Ungkapan dukacita atas gugurnya Sukaris (55 tahun), petugas operator layanan operasional Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).

bongkah.id – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, berakhir tragis.

Tiga orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar setelah terjebak kepungan api dan asap pekat saat berjuang memadamkan kebakaran, Kamis (15/10/2026).

ads

Para korban terdiri atas seorang petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) dan dua pekerja keamanan penginapan yang turut membantu pemadaman sebagai relawan.

Peristiwa tersebut kembali menyoroti ancaman kebakaran di kawasan konservasi Bromo. Sejak Agustus hingga Oktober 2026, kawasan ini dilaporkan telah mengalami tiga kali kebakaran besar.

Kebakaran terbaru terjadi di kawasan Blok Mentigen, Pusung Lingker, dan Bukit Kembang Puncak Sari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan, polisi menerima informasi mengenai adanya korban sekitar pukul 13.30 WIB.

Saat itu, petugas gabungan dan relawan tengah berupaya memadamkan api yang terus berkobar. Namun, kondisi di lapangan membahayakan keselamatan mereka karena kepungan asap tebal dan kobaran api.

“Saat ini kobaran api masih terjadi, masih berlangsung. Petugas gabungan dan relawan melakukan pemadaman,” kata Jules di Mapolda Jatim, Kamis.

Tiga Orang Gugur, Tiga Lainnya Terluka

Tiga korban meninggal dunia masing-masing adalah Sukaris (55 tahun), petugas operator layanan operasional Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Dua korban lainnya, Sefril, sekuriti penginapan dan Wisnu, relawan di lapangan.

Sementara itu, tiga korban yang mengalami luka bakar terdiri atas Hendra Rony Wagiyanata (25) petugas TNBTS, Munawi, relawan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan seorang sekuriti hotel. Para korban luka mendapatkan perawatan medis.

Informasi yang disampaikan kepolisian menyebutkan, satu korban dirujuk ke RSUD Tongas, sedangkan dua lainnya dirawat di Puskesmas Sukapura.

Di tengah upaya pengendalian api, perhatian kini tertuju pada penyebab para petugas dan relawan sampai terjebak di area kebakaran.

Kondisi medan, arah pergerakan api, kepulan asap, serta kemungkinan adanya faktor lain menjadi bagian yang perlu ditelusuri melalui penyelidikan.

Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian

Polda Jatim bersama Polres Probolinggo dan Polsek Sukapura melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran sekaligus mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian atau tindak pidana.

Menurut Jules, polisi akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi yang berada di lokasi saat pemadaman berlangsung.

Penyelidikan tersebut juga diperlukan untuk mengungkap penyebab meninggalnya tiga korban dan luka bakar yang dialami tiga orang lainnya.

“Terkait adanya unsur kelalaian ataupun unsur tindak pidana, tentu kami harus melakukan pendalaman terkait dengan penyebab pasti dari meninggalnya tiga orang maupun tiga orang lagi yang mengalami luka bakar,” ujarnya.

Polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kebakaran maupun kemungkinan adanya pelanggaran hukum dalam peristiwa tersebut.

Tiga Kali Kebakaran Sejak Agustus

Tragedi pada Kamis ini menambah daftar kebakaran besar yang melanda kawasan Gunung Bromo selama musim kemarau 2026.

Kebakaran pertama berlangsung sejak 3 Agustus dan baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada 14 Agustus 2026.

Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar 1.120 hektare lahan konservasi yang tersebar di wilayah Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.

Dampaknya, akses wisata Gunung Bromo sempat ditutup sementara sebelum kembali dibuka pada 20 Agustus 2026.

Kebakaran kembali terjadi pada September. Titik api dilaporkan muncul di kawasan Savana Pengol, Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, sebelum meluas akibat angin kencang menuju sejumlah kawasan lain, termasuk Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies.

Otoritas kemudian menutup kembali pintu masuk wisata Bromo mulai 12 September 2026. Kondisi medan yang terjal bahkan membuat pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing diperlukan dalam penanganan kebakaran tersebut.

Belum genap dua bulan setelah kebakaran pertama, api kembali membakar kawasan konservasi pada Oktober.

Kali ini, dampaknya bukan hanya kerusakan vegetasi, tetapi juga jatuhnya korban jiwa dari unsur petugas dan relawan.

Rentetan kebakaran tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla di Bromo bukan persoalan sesaat.

Selain pemadaman, pencegahan, pengawasan aktivitas manusia, kesiapan peralatan, serta keselamatan petugas di lapangan menjadi aspek penting yang perlu mendapat perhatian.

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini