Dr. Jarmani, dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

bongkah.id – Ketika algoritma digital mendominasi, Dr. Jarmani, dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) mengingatkan pentingnya menghidupkan lagu nasional di lingkungan kampus sebagai sarana membangun karakter, identitas, dan nasionalisme generasi muda.

Di tengah derasnya arus media sosial dan platform digital yang membentuk kebiasaan generasi muda, lagu-lagu nasional perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa.

ads

Fenomena tersebut dinilai bukan sekadar perubahan selera musik, melainkan gejala melemahnya proses pewarisan nilai kebangsaan yang selama ini tumbuh melalui simbol-simbol budaya.

Karena itu, perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar untuk menghidupkan kembali lagu nasional sebagai bagian dari budaya akademik.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd. yang juga komponis, peneliti seni budaya, sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Surabaya Bidang Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.

Menurutnya, algoritma digital kini menentukan apa yang didengar, ditonton, dan dianggap penting oleh mahasiswa, sehingga lagu-lagu populer dari berbagai negara jauh lebih akrab di telinga mereka dibandingkan lagu-lagu nasional Indonesia.

“Tidak sedikit mahasiswa mampu menghafal lagu yang sedang viral, tetapi kesulitan menyebutkan atau menyanyikan lagu nasional selain Indonesia Raya,” ujarnya.

Jarmani menjelaskan, kondisi tersebut dapat dipahami melalui teori enkulturasi yang dikemukakan Margaret Mead. Menurut teori tersebut, budaya diwariskan melalui pembiasaan yang berlangsung terus-menerus.

Artinya, rasa kebangsaan tidak lahir secara otomatis, melainkan tumbuh karena masyarakat terus bersentuhan dengan simbol-simbol nasional dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengutip pandangan Pierre Bourdieu yang menyebut simbol budaya sebagai cultural capital atau modal budaya. Lagu nasional, katanya, merupakan aset yang membentuk identitas, karakter, sekaligus rasa memiliki terhadap bangsa.

Sementara Benedict Anderson melalui konsep imagined community menjelaskan bahwa bangsa yang besar dapat tetap merasa bersatu karena memiliki simbol bersama, sejarah bersama, dan pengalaman kolektif yang sama.

Di era digital, lanjutnya, tantangan itu semakin besar. Mengacu pada teori hegemoni Antonio Gramsci, algoritma media sosial kini menjadi kekuatan baru yang menguasai ruang budaya.

Algoritma bekerja berdasarkan popularitas dan kepentingan pasar, bukan pada upaya menjaga identitas kebangsaan. Akibatnya, ruang dengar mahasiswa lebih banyak dipenuhi hiburan global dibandingkan karya-karya nasional.

Meski demikian, Jarmani menegaskan kondisi tersebut bukan berarti generasi muda kehilangan rasa cinta tanah air. Yang terjadi adalah semakin sempitnya ruang budaya yang mempertemukan mahasiswa dengan simbol-simbol kebangsaan secara rutin.

Karena itu, Jarmani mengusulkan agar kampus memperdengarkan lagu-lagu nasional setiap pagi sebelum aktivitas akademik dimulai, menetapkan Hari Lagu Nasional setiap pekan, melibatkan unit kegiatan mahasiswa.

Juga perlu membuat aransemen baru lagu perjuangan, mengintegrasikan pembahasannya dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan, serta memanfaatkan media sosial kampus untuk memperkenalkan lagu nasional kepada generasi digital.

Simbol Penting Nasionalisme

Pandangan serupa disampaikan Rudy T. Mintarto dari Komunitas Indonesia Raya 3 Stanza. Menurutnya, lagu kebangsaan memang bukan satu-satunya penentu kuatnya nasionalisme, tetapi menjadi simbol penting yang mampu membangkitkan rasa memiliki terhadap bangsa.

Rudy yang kerap ditunjuk sebagai Duta Indonesia pada even anggrek internasional di berbagai negara mencontohkan Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut memutar lagu kebangsaan setiap pukul 08.00 dan 18.00 di berbagai ruang publik. Saat lagu berkumandang, masyarakat menghentikan aktivitas dan berdiri sebagai bentuk penghormatan.

Singapura juga membiasakan siswa menyanyikan lagu kebangsaan setiap pagi di sekolah, sementara Malaysia dan Tiongkok menjadikannya bagian dari kegiatan resmi kenegaraan maupun pendidikan.

“Tradisi itu terbukti memperkuat identitas nasional dan rasa kebersamaan, meski tetap harus didukung pendidikan karakter, keteladanan pemimpin, serta keadilan sosial,” kata Rudy.

Indonesia sebenarnya pernah memiliki tradisi serupa ketika lagu Indonesia Raya diputar pada pembukaan dan penutupan siaran televisi nasional.

Menghidupkan kembali kebiasaan memperdengarkan lagu nasional di sekolah, kampus, media, maupun ruang publik dinilai dapat menjadi langkah sederhana untuk memperkuat karakter kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi.

Di era ketika algoritma menentukan banyak pilihan hidup generasi muda, lagu nasional bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah pengingat jati diri bangsa yang perlu terus didengar, dipahami, dan dimaknai agar nasionalisme tetap tumbuh bersama perkembangan zaman.

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini