
bongkah.id – Menjadi seniman bukan pilihan yang mudah bagi Ufa Faizah. Perempuan asal Situbondo ini harus berhadapan dengan keluarga yang menerapkan aturan sangat ketat, bahkan menentukan arah pendidikan dan pekerjaan anak-anaknya. Ia sempat menempuh pendidikan hukum dan bekerja di kantor advokat, tetapi kecintaannya pada seni lukis sejak remaja terus memanggilnya pulang.
Ufa menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA di Ngawi, kemudian menempuh S1 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya dan Magister Hukum di Universitas Airlangga. Sejak SMP dan SMA, ia sudah menyadari bahwa melukis bukan sekadar hobi. Namun, latar keluarga membuat pilihan menjadi seniman nyaris tidak masuk dalam rencana hidupnya. Ia sempat diarahkan untuk menjadi jaksa atau hakim, sebelum memilih menjadi advokat karena pertimbangan hati nurani.
Situasi berubah ketika sang ibu meninggal dunia dan ayahnya tinggal sendirian di Situbondo. Ufa kemudian kembali ke kota asalnya dengan harapan keluarga agar ia meneruskan usaha produksi bibit padi. Tuntutan tersebut membuatnya berada pada titik kritis: mengikuti jalan yang sudah ditentukan keluarga atau memperjuangkan jalan hidupnya sendiri. Ia memilih yang kedua.
Pergulatan personal Ufa inilah yang dikemukakan dalam acara Wicara Seniman di Balai Budaya Surabaya, Sabtu siang (17/10/2026) dalam rangkaian program publik Artsubs. Acara yang dipandu oleh Nirwan Dewanto ini juga menghadirkan Dwi Januartanto (Lamongan) dan Garis Edelweis (Pasuruan).
Hadir ditemani suami dan putrinya, Ufa memaparkan latarbelakang keputusannya meninggalkan jalur hukum dan memilih sepenuhnya menjadi seniman. Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Didikan keras yang sejak kecil diterapkan orang tua kepada anak-anaknya membuat kepulangan Ufa ke Situbondo juga berarti berhadapan kembali dengan tuntutan kepatuhan.
Di tengah lingkungan yang belum banyak memberikan apresiasi terhadap seni, pilihan untuk serius berkarya bahkan memunculkan konflik dan tekanan. Pencapaian berpameran pun belum selalu membuat keluarganya memahami mengapa seni begitu penting baginya.
Dalam situasi tersebut, suami menjadi support system utama. Selebihnya, Ufa belajar menjadi penyemangat bagi dirinya sendiri. Ia membaca buku-buku self-improvement, menerima pesanan art commission berupa drawing hingga painting, dan terus berkarya meskipun belum ada kepastian bahwa kegiatan tersebut akan menghasilkan secara ekonomi.
“Berkarya” bagi Ufa akhirnya bukan semata-mata profesi. Ia menjadi kebutuhan.
Boneka sebagai Arsip Luka
Pengalaman personal itu kemudian menemukan bentuknya dalam karya. Boneka menjadi salah satu simbol yang paling kuat dalam bahasa visualnya. Pilihan tersebut berakar pada pengalaman masa kecil sebagai anak bungsu yang terpaut usia 18 tahun dengan kakaknya.
Pada usia sekitar tujuh tahun, ketika seorang anak belum memiliki kemampuan untuk menyaring dan memahami sepenuhnya informasi yang diterimanya, Ufa mengalami perundungan berulang dari saudara dan orang-orang terdekat.
Pengalaman tersebut mengubah dirinya. Anak yang semula ceria menjadi lebih murung karena tidak memiliki kapasitas untuk menyuarakan apa yang dirasakan.
Dalam situasi itu, boneka hadir sebagai teman sekaligus pengganti keluarga. Ia menjadi benda yang dapat diajak berinteraksi ketika Ufa tidak memiliki ruang untuk berbicara. Karena itu, boneka dalam karya-karyanya bukan sekadar objek dekoratif. Ia menjadi arsip emosi sekaligus saksi bisu atas trauma, luka, kekecewaan, ketakutan, dan berbagai dinamika yang berlangsung di ruang domestik.
Dari sinilah pengalaman yang sangat privat perlahan berubah menjadi bahasa artistik yang dapat dibaca publik.

Sebelum menggunakan boneka, eksplorasi Ufa bermula dari benda-benda rumah tangga. Latar belakangnya sebagai anak rumahan membuat benda-benda yang akrab dalam keseharian menjadi sumber gagasan. Benda domestik tidak berhenti sebagai objek yang dilukis, tetapi diolah untuk menemukan lapisan makna dan nilai intelektual di baliknya.
Bahasa visual tersebut kemudian berkembang pada tema krisis identitas, rasa takut, perubahan, dan transformasi diri. Salah satu karya yang menonjol dalam perjalanan itu adalah Metamorphosis: The Self Architect, yang mencerminkan proses membangun kembali diri melalui pengalaman personal.
Perjalanan teknik Ufa berkembang dari drawing, arang (charcoal), akrilik, dan cat air hingga akhirnya memilih cat minyak sebagai medium yang paling sesuai dengan karakter emosinya. Ia menggunakan teknik direct painting atau alla prima dengan pendekatan realis-impresif. Karakter cat minyak yang berat dan kental dianggap mampu menyampaikan intensitas emosi yang ingin dihadirkan dalam karya.
Medium ini juga menuntut penanganan khusus karena materialnya berisiko, sehingga proses pengerjaan kerap dilakukan di ruang terbuka dan dijauhkan dari anak-anak. Bagi Ufa, karakter material cat minyak kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penciptaan.
Dari Situbondo, Ufa membangun jalannya menuju medan seni rupa yang lebih luas. Ia memulai langkah di Surabaya melalui berbagai kesempatan pameran, bergabung dengan komunitas cat air dan jejaring perupa Jawa Timur, hingga mendapat tantangan menggelar pameran tunggal di Art Lab, Surabaya.
Aktif berpameran sejak 2018, ia kemudian mengikuti berbagai pameran nasional dan ajang seni kontemporer, termasuk ARTSUBS 2026, dengan menghadirkan Rooted in Grace, Beyond The Spotlight, Dream Catcher, dan Society of Wonders.
Tetap berkarya dari Situbondo, Ufa membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak harus menjadi batas perjalanan seorang seniman. Baginya, melukis bukan sekadar menghasilkan karya, melainkan cara menyusun ulang diri, menghadapi luka, dan merebut kembali hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.





























