
bongkah.id – Banyak orang melihat sepak bola hanya selama 90 menit di lapangan. Namun di balik pertandingan yang disaksikan puluhan ribu penonton, terdapat mesin bisnis besar yang harus bekerja setiap hari.
Persebaya Surabaya adalah salah satu contoh bagaimana klub sepak bola modern dikelola layaknya sebuah perusahaan profesional.
Sejak 2017, ketika PT Jawa Pos Sportainment mengakuisisi mayoritas saham PT Persebaya Indonesia, klub ini mulai memasuki fase tata kelola yang lebih modern di bawah kepemimpinan Azrul Ananda.
Tantangannya tidak kecil.
Dalam satu musim kompetisi, biaya operasional klub seperti Persebaya dapat mencapai Rp 40 miliar hingga Rp 60 miliar.
Dana sebesar itu digunakan untuk menggaji pemain, pelatih, staf, biaya perjalanan, akomodasi, medis, sewa fasilitas latihan, hingga penyelenggaraan pertandingan kandang.
Pos terbesar tentu saja gaji pemain dan pelatih.
Untuk bersaing di level Liga 1, klub harus memiliki skuad berkualitas. Kehadiran pemain asing maupun pemain nasional membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Lalu dari mana uang sebesar itu diperoleh?
Azrul Ananda pernah menjelaskan bahwa terdapat empat sumber pendapatan utama klub.
Pertama adalah sponsor. Ini merupakan tulang punggung keuangan sebagian besar klub sepak bola Indonesia. Semakin besar basis penggemar sebuah klub, semakin tinggi nilai komersial yang ditawarkan kepada sponsor.
Kedua adalah penjualan apparel dan merchandise resmi. Jersey, syal, jaket, hingga berbagai produk berlogo Persebaya menjadi sumber pemasukan yang penting, meskipun kontribusinya tidak sebesar sponsor.
Ketiga adalah subsidi liga dan hak siar televisi. Meski nominalnya belum sebesar kompetisi sepak bola di negara maju, pemasukan ini tetap membantu menopang operasional klub.
Keempat sekaligus yang paling penting adalah tiket pertandingan. Menurut Azrul, pertandingan kandang Persebaya berpotensi menghasilkan puluhan miliar rupiah dalam satu musim.
Basis suporter yang besar membuat penjualan tiket menjadi kekuatan utama Bajul Ijo. Namun pendapatan besar tidak selalu berarti keuntungan besar.
Semakin banyak penonton yang hadir, semakin tinggi pula biaya operasional pertandingan. Klub harus membayar keamanan, sewa stadion, perizinan, pajak, hingga risiko denda jika terjadi pelanggaran.
Bisnis Emosi
Karena itu, mengelola klub sebesar Persebaya bukan hanya soal mencari pemain bagus. Tantangan terbesar justru menjaga keseimbangan antara ambisi prestasi dan kesehatan keuangan.
Azrul pernah menyebut bisnis olahraga sebagai “bisnis emosi”. Berbeda dengan industri lain yang bertumpu pada logika ekonomi semata, sepak bola bergerak karena rasa cinta.
“Partisipasi adalah income, prestasi adalah cost,” demikian salah satu filosofi yang sering ia sampaikan. Artinya, dukungan suporter menjadi sumber energi sekaligus sumber pendapatan utama klub.
Dalam konteks inilah Persebaya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak klub lain. Basis pendukung yang sangat besar menjadikan klub ini memiliki nilai komersial tinggi.
Namun keunggulan itu juga membawa tekanan.
Ekspektasi juara selalu menghantui setiap musim. Manajemen harus mampu mengambil keputusan rasional di tengah tuntutan emosional ribuan pendukung.
Menjelang usia 100 tahun, tantangan Persebaya bukan lagi sekadar memenangkan pertandingan. Yang lebih penting adalah memastikan klub tetap sehat, mandiri, dan berkelanjutan untuk generasi berikutnya.



























