Mengenang Nasirun, pelukis asal Cilacap yang dikenal melalui kemurahan hati, kecintaan pada tradisi wayang, dan kemampuannya mengolah budaya lokal menjadi bahasa seni rupa kontemporer Indonesia.

bongkah.id – Ketika seorang seniman meninggal, yang biasanya dibicarakan adalah karya yang ditinggalkan: lukisan, pameran, penghargaan, atau pengaruhnya terhadap perkembangan seni rupa. Tetapi Nasirun meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur. Kematian pelukis Yogyakarta ini meninggalkan lebih dari sekadar lukisan dan karya-karya yang pernah ia pamerkan.

Ada jejak pemikiran, keberanian mengolah tradisi, dan cara pandang terhadap kebudayaan yang tak selesai bersama kepergiannya. Melalui karya-karyanya, Nasirun menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku di masa lalu, melainkan sumber daya kreatif yang terus bisa digali, dipertanyakan, dan ditafsirkan ulang.

ads

Kini, ketika sosoknya telah tiada, pertanyaan yang tersisa bukan hanya bagaimana mengenang karya-karyanya, tetapi juga bagaimana membaca warisan artistik yang ia tinggalkan bagi seni rupa Indonesia.

Ada seniman yang dikenang karena karya-karyanya. Ada pula seniman yang dikenang karena kehidupan yang dibangunnya bersama orang lain. Nasirun berada di antara keduanya. Lukisan-lukisannya penting, tetapi bagi sahabat dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya, keberadaan Nasirun sebagai manusia justru menjadi bagian tak terpisahkan dari kebesarannya.

Pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, yang meninggal 1 Agustus 2026 itu dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan, terbuka, dan tidak terlalu peduli pada batas-batas sosial. Rumahnya di kompleks Bayeman Indah, Yogyakarta, menjadi tempat berjumpanya seniman, pekerja, tetangga, kolektor, dan berbagai kalangan lain.

Dalam diskusi “Mewicarakan Nasirun” di Balai Budaya, Sabtu sore (17/10/2026), kisah tentang manusia Nasirun justru menjadi pintu masuk untuk memahami karya dan warisannya. Jumaldi Alfi, Ugo Untoro, dan peneliti budaya Sarah Monica berbicara tentang Nasirun, sementara Nirwan Dewanto memandu percakapan yang akhirnya bergerak jauh melampaui soal lukisan.

Jumaldi Alfi mengaku masih sulit menerima kepergian Nasirun. Ia bahkan mengatakan lelah membicarakan Nasirun, bukan karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan, melainkan karena terlalu banyak hal yang sulit diringkas.

Ketika sedang mengalami kebuntuan dalam melukis, Jumaldi biasa datang menemui Nasirun. Mereka tidak harus membicarakan seni. Percakapan bisa berangkat dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Namun justru dari percakapan sederhana itulah Jumaldi mendapatkan energi.

Nasirun, menurutnya, memiliki kemampuan mengubah kegelisahan menjadi tenaga. Hinaan dapat diubah menjadi motivasi. Kegagalan tidak selalu harus dijawab dengan perlawanan, terkadang cukup dengan terus berjalan.

“Nasirunan” pada akhirnya bukan sekadar istilah untuk mengenang seorang seniman. Ia merujuk pada semangat saling menolong yang tumbuh dari cara Nasirun menjalani kehidupan. Jumaldi melihat semangat itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Sebab Nasirun memang tidak membangun dirinya sendirian. Ia membangun jaringan manusia di sekelilingnya.

“Nyah Nyoh” sebagai Cara Hidup

Jumaldi menyebut Nasirun sebagai orang yang sangat “nyah nyoh”—istilah yang menggambarkan kemurahan hati dan kebiasaan berbagi. Benda-benda kecil karya Nasirun, seperti peci atau gantungan kunci, mudah berpindah tangan. Ia tidak selalu memandang benda sebagai sesuatu yang harus disimpan untuk kepentingan ekonomi.

Karya-karyanya sendiri memiliki pasar yang kuat dan relatif liquid, mudah laku. Namun nilai ekonominya tidak mengubah kebiasaannya berbagi. Yang lebih menarik adalah bagaimana kemurahan hati itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nasirun pernah menampung dan menghidupi 14 tukang di rumahnya. Ia tidak semata-mata mengharapkan imbalan. Yang diharapkan justru doa dari keluarga para pekerja tersebut. Di titik ini, seni Nasirun tampak tidak lagi hanya berada di dalam galeri. Ia berada di rumah, di antara para pekerja, di tengah tetangga, dalam percakapan sehari-hari, dan dalam hubungan antarmanusia.

Mungkin karena itulah Ugo Untoro melihat Nasirun sebagai sosok yang mampu merangkul berbagai lapisan sosial tanpa memandang status formal. Dia adalah seniman “Ndeso” yang tidak memainkan citra. Nasirun memang dikenal dengan citra “ndeso”-nya. Ia tidak memegang HP, tidak bisa menyetir, dan jauh dari teknologi.

Tetapi menurut Ugo, semua itu bukan strategi branding. Nasirun memang demikian adanya.

Ia berasal dari desa terpencil di Cilacap dan tumbuh sebagai keturunan keluarga kiai. Jalan menuju pendidikan seni di Yogyakarta ditempuh dengan tekad dan kemandirian. Ketika lukisan belum memberikan penghasilan yang cukup, ia bahkan mendirikan usaha batik dengan enam pegawai. Latar sosial tersebut kemudian menjadi bagian dari cara Nasirun berhubungan dengan orang lain.

Ugo yang mengenalnya sebagai kakak kelas di ISI Yogyakarta juga melihat pengaruh kuat kultur Ngapak dalam diri Nasirun. Budaya itu egaliter, terbuka, dan cenderung langsung.

Karakter tersebut bertemu dengan kecintaan Nasirun terhadap wayang. Figur Bawor, tokoh Punakawan Banyumas yang dikenal kritis dan egaliter, menjadi salah satu cermin yang menurut Ugo dekat dengan kepribadian Nasirun.

Dengan demikian, “ndeso” pada Nasirun bukan posisi yang harus ditinggalkan ketika memasuki dunia seni kontemporer. Justru identitas itulah yang dibawanya masuk ke dalam medan seni rupa.

Dari Tradisi Menjadi Bahasa Kontemporer

Sarah Monica membaca Nasirun dari sisi yang berbeda. Menurutnya, Nasirun merupakan sebuah paradoks: berangkat dari tradisi, tetapi mampu mentransformasikannya menjadi bahasa kontemporer.

Kunci memahami karya Nasirun, kata Sarah, tidak cukup hanya dengan melihat apa yang tampak di permukaan. Orang harus mengikuti pola pikir dan pengetahuan yang berada di belakang karya tersebut. Masa lalu menjadi sumber penting bagi Nasirun. Dari ibunya ia mengenal dongeng dan tradisi Sunda Wiwitan. Dari ayahnya, ia mengenal ajaran Tarekat Naqsyabandiyah.

Kecintaannya kepada wayang bahkan telah tumbuh sejak kecil. Ia gemar berlakon menjadi dalang dan pernah diundang tetangga untuk mendalang dalam berbagai acara. Tetapi masa lalu tidak pernah menjadi tujuan akhir. Nasirun justru menggunakannya untuk membaca dunia sekarang.

Dalam karya “Larut dalam Warna”, misalnya, pergolakan politik di antara tiga partai besar dan tersingkirnya partai kecil hadir melalui metafora visual. Tradisi dan pengetahuan pewayangan menjadi perangkat untuk membaca kekacauan politik modern. Di sinilah kekuatan Nasirun: ia tidak membawa masa lalu untuk bernostalgia, tetapi untuk mempertanyakan masa kini.

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini