bongkah.id – Tidak banyak klub sepak bola yang memiliki hubungan emosional sekuat Persebaya dengan suporternya.
Jika Persebaya adalah jantungnya, maka Bonek adalah denyut nadinya.
Istilah Bonek merupakan akronim dari “Bondho Nekat”, sebuah ungkapan khas Surabaya yang menggambarkan keberanian berangkat dengan modal seadanya demi mendukung tim kesayangan.
Istilah tersebut mulai populer pada tahun 1988 melalui pemberitaan Jawa Pos di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan.
Saat itu ribuan pendukung Persebaya melakukan perjalanan besar-besaran ke Jakarta untuk memberikan dukungan langsung kepada tim mereka.
Fenomena itu kemudian dikenal sebagai tradisi “awaydays” pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia. Istilah Awaydays merujuk pada perjalanan suporter untuk mendukung langsung tim kesayangan mereka bertanding di markas lawan
Sejak saat itu, nama Bonek melekat kuat pada identitas Persebaya. Mereka dikenal militan, loyal, dan rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan Bajul Ijo bertanding.
Di tengah perjalanan panjang Persebaya, Bonek tidak hanya hadir sebagai penonton.
Mereka menjadi bagian dari sejarah klub.
Ketika Persebaya terjerat konflik dualisme dan kehilangan pengakuan resmi pada periode 2010-2017, Bonek menjadi kekuatan sosial yang menjaga eksistensi klub.
Mereka menggelar aksi damai, kampanye publik, hingga berbagai gerakan solidaritas untuk memperjuangkan kembalinya Persebaya ke kompetisi resmi.
Tanpa dukungan mereka, banyak pihak meyakini nama Persebaya mungkin hanya tinggal catatan sejarah.
Dalam perkembangannya, komunitas pendukung Persebaya juga melahirkan banyak tokoh penting. Nama almarhum Cak Jhoner menjadi legenda tersendiri di kalangan Bonek. Dedikasinya begitu besar hingga namanya diabadikan menjadi Tribun Jhoner Gate 21.
Ada pula Abah Imron yang dikenal sebagai pencipta lagu “Iwak Peyek”, salah satu anthem paling populer di stadion.
Muchtar Munadji menjadi sosok kreatif di balik logo ikonik “Ndas Mangap” yang hingga kini menjadi simbol identitas Bonek. Sedangkan H. Mas Oka Gundul dikenal sebagai pencipta lagu “Emosi Jiwaku” yang hampir selalu menggema setiap pertandingan Persebaya.
Kini Bonek berkembang menjadi komunitas yang jauh lebih tertata. Di berbagai tribun terdapat figur-figur koordinator seperti Husin Ghozali (Cak Cong), Sinyo Devara, dan Hasan Tiro yang berperan menjaga komunikasi antar komunitas suporter.
Perubahan paling menarik adalah lahirnya Bonita.
Jika dahulu tribun sepak bola identik dengan laki-laki, kini perempuan juga menjadi bagian penting dari kultur Persebaya.
Bonita hadir sebagai simbol bahwa kecintaan kepada Persebaya tidak mengenal batas gender.
Mereka aktif dalam berbagai kegiatan sosial, kampanye kemanusiaan, hingga kegiatan edukatif yang dilakukan komunitas suporter.
Transformasi inilah yang membuat citra Bonek berubah secara perlahan.
Dari kelompok suporter yang dulu sering mendapat stigma negatif, kini mereka lebih dikenal sebagai komunitas kreatif yang aktif menjaga identitas budaya sepak bola Surabaya.
Menjelang usia ke-99 Persebaya, manajemen bahkan mengimbau Bonek dan Bonita untuk merayakan ulang tahun klub secara tertib dan bermakna.
Pesan itu menunjukkan satu hal penting: hubungan antara klub dan suporternya telah berkembang menjadi hubungan kemitraan.
Karena pada akhirnya, sejarah Persebaya bukan hanya ditulis oleh pemain, pelatih, atau pengurus klub.
Sejarah itu juga ditulis oleh ribuan Bonek dan Bonita yang selama hampir satu abad tetap setia berdiri di belakang panji hijau kebanggaan Kota Pahlawan.




























