PEMKOT Surabaya siap resmikan PLTSa di Benowo. Hasil listrik dari PLTSa itu, akan memberikan pemasukan daerah non pajak untuk Pemkot Surabaya.
bongkah.id – PEMKOT Surabaya Sebentar lagi memiliki sumber pemasukan non pajak baru. Pemasukan dari hasil penjualan tenaga listrik dari sampah di Benowo. Jumlah tenaga listrik yang akan dibeli PLN sebesar 9 Megawatt per hari. Target waktunya paling lambat per awal tahun 2021.

Potensi Pemkot Surabaya mendapatkan pemasukan baru dari penjualan tenaga listrik itu, karena pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Kota Surabaya, Jawa Timur, telah siap diresmikan dalam waktu dekat. PLTSa ini mampu menghasilkan listrik 12 Megawatt. Melalui pengolahan sampah 1.000 ton per hari.

“PLTSa terbesar dan pertama di Indonesia ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT Sumber Organik (SO).  Menggunakan teknologi Gasifikasi Power Plant,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Rabu (12/8/2020).

Risma mengatakan, saat ini pembangunan fisik PLTSa Benowo mencapai 100 persen. Tinggal menunggu datangnya ahli dari China. Untuk memantau tahapan commissioning atau pengujian. Melakukan pengecekan, apakah sistem itu sudah berjalan dengan baik.

“Jika PLTSa ini resmi beroperasi, maka sampah di Surabaya dapat berkurang 1.000 ton per hari. Sampah itu akan menghasilkan pemasukan non pajak ke kas daerah,” ujarnya.

Ahli dari China tersebut, dikatakan, sebenarnya datang pada Februari lalu. Namun, tertunda. Akibat pandemi Covid-19 di dunia.

Setelah pandemi Covid-19 meredah di negaranya, rencananya ahli tersebut berangkat dari Beijing, China, ke Surabaya pada 18 Agustus mendatang. Saat masuk Kota Surabaya, ahli tersebut tidak ada perlakuan khusus. Protokol kesehatan terhadap pendatang dari negara asing, tetap wajib dipatuhi.

Saat PLTSa itu sudah beroperasi, diakui, dari 12 Megawatt listrik yang dihasilkan akan dijual kepada PLN sebesar 9 Megawatt. Sementara 2 Megawatt dikonsumsi sendiri. Untuk kebutuhan operasional PLTSa. Sisanya yang 1 Megawatt untuk redundant.

“Jadi, 2 Megawatt untuk operasional PLTSa. Listriknya mereka gunakan sendiri, kan mereka juga butuh operasional. Sisanya yang 9 Megawatt  dijual ke PLN. Sisa 1 Megawatt untuk redundant,” ujarnya.

Dalam mengoperasikan PLTSa tersebut, menurut dia, Pemkot Surabaya bakal dibantu Pemerintah Pusat. Untuk tipping fee (biaya pengolahan) sampah. Jumlahnya sekitar 30 persen dari anggaran yang dibutuhkan.

Kepastian bantuan Pemerintah Pusat, diakui, diterima langsung dari Presiden Jokowi. Yang ditemui saat menyampaikan kesiapan operasional PLTSa Benowo tersebut.

“Alhamdulillah kita akan dibantu Pemerintah Pusat untuk tipping fee. Jadi kemarin kita sampaikan ke Pak Presiden. Kita akan dibantu 30 persen,” katanya.

Pada tempat yang sama, Deputy General Manager Business Unit PT Sumber Organik (SO) Hari Sunjayana mengatakan, proses gasifikasi sampah di PLTSa Benowo kapasitasnya mencapai 1.000 ton per hari. Dari kapasitas itu akan diolah menjadi energi listrik sekitar 12 Megawatt. Hasil listrik sekitar 9 Megawatt akan dijual ke PLN.

“Sedangkan kapasitas pembangkit kami itu 12 megawatt. Kita internal consumption artinya dipakai sendiri itu 2 megawatt,” kata Hari.

Ia menyatakan, saat ini PT SO sudah mulai melakukan tahapan persiapan commissioning (pengujian). Rencananya, pertengahan bulan Agustus ini, tim ahli dari China akan datang ke Surabaya. Memantau pengujian PLTSa di Benowo tersebut. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here