan koleksi lukisan, juga artefak, buku-buku, hingga berbagai benda yang merekam perjalanan peradaban.
Setiap sudut galeri seolah mengajak pengunjung menelusuri jejak waktu yang terabadikan dalam berbagai bentuk.
Pada 1997, ia memperoleh penghargaan The Master of Genuine Leather of The World dari Asosiasi Industri dan Perdagangan di Italia atas kepiawaiannya mengolah material kulit (leather) industri.

Empat tahun kemudian, pada 2001, lembaga yang sama kembali menganugerahkan gelar The Master of Interior Automotive of the World.
Pengakuan internasional itu membawa kariernya di Italia sebagai konsultan spesialis kulit untuk industri otomotif Ferrari selama hampir satu dekade, sejak tahun 2001.
Dari dunia otomotif itulah ia belajar memahami bagaimana material kulit mengalami penuaan, kerusakan, hingga teknik mengembalikan kualitasnya tanpa menghilangkan karakter asli yang dimiliki.
“Restorasi kulit mobil Ferrari itu, prinsip kerjanya tidak jauh beda dengan restorasi lukisan,” kata Nasrudin yang juga mantan manajer marketing Auto 2000 Surabaya pada 1993.
Baginya, bekal restorasi lukisan butuh ketelitian tinggi, karena menangani mulai dari retakan pada lapisan cat, sobekan kanvas, warna yang memudar, kanvas yang mengendur, hingga serangan jamur yang mengancam keutuhan karya.
Restorasi, menurutnya, bukan sekadar memperbaiki benda yang rusak. Ada tanggung jawab untuk menghidupkan kembali nilai dan cerita yang terkandung di dalam sebuah karya seni.
Ia mengibaratkan pekerjaan restorator seperti seorang dokter bedah yang menangani pasien dengan tulang patah.
“Dokter bedah tidak sekadar membedah. Ia dituntut mampu mengembalikan fungsi tangan yang patah agar bisa digunakan kembali. Restorator juga begitu,” tuturnya.
Perjalanan hidupnya terus berkembang. Kini, keahliannya juga digunakan untuk merestorasi interior pesawat terbang, interior helikopter pribadi, hingga interior yacht milik rich people.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan serba baru, Galeri Q-One hadir sebagai ruang yang mengingatkan pentingnya merawat warisan. Sebab ketika sebuah lukisan rusak, yang hilang bukan hanya warna, bentuk, atau nilai ekonominya.
Di dalamnya ada gagasan, cerita, dan potongan sejarah yang perlahan ikut terkikis bersama usia. Karena itulah, merawat lukisan pada akhirnya bukan hanya menjaga sebuah karya seni, melainkan juga menjaga jejak waktu agar tetap hidup untuk generasi berikutnya




























