TOLAK KOMPETISI LANJUTAN. Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda [kiri] dan Manajer Persebaya Candra Wahyudi sepakat menolak digelarnya kompetisi lanjutan Liga 1/2020. Salah satu alasannya, karena PSSI belum memiliki panduan kompetisi detail, jelas, dan pasti terkait penyelenggaraan kompetisi lanjutan Liga 1, yang memberi kenyamanan dan keamanan klub saat mengikuti kompetisi di musim pandemi Covid-19 yang belum pasti waktu berakhirnya.

bongkah.id – Persebaya Surabaya menolak rencana lanjutan Liga 1/2020, bukan ketakutan kalah dalam berkompetisi. Demikian pula tidak adanya anggaran. Penolakan itu menjadi pilihan, karena PSSI tidak memiliki rancangan panduan dan teknis kompetisi yang detail dan jelas. Sehingga klub memiliki kualitas kenyamanan dan keamanan bertanding, terkait pandemi Covid-19 yang belum terpastikan waktu berakhirnya.

“Bukan masalah lanjut atau tidak, tapi bagaimana menyiapkan kompetisi agar klub nyaman. Permasalahannya hari ini, kami belum mendapat panduan kompetisi yang jelas, detail, dan pasti,” kata Manajer Persebaya Surabaya, Chandra Wahyudi dalam diskusi daring, Senin (27/7/2020).

Pertemuan antara klub, PSSI, dan PT Liga Indonesia Baru (LIB), diakuinya, memang sudah dilakukan. Pada rapat Juni lalu, misalnya, pembahasan hanya sebatas pada kesepakatan untuk melanjutkan kompetisi. Hasilnya, tidak sepenuhnya didukung oleh klub. Sebanyak 12 klub dari 18 klub yang memiliki hak bertanding, melakukan penolakan. Sebanyak lima klub setuju. Sementara satu klub abstain.

Sedangkan pembahasan krusial lainnya terkait teknis dan panduan kompetisi, ternyata belum dibahas sama sekali. Padahal diharapkan, PSSI dan PT LIB seharusnya sudah menyiapkan berbagai antisipasi, jika memang berniat melanjutkan liga.

Teknis dan pedoman, menurutnya, harus dijelaskan secara jelas. Itu termasuk nasib kelanjutan liga saat terdapat pemain, atau staf yang positif terinfeksi Covid-19 akibat kompetisi digelar.

“Bagaimana jika ada di antara ratusan orang tiba-tiba terkena pandemi ini. Apa yang dilakukan. Kami ingin mendapat gambaran tersebut,” katanya.

PSSI sebetulnya sudah merilis draf protokol kesehatan penyelenggaraan Liga 1 musim ini di tengah pandemi COVID-19. Ironisnya draf tersebut belum mengakomodasi panduan yang dimaksud. Bahkan, protokol kesehatan tersebut masih perlu dikomunikasikan dengan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 BNPB. Dan, hingga saat ini, PSSI secara resmi belum menyerahkan dan mensosialisasikan panduan tersebut kepada klub-klub.

Selain antisipasi penularan virus selama liga bergulir, Chandra juga menyoroti kepastian siapa yang bakal menanggung biaya tes swab. Selain itu, ingin mendapatkan kepastian, bahwa rencana lanjutan Liga 1/2020 mendapatkan lampu hijau dari setiap daerah yang akan dijadikan venue pertandingan.

TIDAK SETUJU

Sikap penolakan diselenggarakan lanjutan Liga 1/2020 di musim pandemi Covid-19, yang penuh resiko terhadap kesehatan para pemain dan staf klub. Sesungguhnya sudah dilontarkan Presiden Persebaya Azrul Ananda pada awal Juli lalu, saat PSSI memutuskan akan melanjutkan kompetisi Liga 1/2020 mulai Oktober 2020.

“Situasi pandemi sekarang, Persebaya mau tidak mau harus menyatakan sikap tak setuju untuk dilanjutkan,” kata pria yang karib dipanggil Ulik itu sebagaimana dilansir beberapa media mainstream dan online.

Keputusan melanjutkan kompetisi Liga 1 di tengah situasi yang serba tidak pasti, menurutnya, justru akan menambah risiko dan beban bagi klub. Secara hirarki, Persebaya Surabaya menghormati keputusan PSSI terkait kelanjutan kompetisi Liga 1, yang dijadwalkan mulai Oktober 2020.

Hanya, dikatakan, sampai saat ini atau selama tiga bulan kompetisi liga terhenti, PSSI belum memberikan panduan teknis yang jelas dan detail pada klub apabila kompetisi dilanjutkan. “Padahal panduan tersebut sangat diperlukan untuk memberi kepastian kepada semua stakeholder sepak bola,” ujarnya.

Sementara pada saat ini energi pemerintah dan seluruh elemen bangsa fokus pada melawan pandemi Covid-19. Yang belum ada tanda-tanda kapan berakhir. Terlebih Surabaya yang mempunyai jumlah pertambahan pasien dan kematian tertinggi di Indonesia, termasuk di kawasan Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo dan Gresik) sebagai penyumbang pasien terbanyak di Jatim.

“Dalam situasi ini, sangat berisiko ada aktivitas sepak bola di semua tingkatan. Pertimbangan-pertimbangan teknis terkait ketidaksetujuan ini juga sudah pernah kami sampaikan,” katanya.

Sebelumnya, kompetisi sepak bola nasional dihentikan sementara akibat pandemi COVID-19, setelah PSSI mengeluarkan surat keputusan Nomor SKEP/48/III/2020 pada 27 Maret 2020. Kemudian, PSSI resmi memutuskan kompetisi Liga 1, 2 dan 3 Indonesia musim 2020 bergulir kembali. Diagendakan mulai Oktober 2020. Keputusan itu melalui penerbitan Surat Keputusan Nomor SKEP/53/VI/2020, tentang Kelanjutan Kompetisi dalam Keadaan Luar Biasa tahun 2020.

Surat keputusan tersebut ditandatangani Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan pada Sabtu, 27 Juni 2020. Surat tersebut sudah disebarkan ke Komite Eksekutif (Exco) PSSI, PT Liga Indonesia Baru, Asosiasi Provinsi PSSI se-Indonesia, Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) dan Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI). (rim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here