Anak-anak memakai masker saat bersekolah untuk mencegah menghirup kabut asap karhutla.

bongkah.id – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat semakin mengkhawatirkan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh wilayah terdampak karhutla selama periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Sebanyak 75.172 kasus di antaranya dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

ads

Angka tersebut menunjukkan peningkatan kasus dalam beberapa pekan terakhir. Pada 13 Oktober 2026, detikHealth melaporkan Kemenkes mencatat 283.270 kasus ISPA, termasuk 63.711 kasus pada anak usia 0–5 tahun.

Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan menjadi dua provinsi dengan kasus terbanyak, masing-masing 74.636 dan 74.458 kasus.

Sebelumnya, Catrawarta pada 24 September 2026 memberitakan 174.694 kasus ISPA hingga 21 September, termasuk 40.363 kasus pada balita.

Perbandingan data tersebut memperlihatkan kenaikan jumlah kasus yang tercatat selama periode pelaporan. Namun, angka-angka itu merupakan data kumulatif dengan tanggal batas pendataan berbeda.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, menyampaikan perkembangan terbaru dalam konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai perkembangan bencana di Indonesia, Kamis (22/10/2026).

Dari total 333.470 kasus ISPA tersebut, sebanyak 258.298 kasus dialami kelompok usia di atas lima tahun. Sementara itu, jumlah kasus harian mencapai 4.522.

Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

Ancaman kesehatan tersebut terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah masih masuk kategori berbahaya.

Kota Palangka Raya mencatat indeks tertinggi, mencapai 1.297. Berikutnya Kabupaten Murung Raya dengan indeks 722 dan Kabupaten Barito Selatan sebesar 555.

“Di Kalimantan Tengah, kondisi saat ini ada tujuh kabupaten/kota yang kategorinya berbahaya,” kata Suyanti.

Di Sumatra Selatan, tiga daerah yang dilaporkan masuk kategori berbahaya adalah Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Indeks pencemaran udara di Palembang mencapai 552.

Sementara di Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tebo juga dilaporkan mengalami kualitas udara berbahaya. Dalam paparan tersebut, indeks Kabupaten Tebo tercatat mencapai 341.

Balita Menjadi Kelompok Rentan

Suyanti menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5 serta berbagai polutan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Paparan asap berisiko memicu gangguan pernapasan, masalah pada mata dan kulit, hingga dampak sistemik terhadap tubuh.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

“Karhutla tentunya mengandung partikel halus, yaitu PM2,5, yang terdiri atas karbon monoksida maupun nitrogen dioksida dan senyawa organik lainnya yang tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan,” tegasnya.

Lonjakan kasus ISPA dan meluasnya wilayah dengan kualitas udara berbahaya memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan hutan dan lahan.

Kesehatan masyarakat, khususnya balita, turut menjadi perhatian penting dalam penanganan bencana selama karhutla berlangsung.

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini