
bongkah.id – Tidak ada yang istimewa dari sebuah spanduk yang tergantung di pinggir jalan. Ia dibuat untuk dilihat sekilas, menyampaikan pesan, lalu dilupakan. Tetapi bagi Garis Edelweiss, pekerjaan membuat spanduk, desain kaus, dan layout justru menjadi pintu masuk menuju dunia yang sama sekali berbeda: seni rupa.
Lahir di Pasuruan pada 1984 dengan nama Garis Kabe Muslim, Garis tidak tumbuh di tengah hiruk-pikuk pusat seni rupa Indonesia. Ia bekerja sebagai desainer grafis karena keadaan, sebelum akhirnya “terjerumus” ke dunia seni rupa.
Dari sebuah pameran pertama pada 2012, komunitas seni di Pasuruan, lalu Instagram, perjalanannya bergerak semakin jauh. Karya-karyanya menembus jaringan nasional, bersentuhan dengan dunia NFT, bahkan membawanya berkolaborasi dalam proyek art print dengan Black Sabbath. Pada 2023, ia meraih iCanvas Digital Art Award dalam Beautiful Bizarre Art Prize melalui karya The Healer.
Dalam diskusi (Wicara Seniman) di Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu siang (17/10/2026), Garis membeberkan perjalanan kesenimanannya bersama dengan Ufa Faizah (Situbondo), dan Dwi Januartanto (Lamongan). Ketiganya adalah peserta pameran seni kontemporer yang berlangsung di Balai Pemuda sejak 19 September hingga 8 November nanti. Program publik Artsubs ini dipandu oleh Nirwan Dewanto, salah satu kurator Artsubs.
Garis mengisahkan, dirinya tidak pernah benar-benar merancang untuk menjadi perupa. Pekerjaan sebagai desainer grafis membuatnya akrab dengan dunia visual, tetapi belum memberinya alasan untuk menyebut dirinya seniman. Sampai kemudian pada 2012 ia mengikuti pameran yang digagas lima orang, termasuk ayahnya yang juga seorang pelukis.
Pengalaman pertama itu justru penuh keraguan. Ia belum memahami bagaimana sebuah pameran bekerja dan tidak mempunyai pengalaman sebagai perupa. Namun, tantangan tersebut membuatnya mulai berani memasukkan berbagai objek yang selama ini hidup dalam imajinasinya ke dalam karya.
Dari sana, semuanya seperti bergerak tanpa rencana yang terlalu pasti. Ia bergabung dengan KGSB (Komunitas Guru Seni dan Perupa Pasuruan), mengikuti kegiatan pameran tahunan “Gandeng Renteng,” dan mulai memiliki kehidupan ganda: desainer sekaligus perupa. Apa yang awalnya dianggap sebagai “keterjurumusan” kemudian berubah menjadi berkah.
Salah satu keputusan paling sederhana ternyata membawa dampak besar adalah mengubah akun Instagram yang semula berisi kehidupan personal menjadi ruang khusus untuk memperlihatkan perkembangan gambar dan karya seninya.
Konten personal dihapus. Instagram kemudian menjadi galeri tanpa dinding. Hingga membuat Heri Pemad, direktur Artjog menghubunginya, dan mengundangnya menjadi peserta Artjog.
Pada mulanya dia membuat karya-karya monokrom, hingga tahun 2021, terjadi perubahan penting dalam praktiknya. Ia mulai mengeksplorasi warna secara lebih intensif. Pengalamannya masuk ke dunia NFT, ketika ekosistem tersebut sedang berkembang pesat, memaksanya berhadapan lebih jauh dengan kemungkinan warna dan medium digital. Ia kemudian menjalani periode yang sangat intens dalam ekosistem NFT hingga akhir 2023.
Di ARTSUBS 2026, Garis menghadirkan karya yang membuat penasaran. Ada dua karyanya yang dikeluarkan sebagian dari kemasan kotak yang bergambar. Dua karya berjudul Jelma dan Temu itu menggunakan grafit pada kanvas berukuran 60 x 50 sentimeter, menggunakan grafit di atas kanvas dan spidol di atas plywood. Sementara kotaknya sendiri bukan sekadar kemasan, melainkan juga hadir sebagai karya tersendiri dengan judul Cangkang.
Bagi sebagian orang, menyembunyikan karya mungkin tampak seperti menghalangi penonton. Bagi Garis, justru sebaliknya. Cangkang menjadi cara untuk membangun rasa penasaran dan mendorong orang mendekat. Cara karya dipajang pun menjadi bagian dari konsep artistiknya. Penonton tidak sekadar melihat. Mereka harus menemukan.
Dan mungkin di situlah cara Garis bekerja dapat dipahami: ia tidak selalu memberikan jawaban secara langsung. Ia menciptakan celah bagi imajinasi penonton untuk bekerja.
Kisah Garis menjadi semakin penting ketika dibaca bersama Ufa Faizah dari Situbondo dan Dwi Januartanto dari Lamongan. Ketiganya berasal dari kota yang bukan pusat utama percakapan seni rupa kontemporer Indonesia. Persoalan itu justru menjadi salah satu pokok pembicaraan: apakah tempat tinggal masih menentukan peluang seorang seniman untuk berkembang?
Jawabannya semakin jelas: tidak selalu.
Internet telah mengubah cara seniman membangun jaringan. Komunitas lokal dapat menjadi simpul awal, sementara jejaring digital memungkinkan karya bergerak jauh melampaui batas kota. Pusat seni rupa tidak lagi harus dibayangkan sebagai satu titik geografis. Ia dapat terbentuk dari hubungan antarseniman, komunitas, institusi, pameran, dan jaringan internasional.
Garis Edelweiss adalah salah satu buktinya. Ia berangkat dari Pasuruan, dari pekerjaan membuat desain yang mungkin hanya dipandang sekilas oleh orang di jalan. Tetapi dari sana ia menemukan bahasa visualnya sendiri. Dari komunitas kecil, ia masuk ke jejaring yang lebih luas. Dari pensil grafit, ia bergerak ke dunia digital. Dari Instagram, karyanya menjangkau dunia.
Barangkali, yang membatasi seorang seniman bukanlah kota tempat ia tinggal, melainkan seberapa jauh ia berani membawa imajinasinya keluar dari kota itu.





























