bongkah.id – Ketika Bulan Bung Karno tiba setiap Juni, publik disibukkan oleh berbagai peringatan tentang sosok Proklamator Indonesia. Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu nama yang kerap terlupakan: Inggit Garnasih.
Padahal, tanpa ketulusan dan pengorbanan perempuan ini, sejarah Indonesia mungkin akan mencatat perjalanan yang berbeda bagi Sukarno.
Inggit Garnasih bukanlah orator yang berdiri di atas mimbar, bukan pula pemimpin organisasi besar yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Namun, jejak pengorbanannya begitu dalam tertanam dalam perjalanan lahirnya seorang Sukarno yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.

Lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Bandung, pada 17 Februari 1888, Inggit dikenal sebagai perempuan tangguh dan mandiri.
Ketika Sukarno masih menjadi mahasiswa teknik di Bandung, Inggit menjadi sosok yang menopang kehidupannya. Ia berjualan bedak, lulur, jamu, menjadi agen sabun, hingga menggadaikan perhiasannya demi membiayai pendidikan sang suami.
Perjuangannya tidak berhenti di sana. Ketika Sukarno dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin oleh pemerintah kolonial Belanda, Inggit dengan setia mengantar makanan sekaligus menyelundupkan buku-buku bacaan.
Dari balik penjara itulah Sukarno menulis pledoi legendaris “Indonesia Menggugat”, yang kemudian menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan bangsa.
Saat Sukarno dibuang ke Ende, Flores, Inggit kembali menunjukkan ketulusannya. Demi mengikuti suaminya ke tempat pengasingan, ia rela menjual rumah warisan ibunya.
Pengorbanan itu dilakukan tanpa pamrih, tanpa sorotan media, dan tanpa harapan mendapatkan penghargaan. Lebih dari sekadar pendamping hidup, Inggit juga memiliki peran dalam dinamika pergerakan nasional.
Rumahnya di Bandung menjadi tempat berkumpul para aktivis yang kemudian mendeklarasikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Ia aktif mengikuti kegiatan Sarekat Islam dan turut hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia tahun 1930.
Namun ironisnya, jasa-jasa besar tersebut sering kali dipandang hanya sebagai “peran seorang istri”. Padahal, jika dilihat dari perspektif sejarah sosial, Inggit adalah agen perubahan yang memungkinkan lahirnya pemimpin besar bangsa.
Dia bukan sekadar pendamping, melainkan bagian dari infrastruktur perjuangan kemerdekaan yang bekerja di balik layar.
Pengakuan negara terhadap jasa Inggit memang sudah ada. Pada tahun 1997, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama atas dedikasinya dalam mendampingi perjuangan Sukarno.
Namun hingga kini, gelar Pahlawan Nasional yang dinilai layak baginya masih belum terwujud.
Hambatan utama terletak pada aspek administratif. Berkas usulan yang pernah diajukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008 sempat hilang, sementara syarat pembuktian sejarah yang ditetapkan negara sangat ketat.
Usulan serupa kembali diajukan pada 2012 dan 2023, dan hingga kini masih terus diperjuangkan oleh berbagai kalangan, termasuk akademisi, pegiat sejarah, serta organisasi kemahasiswaan.
Di tengah upaya bangsa menghargai para pejuang kemerdekaan, kisah Inggit Garnasih mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di garis depan.
Ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap, mengorbankan kenyamanan, harta benda, bahkan masa depan pribadinya demi cita-cita besar bangsa.
Bulan Bung Karno semestinya tidak hanya menjadi momen mengenang sang proklamator. Inggit juga layak menjadi waktu untuk mengingat perempuan yang membantu menyalakan api perjuangan itu sejak awal.
Sebab di balik lahirnya seorang Bung Karno, berdiri sosok Inggit Garnasih—perempuan luar biasa yang sudah selayaknya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.





























