
bongkah.id – Ketika langit cerah oleh matahari pagi pada 18 Juni 2026, ribuan jiwa mengenang perjalanan panjang sebuah klub yang usianya hampir menyentuh satu abad. Persebaya Surabaya kini genap berusia 99 tahun. Bukan sekadar klub sepak bola, Persebaya telah menjadi bagian dari sejarah sosial dan budaya Kota Pahlawan.
Klub ini lahir pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pada masa penjajahan Belanda, keberadaan SIVB menjadi simbol perlawanan kaum pribumi terhadap dominasi klub-klub sepak bola kolonial.
Dari lapangan-lapangan sederhana di Surabaya, SIVB kemudian berkembang menjadi Persebaya, singkatan dari Persatuan Sepak Bola Surabaya. Nama itu kelak menjelma menjadi salah satu ikon sepak bola terbesar Indonesia.
Persebaya menikmati masa kejayaan dalam era Perserikatan. Nama-nama seperti Rudy William Keltjes, Hadi Ismanto, Budi Johanis, Mustaqim, Yusuf Ekodono, dan Aji Santoso menjadi legenda yang mengangkat nama Bajul Ijo di pentas nasional.
Pada era 1970-an hingga 1990-an, Persebaya dikenal sebagai klub yang tak pernah kehabisan talenta. Mereka bukan hanya mencetak kemenangan, tetapi juga melahirkan pemain-pemain yang kemudian menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia.
Namun perjalanan menuju usia ke-99 tidak selalu mulus.
Tahun 2010 menjadi salah satu periode paling kelam bagi sejarah Persebaya. Konflik internal dan dualisme kompetisi membuat klub ini terasing dari kompetisi resmi PSSI.
Nama Persebaya seakan diperebutkan, sementara para pendukungnya harus menyaksikan tim kebanggaan mereka kehilangan tempat di sepak bola nasional.
Dalam kondisi itulah muncul fenomena yang jarang terjadi di dunia olahraga. Klub yang kehilangan pengakuan justru semakin dicintai suporternya.
Ribuan Bonek turun ke jalan. Mereka melakukan aksi damai, menggelar kampanye publik, dan memperjuangkan pengembalian hak sejarah Persebaya.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil.
Tahun 2017 menjadi titik balik bersejarah. Persebaya kembali diakui secara resmi dan langsung menjuarai Liga 2. Gelar tersebut mengantar Bajul Ijo kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Banyak pengamat menyebut kebangkitan itu sebagai salah satu comeback paling emosional dalam sejarah sepak bola nasional.
Kini, memasuki usia 99 tahun, Persebaya berada di era modern yang lebih profesional. Akademi sepak bola terus berkembang, pembinaan pemain muda semakin sistematis, dan manajemen berusaha membangun klub yang mandiri secara finansial.
Momentum HUT ke-99 tahun ini diawali dengan ziarah ke makam M. Pamoedji, salah satu pendiri klub, di TPU Karang Tembok. Kegiatan dilanjutkan dengan football clinic bersama Persebaya Academy di Stadion Gelora 10 Nopember.
Rangkaian tersebut memiliki makna simbolis yang kuat. Persebaya tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga sedang menyiapkan masa depan.
Tahun depan, tepat pada 18 Juni 2027, Persebaya akan memasuki usia satu abad. Sebuah usia yang hanya mampu dicapai sedikit klub sepak bola di Asia.
Di tengah perubahan zaman, satu hal tetap bertahan, hubungan emosional antara Persebaya dan warga Surabaya.
Bagi arek-arek Suroboyo, Persebaya bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah bagian dari identitas kota yang hidup dari generasi ke generasi.



























