Kasus heatstroke di Surabaya mencapai 10 hingga September 2026, disertai 141 kasus dehidrasi. Kenali gejala, kelompok rentan, dan cara mencegahnya.

bongkah.id – Cuaca panas yang mencapai 35–37 derajat Celsius di Surabaya tak sekadar membuat tubuh gerah dan cepat lelah. Paparan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari dehidrasi hingga heatstroke yang berpotensi mengancam jiwa.

Heatstroke atau sengatan panas adalah kondisi darurat medis saat suhu tubuh naik drastis mencapai 40°C atau lebih dan tubuh sudah tidak mampu mendinginkan dirinya sendiri. Kondisi ini merupakan bentuk gangguan paling berat akibat cuaca panas atau aktivitas fisik berlebih.

ads

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mencatat peningkatan kasus heatstroke dalam tiga tahun terakhir. Dari satu kasus pada 2024, jumlahnya naik menjadi tiga kasus pada 2025 dan mencapai 10 kasus hingga September 2026. Pada periode yang sama, tercatat pula 141 kasus dehidrasi.

Data tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal tubuh ketika beraktivitas di tengah cuaca terik. Rasa haus berlebihan, pusing, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas bisa menjadi tanda awal bahwa tubuh mulai kesulitan menghadapi panas.

Kepala Dinkes Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi dapat menimbulkan beragam keluhan kesehatan. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi gangguan akibat panas yang lebih serius.

“Dampak yang dapat dirasakan antara lain dehidrasi, kelelahan, pusing, sakit kepala, lemas, kram otot, hingga gangguan akibat panas. Pada kondisi yang lebih berat, paparan panas dapat menyebabkan heat exhaustion bahkan heatstroke yang membutuhkan penanganan segera,” ujar Billy.

Kenali Gejala Dehidrasi Sebelum Kondisi Memburuk

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Dalam kondisi cuaca panas, kehilangan cairan dapat meningkat akibat produksi keringat yang berlebihan, terutama ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Dinkes Surabaya menyebut sejumlah tanda dehidrasi yang perlu dikenali, antara lain rasa haus berlebihan, mulut dan bibir kering, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, serta perubahan frekuensi dan warna urine.

Keluhan tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele, terlebih jika muncul setelah seseorang terpapar panas dalam waktu lama. Segera beristirahat di tempat sejuk dan minum air dapat membantu mengatasi dehidrasi ringan.

Namun, masyarakat perlu mewaspadai gejala yang mengarah pada kondisi lebih berat. Kebingungan, penurunan kesadaran, tubuh terasa sangat panas, atau kondisi yang terus memburuk memerlukan pertolongan medis segera.

“Jika disertai kebingungan, penurunan kesadaran, tubuh sangat panas, atau kondisi semakin memburuk, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat merupakan tanda kondisi yang lebih serius,” kata Billy.

Heat Exhaustion dan Heatstroke, Apa Bedanya?

Gangguan kesehatan akibat panas dapat berkembang dalam tingkat keparahan yang berbeda. Salah satunya adalah heat exhaustion, yaitu kondisi kelelahan akibat panas yang dapat ditandai dengan keringat berlebihan, rasa lemah, pusing, mual, dan sakit kepala.

Sementara itu, heatstroke merupakan kondisi darurat medis ketika tubuh mengalami gangguan serius dalam mengendalikan suhu. Gejalanya dapat meliputi suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, perubahan perilaku, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Berbeda dengan kelelahan akibat panas yang lebih ringan, heatstroke membutuhkan pertolongan medis segera. Jika kondisi ini dicurigai, segera hubungi layanan darurat atau bawa penderita ke fasilitas kesehatan.

Sambil menunggu pertolongan, pindahkan penderita ke tempat yang lebih sejuk dan mulai dinginkan tubuhnya. Jangan memberikan minuman kepada orang yang mengalami penurunan kesadaran.

Anak-anak hingga Pekerja Lapangan Lebih Rentan

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi suhu tinggi. Bayi dan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung, paru, ginjal, dan penyakit kronis lainnya perlu mendapat perhatian lebih saat cuaca panas.

Risiko juga meningkat pada pekerja lapangan dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Paparan panas secara langsung dalam durasi panjang, terutama ketika disertai aktivitas fisik berat, dapat meningkatkan kehilangan cairan dan beban panas pada tubuh.

Karena itu, penting bagi keluarga untuk memperhatikan kondisi anggota keluarga yang rentan. Begitu pula bagi tempat kerja yang mengharuskan karyawan beraktivitas di bawah terik matahari, pengaturan waktu kerja, jeda istirahat, akses air minum, dan tempat berteduh menjadi bagian penting dari pencegahan.

Cara Mencegah Dehidrasi dan Heatstroke saat Cuaca Panas

Dinkes Surabaya mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh dan mengurangi paparan panas berlebihan. Langkah pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
• Minum air secara berkala. Jangan menunggu hingga merasa sangat haus untuk minum, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
• Batasi aktivitas saat cuaca terik. Jika memungkinkan, hindari aktivitas fisik berat pada jam-jam terpanas dan pilih waktu yang lebih sejuk.
• Gunakan pakaian ringan. Pilih pakaian yang nyaman, tidak terlalu tebal, dan membantu pelepasan panas tubuh.

• Manfaatkan pelindung dari matahari. Gunakan topi, payung, atau pelindung lain ketika harus berada di luar ruangan.
• Beristirahat di tempat teduh. Segera cari tempat yang lebih sejuk ketika mulai merasa pusing, lemas, mual, atau tidak enak badan.

• Perhatikan kelompok rentan. Pastikan anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis memperoleh perhatian serta akses cairan yang cukup.

Billy mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri ketika tubuh mulai menunjukkan tanda kelelahan atau dehidrasi.

“Yang tidak kalah penting, kenali tanda-tanda tubuh ketika mulai mengalami kelelahan atau dehidrasi. Jangan memaksakan diri dan segera beristirahat di tempat yang lebih sejuk apabila mulai merasa pusing, lemas, mual, atau tidak enak badan,” ujarnya.

Peningkatan kasus heatstroke dan dehidrasi di Surabaya menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas. Menjaga asupan cairan, mengatur aktivitas, dan mengenali gejala sejak dini merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Saat suhu udara meningkat, melindungi tubuh bukan sekadar soal kenyamanan. Mengenali batas kemampuan tubuh dan segera mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini