bongkah.id – Pada dekade 1980-an, ketika listrik belum sepenuhnya menaklukkan gelapnya gang-gang kampung di Sidoarjo, suara kentongan menjadi penanda hidup yang tak tergantikan.

Malam-malam Ramadan terasa lebih panjang, lebih sunyi, hingga sekelompok anak muda memecahnya dengan ritme suara kentongan yang dipukul bersautan penuh semangat.

ads

Musik patrol, begitu orang menyebutnya, bukan sekadar bunyi. Ia adalah panggilan, penanda waktu, sekaligus denyut kebersamaan untuk membangunkan warga makan sahur.

Sekelompok anak berjalan menyusuri kampung, memanggul kentongan, kadang ditambah drum rakitan atau botol kaca yang disusun seadanya.

Suara musiknya tidak selalu rapi, bahkan seringkali liar dan spontan. Namun justru di situlah letak keindahan musik patrol, riuh yang hidup, penuh energi, dan terasa sangat manusiawi.

Tiap kampung di Sidoarjo seolah memiliki orkestra sendiri, tanpa konduktor, tanpa partitur, hanya rasa dan kebersamaan sebagai panduannya.

Namun waktu bergerak. Jalanan yang dulu menjadi panggung utama, kini perlahan digantikan oleh panggung-panggung resmi. Modernisasi perlahan menggeser banyak tradisi lokal ke pentas zaman kekinian.

Musik patrol tak lagi berkeliling kampung; ia kini tampil dalam balutan kostum, tata panggung, dan penilaian juri.

Pergeseran ini membawa dua sisi: di satu sisi, ia mengangkat derajat musik patrol sebagai seni pertunjukan; di sisi lain, ia menggeser ruh spontanitas yang dulu begitu lekat di jalanan.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menangkap denyut perubahan itu. Setiap tahun, festival Musik Patrol Sidoarjo digelar dengan piala bergilir dari tahun ke tahun, sebagai ruang temu antara tradisi dan inovasi.

Pada 2026 ini, Festival Musik Patrol digelar dengan tema “Laras Nusantara Ing Ngarso Sung Irama”, di Panggung Budaya Disporapar, Sabtu (14/3/2026) malam, dengan diikuti 20 grup dari berbagai pelosok desa di Sidoarjo.

Di sana, kentongan tak lagi sekadar alat untuk membangunkan makan sahur, melainkan instrumen seni yang diaransemen dengan kompleksitas baru, berpadu dengan unsur modern tanpa sepenuhnya meninggalkan akar.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sidoarjo, Yudhi Irianto, menegaskan bahwa Musik Patrol Sidoarjo merupakan warisan budaya khas yang sarat dengan nilai kebersamaan, kreativitas, dan semangat gotong royong.

“Tradisi musik patrol tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana mempererat persaudaraan sekaligus memperkaya khasanah seni budaya daerah,” kata Yudhi Irianto.

Meski begitu, jejak masa lalu tak benar-benar hilang. Pada festival itu, acara dibuka dengan denting kentongan yang terasa lebih matang, lebih terlatih, namun tetap menyisakan jejak akar kampung.

Panggung utama di Alun-Alun Sidoarjo menjadi saksi ketika pemenang Festival Musik Patrol 2025 Sidoarjo tampil kembali, bukan sekadar mempertahankan reputasi, tetapi juga menyerahkan piala bergilir kepada panitia. Sebuah simbol estafet tradisi: dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selepas tampil, suasana tak mereda. Justru di situlah denyut lama seperti kembali dihidupkan. Para peserta turun dari panggung, berbaris, lalu berparade mengelilingi kawasan alun-alun.

Irama kentongan bertalu-talu, berpadu dengan sorak warga yang berjejal di pinggir jalan. Malam itu, musik patrol seakan kembali ke habitat asalnya di ruang terbuka, dekat dengan warga, tanpa sekat.

Dalam kompetisi yang berlangsung ketat, Grup Coba Lagi dari Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, berhasil mencuri perhatian juri. Permainan ritme yang solid, energi panggung yang terjaga, serta keberanian mengolah komposisi mengantarkan mereka meraih Juara 1 sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Bupati Sidoarjo 2026.

Di belakangnya, Angin Putih dari Pabean, Sedati, menyusul sebagai Juara 2 dengan karakter musikal yang khas, sementara Slendro dari Betro, Sedati, menempati posisi ketiga dengan kekuatan harmoni yang rapi.

Di tengah gegap gempita itu, terselip sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kemenangan. Musik patrol, yang dulu berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, kini menemukan bentuk barunya tanpa sepenuhnya kehilangan jiwa lama.

Musik patrol tetap hidup di panggung, di jalanan, dan terutama, di hati masyarakatnya.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini