Kepergian Suraji menambah jumlah korban meninggal dalam insiden pemadaman karhutla Bromo menjadi enam orang.

bongkah.id — Niat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, berakhir tragis bagi Suraji.

Petugas keamanan Artotel yang ikut menjadi relawan itu meninggal dunia pada Jumat (23/10/2026), setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

ads

Kepergian Suraji menambah jumlah korban meninggal dalam insiden pemadaman karhutla Bromo menjadi enam orang.

Sebelumnya, lima petugas dan relawan meninggal dunia setelah terlibat dalam upaya penanganan kebakaran yang terjadi pada 15 Oktober 2026.

Suraji merupakan petugas keamanan Artotel dari PT Mitra Indo Permai. Ketika kebakaran melanda kawasan konservasi tersebut, ia turut membantu upaya pemadaman bersama personel gabungan.

Namun, perjuangan itu harus dibayar mahal. Suraji mengalami luka bakar berat dan menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Setelah berjuang melewati masa kritis, nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Suraji. Ia mengatakan korban berpulang sekitar pukul 12.00 WIB.

“Kepergian beliau menambah duka atas peristiwa kebakaran yang terjadi pada tanggal 15 Oktober 2026. Kami kehilangan, kami semua sangat kehilangan,” ujar Rudijanta.

Enam Nyawa Melayang

Sebelum Suraji meninggal, lima orang lainnya telah menjadi korban dalam insiden penanganan kebakaran di kawasan Bromo.

Mereka adalah Sukaris, petugas Balai Besar TNBTS; Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah, karyawan hotel di sekitar lokasi; Hendra Rony Wagiyanata, petugas Balai Besar TNBTS; serta Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP).

Sukaris, Wisnu, dan Sefriel meninggal di lokasi kejadian. Hendra meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Tongas, Probolinggo. Sementara Munawi meninggal di RSUD Dr. Soetomo Surabaya akibat luka bakar.

Dengan meninggalnya Suraji, seluruh enam korban yang dilaporkan dalam insiden tersebut akhirnya tidak tertolong.

Keselamatan Petugas Perlu Dievaluasi

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan sekadar persoalan memadamkan api. Keselamatan petugas dan relawan juga harus menjadi prioritas.

Evaluasi perlu mencakup prosedur pemadaman, perlengkapan pelindung, komunikasi lapangan, pemetaan jalur evakuasi, serta langkah antisipasi ketika api berubah arah.

Keberanian petugas dan relawan patut dihargai. Namun, penghormatan paling penting adalah memastikan upaya penyelamatan hutan tidak kembali berujung pada hilangnya nyawa manusia.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini