Oleh: Rachmat Faqih

AGAMA Islam menegaskan, bahwa Alloh SWT menetapkan lima bulan istimewa dalam satu tahun. Kelima bulan itu dalam sistem kalender Hijriah, adalah Ramadhan, Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Keistimewaan kelima bulan tersebut, amal kebaikan yang dikerjakan melahirkan pahala yang berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya. Demikian pula perbuatan haram yang dilakukan di kelima bulan tersebut. Namun, Ramadhan memiliki keistimewaan utama. Adanya satu malam yang bernilai seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadr.

Sepuluh hari pertama bulan suci Ramadhan 1441 Hijriah telah dilalui umat muslim di Indonesia dan seluruh dunia. Ibadah puasa yang diwajibkan Alloh SWT mampu dilaksanakan tanpa hambatan, meski terselenggara dalam masa pandemi Covid-19. Sebuah masa serangan virus baru yang berlangsung sejak akhir November 2019 di beberapa wilayah RRC, dan baru diumumkan pada pertengahan Januari 2020. Yang kini sudah menyerang hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan jumlah penderita 13 ribu lebih di Indonesia dan mencapai 3,8 juta lebih di seluruh dunia.

Memang, pertumbuhan signifikan pasien positif Covid-19 di Indonesia terlihat masih belum dapat dibendung. Tercermin dari grafik kemunculan penderita baru yang masih tinggi dibanding yang sembuh untuk setiap harinya. Fakta itu membuat angka pasien yang wajib dirawat dan meninggal pun terus mengalami kenaikan.

Kondisi itu pada awalnya membuat kaum muslim Indonesia disergap ketakutan berlebihan. Namun, kondisi itu kini terlihat mengalami penurunan. Kendati masih banyak masjid dan musholah yang melakukan tutup pintu, karena alasan memutus rantai penularan Covid-19. Namun, terlihat ada beberapa masjid dan musholah yang sudah melaksakan shalat jamaah fardhu lima waktu, sunnah Tarawih, dan Tadarusan (kataman Al-Quran) sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Kegiataan ibadah yang mulai berdetak itu dilakukan kaum muslim Indonesia itu, bukan bentuk melanggar kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diselenggarakan pemerintah. Sebaliknya sebagai solusi kepatuhan atas kebijakan pemerintah yang membingungkan. Adanya pertentangan kebijakan antara Menteri Kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19, tapi digembosi oleh kebijakan Menteri Perhubungan, Menteri Perdagangan, dan Menteri Perindustrian yang berpihak pada dunia usaha dengan legitimasi menjaga perekonomian rakyat.

Kondisi itu, mungkin, yang membuat kaum muslim Indonesia mencari solusi sendiri atas kebijakan pemerintah yang membingungkan tersebut. Lewat shalat jamah fardhuh, sunnah Tarawih, dan Tadarusan untuk memohon pertolongan Alloh di bulan Ramadhan yang penuh Rahmat, Maghfirah, dan ampunan ini.

Kesemua ibadah shalat dan tadarus itu dilakukan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kaum muslim, yang mendapat jaminan dikabulkan Alloh sebagaimana HR. At Tirmidzi no. 3598. Dalam hadits yang terkategori hasan itu, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak ditolak doanya,  orang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang dizalimi.”

Selain itu, Rasulullah SAW menegaskan, bahwa Ramadhan merupakan bulan penuh berkah seperti dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, An-Nasa’i  2106, dan Al-Baihaqi. Dalam hadits itu Rasulullah mengabarkan, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”

Karena itu, banyak ulama menyebut, Ramadhan adalah Sayyidus Syuhur. Pemimpin bulan yang teristimewa bagi umat. Waktu paling mulia pilihan Alloh yang dipenuhi Maghfirah. Pada bulan ini, Alloh membukakan pintu taubat dan ampunan. Pada bulan inilah kaum muslim menemukan saat yang paling tepat, untuk bersujud dan merintih memohonkan ampunan-Nya.

Selain itu, Rasulullah juga selalu memotivasi kaum muslim untuk tidak hanya melakukan puasa Ramadhan saja. Yang disempurnakan dengan Qiyam Ramadhan untuk mendulang pengampunan Alloh atas dosa-dosa yang telah lalu. Kendati demikian, anjuran itu tidak dilakukan dengan tegas sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam  Bukhari no. 2009 dan Imam Muslim no. 759 yang menyebutkan:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau berkata “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memotivasi orang-orang untuk mengerjakan qiyam Ramadhan, walaupun beliau tidak memerintahkannya dengan tegas. Beliau bersabda: “Orang yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Maksud qiyam Ramadhan, secara khusus, menurut Imam Nawawi adalah shalat tarawih. Hadits ini memberitahukan, bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa; tetapi dengan syarat karena bermotifkan iman; membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya’ atau sekedar adat kebiasaan. [Fathul Bari 4/251; Tanbihul Ghafilin 357-458; Majalis Ramadhan, 58; AtTamhid, 3/320; AI Ijabat Al Bahiyyah, 6].

Karena itu, hadits ini dipahami para salafush shaalih, termasuk oleh Abu Hurairah sebagai anjuran yang kuat dari Rasulullah untuk melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih, tahajud, dan lain-lain). [At Tamhid, 3/311-317: Sunan Abi Daud, 166]

Sementara Al Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya. Karena itu, melakukan ibadah puasa dan beragam kebajikan di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding di bulan lain.

TEBARAN KEISTIMEWAAN

Semua itu terjadi, karena kemuliaan Ramadhan. Ibadah puasa yang dilakukan diwajibkan Alloh kepada hambaNya. Allah pun menjadikan puasa Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam. Tiang penegak Islam.

Selain itu, Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata, “Amru bin Qais apabila beliau memasuki bulan Rajab beliau meninggalkan perdagangannya dan menyibukkan dirinya untuk membaca Alquran.” Beliau juga berkata, “Beruntunglah bagi orang yang memperbaiki dirinya sebelum masuk bulan Ramadhan”.

Bulan ramadhan ialah bulan yang penuh kebaikan sejak hari pertama hingga hari terakhir. Beberapa ulama membagi keistimewaan dalam bulan Ramadhan menjadi tiga bagian. Yakni 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari ketiga, sebagaimana Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).”

Dalam buku “Quraish Shihab Menjawab” dijelaskan, hadits itu diriwayatkan Ibnu Huzaimah dalam kitab sahihnya dan dia menilai sebagai hadits yang sahih. Selain itu, juga diriwayatkan Al Baihaqi serta Abu As Syekh dan Ibnu Hibban. Hadits tersebut, menurut Prof H. Quraish Shihab, merupakan sebagian dari khutbah Jumat Nabi pada akhir Sya’ban. Demikian sahabat Nabi Salman Al Farisi menjelaskannya.

Kupasan terkait tafsir hadits tersebut dan hadis lainnya terkait puasa Ramadhan dibahas secara lengkap dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib” jilid II, halaman 94. Dan, salah satu tafsirnya itu menyiratkan, bahwa melaksanakan ibadah Ramadhan yang sempurna. Pagi puasa sampai waktu berbuka puasa dan Tarawih dan Tadarus pada 10 hari kedua, membuka peluang seorang muslim untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akherat lewat doa yang dipanjatkan. Ini karena pada hari hari tersebut Alloh memberi kenikmatan dikabulkannya doa hambaNya. Waktu terkabulnya doa yang paling mustajab ada di bulan ramadhan.

Tafsir itu selaras dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, “Siapa yang menghidupkan bulan Ramadhan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt. maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

Karena itu, hendaknya kaum muslim melewatkan 10 hari kedua Ramadhan yang penuh ampunan seperti yang dijanjikan Alloh. Pada waktu-waktu inilah saat yang paling tepat untuk memperbanyak doa dan dzikir. Memohon ampunan Alloh atas segala dosa-dosa, yang telah kita lakukan di masa lalu agar diampuni dan dibebaskan dari hukuman. Dengan memohon ampunan dengan tulus dan bersungguh-sungguh serta bertobat dari hati yang terdalam Insya Allah pasti mendapatkan ampunan-Nya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here